DEMOCRAZY.ID – Iran mengungkap visi mereka menghadapi perang melawan Amerika Serikat (AS) meski Teheran menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah memulai sebuah perang.
Dalam skenario ini, Iran menerapkan lima tahap peperangan dan mendisrupsi ekonomi global.
Dalam sebuah detail rencana perang yang dipublikasikan oleh Tasnim dilansir Telegraph, pada akhir pekan ini, kepemimpinan Iran akan menerapkan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS, front perang baru yang dibuka oleh sekutu di kawasan, perang siber, hingga melumpuhkan jalur perdagangan minyak dunia.
Lewat strategi itu, Iran meyakini faktor geografi Timur Tengah akan menang melawan teknologi Amerika.
Skenario perang Iran dimulai dengan serangan udara dan rudal-rudal AS manergetkan situs-situs nuklir mereka, instalasi militer, dan markas IRGC, yang mana hampir semuanya terletak di kawasan padat penduduk.
Kemungkinan AS akan memulai serangan dari kapal induk termasuk USS Abraham Lincoln yang saat ini berada di kawasan, tim pengebom yang terbang dari AS atau pangkalan militer di Eropa, dan mungkin juga mengirim pesawat yang diterbangkan dari pangkalan militer di negara sekutu di Timur Tengah.
Pentagon diketahui telah merancang serangan seperti itu terhadap Iran lebih dari beberapa dekade dan pernah direalisasikan saat jet-jet tempur AS mengebom situs-situs nuklir Iran pada Juni 2025.
Presiden Donald Trump telah berulang kali menebar ancaman untuk menyerang Iran lagi termasuk saat demonstrasi besar terjadi di Iran pada awal tahun ini.
Berbicara kepada Telegraph, mantan kepala Mi6, Sir Richard Dearlove, mengatakan, “Saya pikir peluang serangan bisa dibilang tinggi, dan alasan peluangnya tinggi karena Israel mendesak Trump untuk melakukannya.”
Paket serangan AS akan termasuk pengiriman jet-jet siluman, munisi berpresisi tinggi dan lontaran rudal terkoordinasi untuk membuat sistem pertahanan udara Iran kewalahan.
Keunggulan teknologi dan senjata hipersonik dan alat elektronik perang membuat AS memiliki keuntungan signifikan.
Namun demikian, Iran menegaskan bahwa mereka sudah mempersiapkan skenario ini lewat pemindahan aset-aset kritis, membangun struktur komando baru, membangun fasilitas bawah tanah yang akan membuat mereka bisa bertahan dari serangan awal AS.
Perhitungan Iran tergantung pada pencegahan kerusakan dampak serangan tapi pada kemampuan melancarkan serangan balik.
“Kami siap untuk aksi apapun dari musuh,” kata Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, saat berkunjung ke kota rudal bawah tanah Iran pada Rabu pekan lalu.
“Setelah perang 12 hari, kami mengganti doktrin militer dari defensif ke ofensif dengan mengadopsi sebuah kebijakan perang asimetris dan respons menghancurkan terhadap musuh,” kata Mousavi.
Respons Iran atas serangan AS akan dengan segera berkembang melebihi batas wilayah mereka. Dalam beberapa jam setelah diserang, Teheran akan melancarkan serangkaian serangan rudal balistik dan drone ke pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Target utama termasuk pangkalan Al-Udeid di Qatar, yang selama ini menjadi markas Pusat Komando AS dan menjadi penghubung utama operasi militer AS di kawasan.
Pada Juni lalu, Iran berhasil mendaratkan rudal balistik mereka di Al-Udeid sebagai respons atas serangan jet B-2 bomber yang dikirim Trump.
Di Kuwait, pangkalan Ali Al Salem adan Kamp Arifjan, sebuah pusat logistik untuk Angkatan Darat AS, akan diserang oleh Iran.
Pangkalan militer AS lain seperti di Uni Emirat Arab (UEA) dan di Suriah di mana sekitar 2.000 prajurit AS berada pastinya juga akan menjadi target.
Juru bicara Angkatan Darat Iran, Amir Akraminia, pernah mengklaim bahwa manargetkan pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah adalah hal “mudah”.
Pada 2020, Iran pernah menghantam pangkalan udara Ain al-Asad di AS sebagai respons atas pembunuhan terhadap Jenderal Qassem Soleimani, yang saat itu mengakibatkan lebih dari 100 tentara AS mengalami cedera otak.
Iran bisa menghantam pangkalan itu lagi meski kali ini sudah dikosongkan oleh AS sejak Januari.
