DEMOCRAZY.ID – Kementerian Pertahanan Meksiko mengonfirmasi tewasnya gembong narkoba paling dicari sekaligus pemimpin Kartel Jalisco New Generation (CJNG), Nemesio Ruben Oseguera Cervantes alias “El Mencho”.
Bos kartel tersebut tewas akibat luka tembak saat dievakuasi ke Mexico City usai terlibat kontak senjata sengit dengan pasukan militer di Tapalpa, Jalisco, pada Minggu (22/2) dini hari waktu setempat.
Insiden ini sontak memicu gelombang kekerasan dan aksi balas dendam dari anggota kartel, memicu pembakaran kendaraan hingga pemblokiran jalan raya di sedikitnya enam negara bagian.
Kekacauan ini bahkan membuat Kota Guadalajara, yang dipersiapkan sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, lumpuh total layaknya kota mati setelah warga diimbau untuk tidak keluar rumah.
“Guadalajara (kota tuan rumah Piala Dunia 2026) terdampak parah, dengan kekhawatiran keamanan meningkat karena stadion Akron akan menggelar pertandingan penting, (Spanyol vs Uruguay Meksiko vs Korea Selatan). Banyak penggemar khawatir akan keselamatan mereka,” tulis keterangan dalam akun X @idextratime, yang dikutip pada, Senin (23/2/2026).
Multiple sources and online discussions are speculating that the individual in question could be Nemesio Rubén Oseguera Cervantes, better known as ‘El Mencho,’ the leader of the Jalisco New Generation Cartel (CJNG). pic.twitter.com/yM9g5h3zZY
— Cartel Watch (@CartelWatchNet) February 23, 2026
La derecha enojadisima por el abatimiento de “El Mencho” y la captura de su hijo, no saben cómo justificar su miserable narrativa ahora se están dedicando a crear confusión con información falsa y rumores pero acá está el video para que les arda el fundillo fachos miserable a… pic.twitter.com/T4yOx6AdhE
— Valy 🎩🎭 (@liderfiscal) February 22, 2026
Perlawanan kartel setelah El Mencho di lumpuhkan
Mexico Chaos pic.twitter.com/N9CprgBqHVBaca Juga— Presiden kopi (@PresidenKopi) February 22, 2026
Merangkum dari peristiwa tersebut, berikut adalah deretan 8 fakta terkait tewasnya El Mencho dan kerusuhan yang terjadi di Mexico.
Kerusuhan ini dipicu secara langsung oleh sebuah operasi militer yang dilancarkan pada waktu fajar oleh pasukan aparat keamanan gabungan Meksiko di wilayah kota Tapalpa, Negara Bagian Jalisco, tepatnya pada hari Minggu dini hari waktu setempat. Di tengah jalannya operasi penyergapan tersebut, terjadilah kontak senjata dan baku tembak yang sangat sengit antara aparat dengan pasukan kartel.
Akibat insiden berdarah itu, Nemesio Oseguera Cervantes alias “El Mencho” (59), yang dikenal sebagai gembong narkoba paling dicari sekaligus pemimpin tertinggi Kartel Jalisco New Generation (CJNG), dilaporkan menderita luka tembak yang sangat parah dan pada akhirnya tidak dapat diselamatkan, dan ia mengembuskan nafas terakhirnya di tengah perjalanan saat pihak berwenang berupaya melakukan evakuasi medis darurat menuju Mexico City.
Sesaat setelah berita mengenai tewasnya sang bos besar El Mencho menyebar luas ke publik, eskalasi kekerasan yang sangat masif langsung pecah dan tak terkendali di berbagai wilayah. Gerombolan pria bersenjata lengkap, yang diyakini kuat merupakan loyalis dan anggota aktif dari Kartel Jalisco New Generation (CJNG), secara terang-terangan turun merangsek ke jalan-jalan kota.
Sebagai bentuk perlawanan frontal dan balasan atas operasi militer aparat, kelompok kriminal ini menciptakan kekacauan anarkis dengan membakar berbagai jenis kendaraan.
Tidak berhenti sampai di situ, mereka juga secara sengaja memblokir sejumlah ruas jalan raya dan jalur akses strategis untuk melumpuhkan mobilitas umum, sekaligus menyebarkan teror yang dirancang sebagai ajang unjuk kekuatan.
Dampak dari insiden mematikan ini rupanya tidak hanya terisolasi atau terkonsentrasi di satu titik lokasi operasi militer di Tapalpa saja. Dalam hitungan waktu yang terbilang sangat singkat, eskalasi kerusuhan yang dipicu oleh kemarahan loyalis kartel menyebar secara masif ke wilayah yang lebih luas, menjangkau sedikitnya enam negara bagian di Meksiko.
