DEMOCRAZY.ID – Isu soal jejak bisnis Luhut Binsar Pandjaitan kembali memanaskan ruang publik.
Nama Luhut, yang saat menjabat di pemerintahan menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh.
Tak pernah jauh dari pembahasan sektor tambang, sawit, hingga energi.
Meski laporan kekayaan resminya dalam LHKPN tercatat sekitar Rp1,04 triliun untuk tahun 2023,
Diskusi mengenai perusahaan-perusahaan yang pernah atau masih terkait dengannya selalu menarik perhatian karena cakupan sektornya yang luas.
Sektor tambang menjadi titik yang paling sering disebut ketika publik membahas jejak bisnis Luhut.
Salah satu nama yang paling dikenal adalah PT Toba Bara Sejahtera Tbk (TOBA), perusahaan batu bara yang lama dikaitkan dengan jaringan bisnis Luhut.
Meskipun telah berkali-kali dinyatakan bahwa dirinya tidak lagi terlibat langsung dalam operasional perusahaan setelah menjabat di pemerintahan.
Nama Toba Bara tetap menempel dalam persepsi publik.
Selain itu, ada PT Kutai Energi, perusahaan tambang batu bara dengan konsesi sekitar 6.932 hektare di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Perusahaan ini tercatat memiliki kapasitas produksi besar dan menjadi salah satu pemain penting di wilayah tersebut.
Data publik mengenai perusahaan ini turut memperkuat persepsi bahwa sektor tambang merupakan “akar” dari jejak bisnis Luhut sebelum masuk ke dunia pemerintahan.
Tak hanya tambang, sektor sawit juga masuk dalam peta bisnis yang dikaitkan dengan Luhut.
Salah satu perusahaan yang sering disebut adalah PT Perkebunan Kaltim Utama I, yang memiliki area lahan lebih dari 8.600 hektare.
Sekitar 2.896 hektare di antaranya tercatat telah ditanami.
Perusahaan ini menjadi bagian dari deretan pengelolaan lahan besar yang turut memperluas persepsi publik mengenai “kerajaan bisnis” Luhut di masa lalu.
Industri sawit memang menjadi magnet tersendiri dalam isu ekonomi Indonesia, dan setiap nama besar yang punya rekam jejak di sektor ini kerap menjadi sorotan.
Tak heran jika keterkaitan Luhut dengan perusahaan sawit semakin mempertebal anggapan bahwa jangkauan bisnisnya tidak hanya bertumpu pada batu bara.
Beberapa tahun terakhir, sektor energi terbarukan dan pengelolaan limbah muncul sebagai bidang baru.
Yang dikaitkan dengan jaringan perusahaan yang pernah berada dalam orbit bisnis keluarga Luhut.
Melalui anak usaha Toba, misalnya, tercatat ada akuisisi perusahaan pengelola limbah asal Singapura, SembEnviro.
Langkah ini menunjukkan pergerakan bisnis menuju sektor energi bersih dan pengelolaan lingkungandua bidang yang sedang naik daun secara global.
Ada pula PT Energi Mineral Langgeng, yang bergerak di sektor minyak dan gas dan memiliki area kerja di Blok Madura Tenggara.
Perusahaan ini melengkapi daftar sektor energi yang dikaitkan dengan jejaring usaha Luhut.
Sektor lain yang juga masuk dalam radar publik adalah properti.
PT Toba Pengembang Sejahtera, misalnya, memiliki lahan strategis sekitar 1,7 hektare di kawasan Mega Kuningan, Jakarta.
Meski tidak sebesar sektor tambang atau sawit, properti tetap menjadi bagian penting dari peta bisnis yang kerap muncul dalam diskusi publik.
Isu soal “kerajaan bisnis” Luhut pada akhirnya memperlihatkan bagaimana publik merespons tokoh yang memiliki rekam jejak panjang.
Di dunia usaha sekaligus memegang jabatan strategis di pemerintahan.
Fakta-fakta perusahaan yang pernah terhubung dengannya menunjukkan luasnya sektor yang pernah digarap, mulai dari tambang hingga energi.
Di sisi lain, data resmi kekayaan tetap menjadi rujukan utama ketika bicara angka yang terverifikasi.
Sumber: PojokSatu