DEMOCRAZY.ID – Pernyataan terkini Presiden AS Donald Trump soal menunda serangan ke fasilitas listrik Iran berkebalikan dengan jargon-jargon kemenangan yang ia gembar-gemborkan sebelumnya.
Alih-alih berhasil dengan cepat menaklukkan Iran, Trump justru terjebak dalam perang yang disebut untuk kepentingan Israel itu.
Sejumlah sasaran perang yang sempat ia sampaikan justru tak tercapai belakangan sementara lebih 1.500 warga Iran termasuk 200 lebih anak-anak syahid; seribu lebih warga Lebanon dibunuh Israel dalam agresinya melawan Hizbullah, sekutu Iran; dan fasilitas energi di seantero Teluk membara melonjakkan biaya energi dunia.
Salah satu alasan menyerang Iran, menurut Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio adalah untuk keamanan Israel, sekutu AS.
Menurutnya, Israel dan AS menyerang lebih dulu karena menduga Iran bakal melancarkan serangan ke entitas Zionis tersebut.
Serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari justru memenuhi sendiri ramalan tersebut.
Belum pernah seharipun sejak itu wilayah Palestina yang dicaplok jadi negara Israel aman dari serangan rudal dan drone Iran.
Belasan warga Israel dilaporkan tewas. Namun, bukan rahasia bahwa pemerintah Israel memberlakukan sensor ketat soal dampak serangan Iran.
Serangan-serangan Iran hanya bocor kabarnya melalui pantauan di Yordania.
Pukulan paling telak dialami Israel saat rudal Iran berhasil membobol pertahanan udara “canggih” Israel di kota nuklir Dimona dan Arad, tetangganya.
Gedung-gedung luluh lantak dan ribuan warga Israel dirumahsakitkan.
Selepas serangan AS-Israel, alih-alih jadi negara aman, warga Israel terus-menerus dikagetkan sirine peringatan serangan rudal dan harus bolak-balik sembunyi ke bunker.
Yang juga tak disangka Israel, Hizbullah yang merupakan sekutu Iran ternyata ikut menyerang Israel, membatalkan gencatan senjata yang tercapai tahun lalu.
Menghadapi serangan itu, Israel kembali memulai operasi militer ke selatan Lebanon yang saat ini sudah menelan nyawa sekitar seribu orang.
Israel juga memulai operasi darat masuk ke wilayah Lebanon, tindakan yang bakal menguras sumber daya manusia dan keuangan negara Zionis tersebut.
Koresponden Aljazirah di Yordania melaporkan, orang-orang di Israel semakin terbiasa dengan rutinitas sehari-hari yang dilatari bunyi sirine.
Mereka harus terus berlari ke tempat perlindungan, melihat rudal masuk, intersepsi, dan kebakaran di sana-sini.
Di bagian utara, hal tersebut terjadi hampir sepanjang waktu. Mereka hampir tidak mendapat kesempatan begitu keluar dari bunker untuk beristirahat sebelum berlari masuk kembali.
Bocoran yang dilansir Reuters, Kurang dari 48 jam sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berhasil memanas-manasi Trump untuk melancarkan serangan karena adanya kesempatan membunuh pemimpin tertinggi iran Ayatullah Khamenei.
Harapannya, warga Iran akan memberontak dan menggulingkan rezim.
Trump sendiri memanas-manasi warga Iran untuk menggulingkan pemerintahan pada hari pertama serangan AS-Israel.
Namun, kemunculan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru telah memperumit narasi tersebut. Seluruh elemen politik di Iran lekas menjatuhkan dukungan untuk putra Ali Khamenei tersebut.
Israel-AS salah perhitungan dengan menganggap pembunuhan Khamenei bisa memicu pemberontakan massa di Iran.
The Telegraph menunjuk pada kebencian mendalam warga Iran terhadap intervensi asing. Ingatan akan kudeta yang didukung AS pada tahun 1953 masih segar, begitu juga dengan Perang Iran-Irak pada tahun 1980-an, yang menurut surat kabar tersebut, mengungkapkan bagaimana agresi eksternal dapat menyatukan sebagian besar masyarakat di belakang pemerintah yang sebelumnya tunduk pada oposisi internal.
Oleh karena itu, surat kabar tersebut berpendapat bahwa Washington dan Tel Aviv salah ketika mereka berasumsi bahwa permusuhan rakyat terhadap rezim saja sudah cukup untuk memicu pemberontakan di bawah pemboman, mengabaikan fakta bahwa perang seringkali mengubah prioritas masyarakat, mendorong mereka untuk mencari perlindungan dari negara alih-alih memberontak terhadap negara.
Kelompok minoritas Kurdi di Iran dan Irak sempat menjadi sorotan sebagai solusi potensial. Presiden AS Donald Trump sendiri yang melontarkan gagasan tersebut pada awal Maret.
“Saya pikir sangat bagus jika mereka ingin melakukan hal itu, saya akan mendukungnya.”