Sebuah laporan dikutip Telegaraf menyebutkan, “Iran tidak melihat dirinya sebagai pulau terisolasi dalam perang, tapi lebih merasa sebagai pusat dari sebuah jaringan konfrontasi potensial.”
Strategi serangan balasan Iran mencakup membuat sistem pertahanan AS kewalahan lewat luncuran rudal-rudal secara simultan untuk mengacaukan Patriot and Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) yang diposisikan AS di beberapa wilayah di Timur Tengah.
Persenjataan Iran yang bisa menjalankan tugas itu termasuk drone Shahed-136 dengan hulu ledak seberat 50 kilogram (kg); rudal balistik Kheibar Shekan dengan 750 kg hulu ledak yang bisa bermanuver; rudal balistik Emad dengan hulu ledak dengan berat 750 kg, dan rudal penjelajah Paveh yang memiliki daya jangkauan hingga 1.600 kilometer.
Saat banyak drone atau rudal akan diintersep AS, Iran meyakini sebagian lainnya akan mampu mencapai target yang bisa mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Belum lagi, sekutu Iran di kawasan pastinya juga akan melancarkan serangan secara simultan.
Hizbullah di Lebanon menyatakan bahwa mereka mempertimbangkan ikut terlibat dalam perang jika Iran diserang dan akan meluncurkan roket dan rudal ke Israel untuk memaksa AS dan sekutunya mengalihkan sumber dayanya.
Pejuang Houthi di Yaman juga akan secara intensif menyerang kapal-kapal di Laut Merah, Israel, dan pangkalan AS di kawasan. Milisi di Irak yang juga bisa menyerang personel dan fasilitas diplomatik di negara itu.
Asumsi bahwa kelompok-kelompok milisi itu akan segera berkoordinasi melancarkan serangan balasan terhadap AS dan Israel disebut sangat memungkinkan.
Terbukanya front-front perang baru akibat keterlibatan para proxy ini akan membatasi kemampuan Washington untuk fokus dalam menyerang Iran.
Iran juga merencanakan melancarkan serangan siber menargetkan apa yang mereka anggap sebagai titik-titik lemah AS yakni, jaringan transportasi, infrastruktur energi, sistem keuangan, dan komunikasi militer.
Teheran percaya bahwa operasi siber bisa mendisrupsi logistik AS, membingungkan pusat kontrol dan komando, dan menciptakan kekacauan di negara-engara sekutu yang menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer AS.
Dengan menyerang infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik atau sistem drainase, Iran berharap bisa memberikan tekanan terhadap negara-negara sekutu AS di Timur Tengah untuk akhirnya mengusir angkatan bersenjata AS keluar dari negara mereka.
Para peretas Iran sebelumnya telah mendemonstrasikan kemampuan mereka melancarkan serangan siber di kawasan. Pada 2012, virus Shamoon berhasil mendisrupsi 30 ribu komputer di perusahan raksasa minyak milik Arab Saudi, Aramco.
Namun, Pusat Komando Siber AS telah bersiap menghadapi skenario serangan siber dari AS itu.
Kemampuan siber AS diketahui masih superior terhadap Iran di mana Pentagon bisa memutus jaringan listrik Iran, mendisrupsi sistem pemandu rudalm dan mengintersep jaringan komunikasi.
Senjata paling ampuh milik Iran diyakini adalah letak geografisnya. Iran saat ini mengontrol Selat Hormuz, selat di mana 21 juta barel minyak melintas setiap harinya, yang adalah seperlima dari kapasistas perdagangan minyak global.
Lebar selat ini hanya 38 kilometer, dan Iran berulang kali menegaskan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menutup Selat Hormuz jika perang pecah.
Taktik menutup selat ini termasuk menebar ranjau, menyerang kapal-kapal tanker dengan rudal dan drone, dan bisa juga dengan menenggelamkan kapal-kapal untuk memblok jalur perdangangan minyak.
Angkatan Laut IRGC telah berlatih taktik ini, menggunakan kapal-kapal kecil bersenjatakan roket dan torpedo, yang didesain untuk membuat kapal besar kewalahan.
Jika Iran menutup Selat Hormuz, diperkirakan harga minyak dunia akan meroket hingga 200 dolar AS per barelnya. Kondisi itu tentunya akan merusak ekonomi dunia hingga menekan AS untuk mundur, menyerah.
Seorang perwakilan dari Ayatollah Ali Khamenei, Hossein Shariatmadari, mengatakan, “Kami bisa menerapkan pembatasan terhadap AS, Prancis dan Jerman di Selat Hormuz dan tidak memperbolehkan mereka bernavigasi di sana.”