Diketahui wilayah-wilayah yang terdampak langsung oleh aksi anarkis berupa blokade jalan raya dan pembakaran kendaraan ini mencakup Negara Bagian Jalisco sebagai episentrum konflik, yang kemudian merambat dengan cepat hingga melumpuhkan Colima, Michoacan, Nayarit, Guanajuato, dan kawasan Tamaulipas.
Kondisi mencekam juga menyelimuti Ibu Kota Negara Bagian Jalisco, yakni Guadalajara. Kota metropolitan yang saat ini tengah sibuk dipersiapkan untuk menjadi salah satu tuan rumah ajang sepak bola bergengsi FIFA World Cup tersebut, secara mendadak berubah menjadi ‘kota mati’ yang lumpuh total dan sepi dari segala aktivitas warganya.
Demi meminimalisir jatuhnya korban jiwa sipil di tengah ancaman nyata dari serangan bersenjata milik kartel, otoritas setempat terpaksa mengambil langkah serius. Seluruh armada layanan transportasi umum dihentikan pengoperasiannya secara total tanpa terkecuali, sementara kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah yang tersebar di sejumlah wilayah juga diinstruksikan untuk diliburkan secara mendadak hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Sebagai langkah antisipasi dan respons cepat terhadap eskalasi kekacauan yang semakin tidak terkendali, Gubernur Jalisco, Pablo Lemus Navarro, secara resmi memberlakukan status darurat keamanan tertinggi berupa peringatan ‘Kode Merah’.
Melalui pengumuman darurat tersebut, ia secara tegas mendesak seluruh lapisan masyarakat untuk tetap berlindung di dalam rumah dan menghindari segala bentuk aktivitas di luar ruangan demi melindungi keselamatan nyawa dari ancaman konflik bersenjata.
Di tingkat nasional, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum turut angkat bicara dengan menyerukan pesan ketenangan kepada publik yang tengah dilanda kepanikan. Kepala negara tersebut juga memberikan jaminan penuh bahwa seluruh elemen aparat keamanan dan militer terus dikerahkan di lapangan untuk mengembalikan ketertiban umum serta menjaga stabilitas.
Kekacauan di darat rupanya merembet dengan cepat hingga melumpuhkan langit Meksiko. Kepulan asap hitam pekat yang membumbung tinggi akibat aksi pembakaran massal kendaraan oleh anggota kartel, ditambah dengan parahnya blokade di berbagai ruas jalan utama, secara langsung memutus akses vital operasional bandara dan transportasi udara.
Merespons risiko keamanan yang sangat tinggi, deretan maskapai penerbangan raksasa yang berbasis di Amerika Serikat seperti United Airlines, American Airlines, Southwest, dan Alaska Airlines, serta maskapai terkemuka asal Kanada yakni Air Canada dan WestJet, mengambil keputusan darurat untuk membatalkan seluruh jadwal penerbangan mereka menuju destinasi sibuk seperti Guadalajara, Puerto Vallarta, dan pesisir Manzanillo.
Puncak ketegangan di sektor penerbangan ini terjadi ketika maskapai Southwest terpaksa mengambil tindakan drastis dengan memutar balik arah sedikitnya empat pesawat komersial mereka yang posisinya sudah terlanjur lepas landas dan mengudara menuju wilayah perbatasan Meksiko.
Menanggapi eskalasi kekerasan dan kerusuhan massal yang melibatkan insiden baku tembak serta ledakan di sejumlah wilayah, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan Pemerintah Kanada secara serentak merilis peringatan perjalanan (travel warning) tingkat tinggi.
Melalui pengumuman tersebut, diinstruksikan secara darurat kepada setiap warga negara dari kedua negara tersebut yang sedang berada di negara bagian Jalisco, Michoacan, Guerrero, Tamaulipas, dan Nuevo Leon, untuk mengamankan diri sesegera mungkin.
Warga diminta untuk terus berlindung di dalam tempat yang aman guna menghindari bahaya, dan instruksi ini akan terus diberlakukan hingga batas waktu yang tidak ditentukan menunggu evaluasi keamanan lebih lanjut.
Menyusul rentetan kerusuhan awal yang baru saja terjadi, sejumlah pakar keamanan internasional bersama dengan para mantan pejabat dari Badan Penegakan Narkoba Amerika Serikat (DEA) telah menyuarakan peringatan yang serius.
Mereka menekankan bahwa eskalasi kekerasan yang melanda berbagai wilayah di Meksiko saat ini memiliki potensi besar untuk menjadi jauh lebih buruk dan meluas. Kekhawatiran ini didasari oleh proyeksi bahwa tewasnya sang pemimpin, El Mencho, tidak akan mengakhiri konflik, melainkan justru akan memicu pecahnya perebutan kekuasaan internal yang sengit.
Persaingan berdarah atau upaya kudeta ini diperkirakan akan melibatkan para bos regional yang saling unjuk kekuatan di dalam struktur CJNG dalam rentang waktu beberapa bulan ke depan.
Sumber: Suara