Dia dilaporkan berbicara langsung dengan para pemimpin Kurdi di Irak. Associated Press melaporkan pada 4 Maret bahwa kelompok pemberontak Kurdi Iran yang berbasis di Irak utara sedang mempersiapkan potensi operasi militer lintas batas, dan bahwa AS telah meminta Kurdi Irak untuk mendukung mereka.
Namun Iran lekas melakukan serangan peringatan yang kemudian mengendorkan semangat juang pasukan Kurdi.
Trump mengamini pelemahan ini. “Kami tidak ingin Kurdi masuk,” katanya. “Kami tidak ingin membuat perang menjadi lebih rumit dari kondisi saat ini.”
Dalam keterangan pekan lalu, Trump juga mengakui bahwa oposisi Iran dalam kondisi yang buruk.
Salah satu dampak paling serius dari serangan AS-Israel ke Iran adalah terganggunya pelayaran melalui Selat Hormuz, salah satu rute transit minyak terpenting di dunia. Laporan tersebut mengatakan bahwa tindakan Iran menunjukkan batas kekuatan militer AS.
Perlawanan Iran tersebut menunjukkan bahwa meskipun AS menunjukkan dominasi militer yang besar, tidak semuanya dapat diselesaikan dengan kekerasan. Penutupan selat tersebut menciptakan tantangan operasional besar bagi Angkatan Laut AS.
Pensiunan Kapten Angkatan Laut AS Lawrence Brennan mengatakan kepada CNN bahwa membuka kembali selat itu bisa sangat sulit.
“Anda tidak bisa meraih kemenangan jika Anda tidak bisa menggunakan Selat Hormuz,” kata Brennan, seraya menambahkan bahwa “Selat Hormuz harus dibuka kembali untuk perdagangan internasional dan hal itu sulit bahkan tidak mungkin dilakukan dalam situasi saat ini.”
Dia memperingatkan bahwa perang bisa berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Sementara Trump makin tertekan dengan naiknya harga minyak seiring penutupan Hormuz.
Ia belakangan terpaksa mengiba pada sekutunya di Eropa untuk mengirimkan kapal guna melawan Iran dan membuka akses selat tersebut.
Namun, negara-negara Eropa yang sama sekali tak dimintai pandangan soal serangan ke Iran enggan memenuhi permintaan tersebut.
“Bukan kami yang memulai perang ini “ ujar Menteri Pertahanan Jerman.
Gangguan pelayaran melalui Teluk telah menimbulkan dampak global. Laporan CNN mencatat bahwa serangan terhadap kapal tanker dan penutupan selat telah mendorong harga minyak naik tajam. Biaya asuransi untuk kapal juga meningkat seiring dengan meningkatnya risiko maritim.
Pada saat yang sama, perang telah menimbulkan korban jiwa di kalangan personel AS.
“Hilangnya sebuah pesawat tanker AS di Irak pada hari Kamis yang oleh para pejabat digambarkan sebagai sebuah kecelakaan menggarisbawahi biaya mobilisasi militer massal,” kata laporan itu. Insiden ini terjadi setelah serangan sebelumnya yang menewaskan tujuh anggota militer AS.
Dalam langkah putus asa, Donald Trump pada Ahad mengancam akan mengebom fasilitas listrik Iran bila Selat Hormuz tak dibuka.
Bukannya kecut, Iran mengancam balik serangan untuk fasilitas listrik di seantero negara Teluk lokasi pangkalan AS.
Digertak Iran, Trump mundur dan mengumumkan penundaan serangan pada Senin malam.
Sejauh ini, sekitar 200 tentara AS terluka selama perang melawan Iran termasuk 10 orang “terluka parah”, menurut juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) Kapten Tim Hawkins. Dia mengatakan 180 anggota layanan telah kembali bertugas.
Dilansir Aljazirah, cidera yang diderita tentara AS termasuk luka bakar, cedera otak traumatis, dan luka pecahan peluru.
Para pejabat militer mengatakan banyak dari serangan itu melibatkan drone “satu arah” Iran.
Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengatakan pekan lalu bahwa drone semacam itu bertanggung jawab atas sebagian besar korban jiwa.
Setidaknya 13 tentara AS telah tewas sejak perang Israel-AS melawan Iran dimulai pada 28 Februari.
Pesawat tak berawak Shahed milik Iran – yang dikatakan berharga antara 20.000 hingga 50.000 dolar AS – telah menjadi alat penyeimbang bagi rezim tersebut.
Penggunaannya memaksa AS dan sekutunya untuk merespons dalam beberapa kasus dengan rudal pencegat yang masing-masing berharga jutaan dolar.
Pada pekan pertama perang saja, Teheran menembakkan hampir 2.000 drone ke pangkalan AS dan sasaran sekutu di 12 negara – yang menghantam bandara, hotel bintang lima, dan infrastruktur minyak di seluruh Teluk.
Enam anggota militer AS tewas pada 1 Maret ketika sebuah pesawat tak berawak Iran menghindari pertahanan udara dan menyerang pusat operasi di Kuwait.
“Kami pada dasarnya tidak memiliki kemampuan mengalahkan drone,” kata salah satu sumber kepada CBS News.
