DEMOCRAZY.ID – Iran dikeroyok Amerika Serikat (AS) dan Israel. Enam hari berjalan, AS-Israel masih belum bisa menaklukkan Iran.
Bahkan AS-Israel terkesan kelimpungan setelah sejumlah aset penting mereka di Timur Tengah porak-poranda oleh rudal dan drone yang dijatuhkan Iran.
Ternyata Iran tidak hanya mengandalkan kekuatan militer langsung tetapi juga menjalankan strategi yang lebih kompleks untuk menghadapi serangan AS-Israel.
Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana, Efata Filomeno Borromeo, menyebut pendekatan Iran dalam konflik saat ini sebagai “strategi cumi-cumi”.
Militer Iran menyebarkan tekanan ke berbagai arah dengan menyerang sejumlah aset penting AS-Israel di Qatar, Bahrain, UEA, dan Arab Saudi seperti pangkalan militer, pusat data hingga kedutaan AS di negara itu.
Perhatian AS-Israel terbelah sehingga memaksa Presiden AS Donald Trump untuk mengevakuasi warga AS di Timur Tengah.
Tujuan Iran jelas untuk membingungkan lawan dan mengurangi dampak serangan langsung.
“Ketika tubuh besarnya sulit bergerak karena dihajar, cumi-cumi biasanya mengeluarkan tinta pekat ke segala arah dan akhirnya membingungkan musuh yang ada,” kata Efata, Rabu (4/3/2026) dikutip dari Kompas.TV.
Menurutnya, analogi tersebut dapat menggambarkan cara Iran merespons tekanan militer AS dan Israel yang dalam beberapa waktu terakhir melancarkan berbagai serangan ke wilayah Iran.
Efata menilai Iran berupaya menyebarkan tekanan ke berbagai titik konflik di kawasan Timur Tengah agar lawannya tidak dapat fokus pada satu medan pertempuran saja.
Strategi ini terlihat dari pola serangan balasan Iran yang menyasar berbagai target di kawasan Teluk serta peningkatan aktivitas militer di sejumlah wilayah yang berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya.
Dengan menyebarkan tekanan tersebut, Iran dinilai mencoba memperluas ruang manuvernya sekaligus menguji ketahanan lawan dalam menghadapi konflik berkepanjangan.
Pakar Strategi Militer, Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati, menilai perang Iran Vs AS-Israel kemungkinan tidak akan berakhir dengan kemenangan militer mutlak, melainkan ketika salah satu pihak tidak lagi mampu menopang logistik perang.
Agung menyebut keputusan AS untuk ikut terlibat dalam serangan terhadap Iran lebih dipengaruhi pertimbangan politik dibanding kalkulasi militer yang matang.
“Itu pernyataan dari orang yang tidak mengikuti nasihat kepala staf angkatan perangnya. Kepala Staf Angkatan Perang Amerika menyebutkan bahwa ini jangan dilanjutkan karena tujuan objektifnya tidak jelas,” kata Agung di KompasTV, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, keputusan AS untuk masuk ke dalam konflik juga terjadi setelah Israel terlebih dahulu melancarkan serangan ke Iran.
Ia merujuk pada pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menyebut Israel sebagai pihak yang memulai serangan sebelum Washington memutuskan untuk ikut terlibat.
“Berarti keputusan itu bukan perhitungan militer, tetapi perhitungan politik,” ujarnya.
Agung menilai konflik antara Iran dan Amerika Serikat kemungkinan tidak akan berakhir dengan kemenangan militer seperti dalam perang konvensional.
Sebaliknya, perang berpotensi berakhir ketika salah satu pihak tidak mampu lagi melanjutkan operasi karena keterbatasan sumber daya.
“Perang ini akan berakhir dengan ada pihak yang mundur sendiri karena tidak sanggup meneruskan,” katanya.
Ia mencontohkan pengalaman sejarah Perang Dunia I ketika Jerman akhirnya mundur bukan semata karena kekalahan di medan tempur, melainkan karena tekanan logistik dan masuknya kekuatan baru dalam konflik.
Menurutnya, dalam peperangan modern terdapat perbedaan penting antara taktik dan strategi.
“Level taktik itu bisa memenangkan pertempuran. Tapi strategi menentukan kemenangan perang,” ujarnya.
Agung juga menyoroti kondisi logistik militer Amerika Serikat yang menurutnya sudah terbebani oleh berbagai konflik sebelumnya, termasuk dukungan persenjataan kepada Ukraina.
Ia menyebut sebagian besar persenjataan Amerika telah digunakan dalam konflik lain sehingga memengaruhi kemampuan Washington untuk mempertahankan operasi militer jangka panjang.
“Tomahawk-nya sudah hampir habis yang digunakan untuk menyerang. Bom pintar juga banyak yang sudah terpakai,” kata Agung.
Ia mempertanyakan seberapa lama Amerika Serikat mampu mempertahankan intensitas operasi militernya jika konflik dengan Iran terus berlangsung.
“Tapi yang paling penting sekarang, kalau mereka bisa menyerang Iran, pertanyaan berapa lama mereka bisa bertahan? Nah, mampu menyerang selama 2 minggu, 3 minggu? Tapi mampukah dia bertahan lewat dari minggu ini? Apakah cukup rudalnya?” ujarnya.
Sumber: Tribun