Kalkulasi Iran, senjata ekonomi ini akan meretakkan koalisi internasional yang mendukung aksi militer AS.
Aksi kontigensi AS untuk tetap membuat Selat Hormuz beroperasi, termasuk lewat operasi penyapu ranjau, pengawalan terhadap konvoi kapal tanker, dan menyerang instalasi militer di pesisir Iran.
Namun demikian, pasar minyak dunia tetap akan terdisrupsi hebat meski Iran hanya mampu menutup sebagian Selat Hormuz.
Iran yakin, taktik menutup Selat Hormuz akan memaksa Washington kembali ke meja perundingan daripada memperlama perang. Meski demikian, taktik ini juga memunculkan risiko bagi Iran yang pendapatan dari ekspor minyaknya juga pasti akan terganggu.
Strategi perang Iran bersandar pada AS dan sekutunya berkesimpulan bahwa harga dari konflik berkepanjangan akan menambah keuntungan.
Dengan mengancam jalur suplai energi global, menerapkan serangan berlanjut di beberapa negara dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang signifikan di pihak AS, Iran berharap menciptakan sebuah situasi multifront perang.
Perancana Iran yakin, AS memiliki selera terbatas terhadap perang panjang usai pengalaman di Afghanistan dan Irak.
Berperang secara simultan dengan proxy Iran di Lebanon, Yaman, Irak dan kemungkinan Suriah sembari juga mempertahankan negara-negara sekutu di kawasan Teluk dan juga mempertahankan jalur lalu lintas kapal akan sangat menekan sumber daya militer AS.
Iran memandang strategi perang mereka sebagai sebuah pertahanan asimetris. Tidak bisa menang secara militer, tapi mereka percaya itu juga akan membuat kemenangan menjadi sangat mahal bagi Washington untuk dikejar.
Iran menegaskan dalam posisi siap siaga penuh untuk memberikan respons cepat, menentukan, dan akan disesali oleh musuh yang melancarkan ancaman, serangan, atau miskalkulasi.
Dalam pesan yang dikeluarkan pada Sabtu (7/12/2026), Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi menegaskan, upaya perang terhadap Iran akan berakhir pada kegagalan.
Mousavi merujuk pada kondisi sensitif dan kompleks di dalam negeri dan luar negeri belakangan ini, khususnya pascaperang 12 hari melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) pada Juni 2025.
Mousavi mengatakan, semakin membuktikan peran strategis dari Angkatan Udara Iran sebagai alat penangkal (deterrence).
Dia mengatakan, bahwa Angkatan Udara Iran saat ini berada dalam kesiapsiagaan tinggi dan koordinasi penuh dengan matra lainnya di Angkatan Bersenjata Iran.
Militer Iran, kata Mousavi, seiap untuk berkonfrontasi terhadap semua bentuk ancaman dan serangan lewat sebuah respons tegas dan kuat.
Menurut Mousavi, musuh-musuh Iran sadar bahwa petualangan perang mereka terhadap Republik Islam tidak hanya akan berakhir pada kekalahan namun juga akan memperluas konflik dan krisis di seluruh kawasan, dan berakibat pada kerusakan dengan ongkos perbaikan yang sangat mahal nantinya.
Ia menegaskan, Iran tidak akan pernah memulai sebuah perang, namun tidak akan ragu untuk mempertahankan keamanan nasional, kepentingan vital, dan integritas teritorial.
Pada 1 Februari 2026, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran Ayatollah Ali Khamenei muncul memberikan pidato kepada publik di Teheran,.
Dalam pidatonya itu, Khamenei memperingatkan jika Amerika Serikat memulai perang dengan negaranya, ketegangan berpotensi mengalami eskalasi hingga menjadi konflik di tingkat kawasan.
“AS harus tahu kalau mereka memulai perang, kali ini yang akan terjadi adalah sebuah perang regional,” kata Ali Khamenei, sebagaimana dikutip kantor berita Tasnim.
Khamenei muncul dalam perayaan kembalinya pendiri Republik Islam Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini dari pengasingan di Prancis pada 1979 yang berujung pada revolusi Iran yang menggulingkan Mohammad Reza Shah Pahlavi.
Dalam pidatonya, Khamenei mengatakan, AS ingin ‘melahap’ Iran dan kekayaan alam berupa minyak dan gas bumi, sambil menambahkan, apa yang terjadi pada aksi massa antipemerintah sebulan lalu, “sama dengan sebuah kudeta” lantara sejumlah orang serentak menyerang dan merusak gedung pemerintahan, bank, dan masjid.
Sumber: Republika