Candaan “Tak Mau Masuk Gorong-Gorong” Kerja Pakai Otak, Pramono Anung Jadi Sorotan, Sindiran Halus untuk Jokowi?

DEMOCRAZY.ID – Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat kerja bakti di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, pada 8 Februari 2026, mendadak menjadi perbincangan publik.

Dalam kegiatan yang digelar menyusul banjir yang kerap melanda wilayah tersebut, Pramono hadir bersama mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Momen santai dalam kerja bakti itu kemudian ramai diperbincangkan setelah Pramono melontarkan candaan yang dikutip berbagai media nasional.

Hal tersebut turut disoroti pengamat politik Hersubeno Arief melalui kanal YouTube miliknya.

Menurut Hersubeno, peristiwa yang tampak sederhana itu menjadi menarik karena konteks kalimat yang disampaikan Pramono.

Dalam candanya kepada Jusuf Kalla, Pramono mengatakan bahwa dirinya dan JK dibesarkan dalam tradisi teknokrasi sehingga “tidak mau masuk gorong-gorong” dan memilih bekerja menggunakan pikiran serta otak. Candaan itu disambut tawa Jusuf Kalla.

Secara sekilas, ujar Hersubeno, pernyataan tersebut tampak sebagai humor biasa tanpa menyebut nama siapa pun.

Namun dalam konteks politik Indonesia, istilah “gorong-gorong” memiliki asosiasi kuat dengan gaya kepemimpinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang kerap turun langsung ke lapangan, termasuk meninjau saluran air.

“Dalam politik, simbol dan ingatan kolektif sangat kuat. Ketika istilah gorong-gorong disentuh oleh figur yang pernah berada di lingkar kekuasaan Jokowi, candaan itu bisa ditafsirkan sebagai sindiran,” kata Hersubeno, Senin (9/2/2026).

Ia menilai publik menangkap pernyataan tersebut bukan sekadar humor, melainkan memiliki nuansa politik, terlebih karena relasi panjang antara Pramono, Jusuf Kalla, dan Jokowi.

Pramono diketahui pernah menjabat Sekretaris Kabinet selama dua periode pemerintahan Jokowi, sementara Jusuf Kalla merupakan Wakil Presiden pada periode pertama.

Hersubeno juga menyinggung dinamika hubungan antara PDIP—partai tempat Pramono bernaung—dengan Jokowi yang merenggang setelah perbedaan sikap politik menjelang Pilpres 2024.

Menurutnya, kondisi itu membuat setiap pernyataan tokoh PDIP terhadap simbol-simbol yang lekat dengan Jokowi mudah dimaknai sebagai kritik.

Meski demikian, ia mengaku cukup terkejut karena Pramono selama ini dikenal jarang melontarkan sindiran terbuka.

“Disampaikan secara humor, tetapi nadanya terasa keras bagi sebagian orang,” ujarnya.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Pramono Anung terkait penafsiran publik atas candaan tersebut.

Namun perbincangan di ruang publik menunjukkan bahwa simbol kecil dalam politik kerap memunculkan tafsir yang lebih luas daripada sekadar kata-kata.

Sumber: JakartaSatu

Artikel terkait lainnya