Shahed sudah teruji dalam pertempuran sebelum perang Iran pecah. Rusia mengimpor ribuan Shahed dari Iran dan membangun seluruh pabrik untuk memproduksi secara massal versinya sendiri – Geran – menjadikannya teror malam di kota-kota Ukraina.
Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengerahkan salinan mereka sendiri, Waid, dan melancarkan serangan yang melumpuhkan pengiriman Laut Merah selama dua tahun.
Bahkan AS merekayasa ulang versinya sendiri – LUCAS – dan kini membalas Iran dengan drone jiplakan tersebut.
Donald Trump juga menyatakan keterkejutannya soal serangan balasan Iran ke pangkalan dan aset di negara-negara Teluk.
Ini ia sampaikan menyangkal fakta bahwa Iran jauh sebelum serangan AS-Israel sudah memeringatkan bahwa balasan mereka akan menyasar negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS.
“Tidak ada yang menduga hal itu. Kami terkejut. Para pakar terhebat, tidak ada yang mengira mereka akan melakukan itu,” ujar Trump dalam pernyataan terbarunya dari Gedung Putih, Senin (16/3/2026).
“Kuwait terkena dampaknya, Bahrain terkena dampaknya, semua negara terkena dampaknya. Tidak ada pakar yang bisa mengatakan hal ini akan terjadi.”
Komentar Trump itu berkebalikan dengan fakta di lapangan. Sejak AS mulai mengerahkan kapal induk ke Timur Tengah untuk mengancam Iran, negara tersebut sudah mewanti-wanti soal meluasnya perang.
Pada 1 Februari, duta besar Iran untuk PBB mengatakan semua pangkalan dan aset AS di wilayah tersebut akan dianggap sebagai target yang sah jika terjadi serangan.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi juga memperingatkan pihak-pihak terkait bahwa mereka “mengipasi api” potensi perang yang lebih luas.
Negara-negara Teluk juga agaknya paham ancaman Iran bukan isapan jempol. Diplomat mereka terekam melakukan upaya-upaya merayu AS tak melancarkan serangan ke Iran karena khawatir akan meluasnya balasan Iran.
Pada 19 Maret, serangan Israel ke ladang gas Pars milik Iran dibalas dengan serangan rudal balistik Iran ke fasilitas migas di Qatar, Saudi, dan Kuwait.
Eskalasi ini memicu diplomat senior negara-negara Arab dan negara Muslim menggelar pertemuan darurat pekan ini, dibayangi serangan rudal balistik Iran ke fasilitas migas di Qatar, Saudi, dan Kuwait.
Sedemikian dahsyat balasan Iran, Trump mengeluarkan pernyataan bahwa serangan Israel ke ladang gas Pars tak seijin AS.
Hal itu kemudian disangkal pihak Israel yang menyatakan Washington paham soal rencana tersebut. Trump juga kala itu menyatakan telah menegur PM Israel Benjamin Netanyahu dan melarangnya menyerang fasilitas energi Iran.
Dalam sebuah opini yang diterbitkan di The New York Times, penulis Phil Clay berpendapat bahwa kesalahan perhitungan Amerika dalam perang melawan Iran tidak terbatas pada manajemen pertempuran.
Namun juga pada dasarnya soal kurangnya kejelasan mendasar tentang apa yang awalnya ingin dicapai Washington dari perang tersebut.
Penulis mengatakan bahwa pembenaran yang diberikan oleh pemerintahan Trump tampak sangat kontradiktif: terkadang mengenai pergantian rezim, terkadang mengenai program nuklir Iran, terkadang tentang menetralisir kemampuan rudal dan drone, atau melindungi Israel, atau menghadapi ancaman yang akan terjadi, dan bahkan tentang “mencegah perang” melalui apa yang digambarkan sebagai “operasi terbatas”.
Clay percaya bahwa keberagaman ini bukanlah bukti fleksibilitas dalam tujuan, melainkan sebuah ekspresi dari tidak adanya definisi yang koheren mengenai sifat perang itu sendiri, dan apa yang dapat dianggap sebagai kemenangan di dalamnya.
Menurut artikel tersebut, kebingungan ini tidak terbatas pada retorika; namun diperluas ke pemahaman yang lebih dalam tentang makna dan batasan kekuasaan.
Pemerintahan AS, menurut penulis, bertindak seolah-olah serangan militer dapat menggantikan strategi, dan seolah-olah menunjukkan dominasi sudah cukup untuk menghasilkan hasil politik yang stabil.
Clay menambahkan bahwa logika ini melibatkan kesalahan perhitungan yang rumit, karena logika ini mengasumsikan bahwa Iran akan tinggal diam dihantam AS-Israel, dan bahwa masyarakat yang menjadi sasaran akan bertindak sesuai dengan apa yang dibayangkan oleh para perencana di Washington.
Bahwa kekuatan udara, tanpa landasan dan jalur politik yang jelas, tidak akan pernah menghasilkan pergantian rezim yang sukses.
Sumber: Republika