DEMOCRAZY.ID – Influencer kripto ternama Timothy Ronald dan rekannya, Kalimasada, dilaporkan ke pihak kepolisian terkait dugaan penipuan investasi kripto oleh peserta Akademi Crypto.
Sebagai informasi, Timothy Ronald dan Kalimasada bersama-sama mendirikan platform edukasi bernama Akademi Crypto dengan harapan bisa membantu banyak orang untuk belajar dan berinvestasi di mata uang digital.
Platform edukasi dengan biaya keanggotaan mulai dari Rp17 juta per tahun ini diikuti oleh sejumlah anak-anak muda dengan rentang usia 18 hingga 27 tahun.
Melalui platform ini, Timothy dan timnya diduga telah merugikan sekitar 3.500 anggota dengan total nilai kerugian ditaksir menyentuh angka Rp200 miliar.
Sebelum laporan ini pecah ke publik, sosok Timothy Ronald sendiri memang sudah lama menjadi sorotan publik melalui beragam kontroversi yang dilakukannya:
Pada pertengahan 2025, Timothy Ronald melontarkan pernyataan kontroversial yang menilai bahwa orang yang suka nge-gym untuk membentuk otot, sebenarnya memiliki ‘otak kosong’.
“Menurut gua orang yang suka nge-gym yang sampai jadi banget badannya itu nggak mungkin sepintar itu karena itu aktivitas paling goblok yang pernah gua temuin, paling goblok,” ucap Timothy Ronald.
Pendapatnya langsung mendapat kritikan dari berbagai pihak, khususnya binaragawan dan dokter spesialis olahraga.
Di salah satu video, Timothy Ronald sempat menyampaikan pernyataan kontroversial yang memancing amarah publik, yakni “orang miskin itu penakut”.
Maksud dan tujuan utama Timothy mengucapkan kalimat tersebut adalah untuk membuka mata dan pikiran semua orang untuk lebih berani dalam mengambil langkah.
Tujuan ucapannya adalah untuk memotivasi orang lain. Tetapi Timothy tidak sadar bahwa masyarakat kelas ekonom bawah sudah hidup di tepi jurang.
Sehingga membuat satu kesalahan kecil saja, hidup mereka rusak. Bukan hanya mereka yang menjadi korban, melainkan keluarga dan orang-orang yang mereka sayangi juga terdampak.
Dalam salah satu konten miliknya, Timothy Ronald sempat mengatakan “lebih baik beli rokok daripada bangun sekolah”.
Konten itu langsung diserbu oleh warganet yang menilai pemikirannya salah karena sekolah atau pendidikan adalah gerbang utama untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Untuk kesekian kalinya, Timothy Ronald ingin menyampaikan kata-kata motivasi, tetapi menggunakan kalimat dan nada yang mengundang amarah publik.
Maksudnya kali ini adalah ingin membuka mata kepada audiensnya bahwa mereka bisa meninggalkan kehidupan susah yang dialami hari ini dengan mengubah mental.
Pernyataan yang disampaikannya sebenarnya benar. Namun kemiskinan sendiri bukan hanya soal mental saja, tetapi adanya ketimpangan akses dan sistem yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang saja.
Pada tahun 2023 silam, Timothy Ronald berbagi tips kepada audiensnya bagaimana cara mengetahui pola pikir dan gaya hidup orang kaya dengan secangkir kopi.
Dalam kontennya, ia berbagi cerita bahwa sebelum menjadi sukses seperti sekarang, ia sering nongkrong di kafe mewah dan membeli secangkir kopi seharga Rp80 ribu hanya untuk mengamati orang kaya, mulai dari cara berbicara, bersikap, dan pola pikir.
Lagi-lagi, tips yang dibagikan olehnya tidak diterima oleh publik, terutama dari kalangan ekonomi kelas bawah.
Sebab menurut mereka, tidak ada orang dari kalangan kelas bawah yang mampu mengeluarkan uang sebesar Rp80 ribu hanya untuk membeli secangkir kopi.
Di luar ucapan-ucapannya yang menuai kontroversi, Timothy Ronald sering membagikan gaya hidup mewahnya dengan memamerkan mobil mahal dan rumah megah miliknya di media sosial.
Tidak ada yang salah dengan konten yang dibuatnya. Namun sejumlah warganet menilainya minim empati, terlebih lagi di kondisi ekonomi yang tidak stabil seperti sekarang.
Timothy Ronald dan rekannya, Kalimasada, membangun Akademi Crypto sebagai tempat untuk berbagi strategi dan “resep” sukses mereka di dunia mata uang digital.
Untuk bisa mendapatkannya, anggota harus mengeluarkan investasi sebesar Rp17 juta untuk bisa mendapatkan konten eksklusif selama satu tahun penuh.
Sayang, ternyata materi edukasi yang diberikannya terlalu standar dan bisa ditemukan secara gratis di internet. Sehingga banyak yang tidak merekomendasikan orang-orang untuk membeli kelas darinya.
Awal tahun 2026, Timothy Ronald bersama rekannya, Kalimasada, dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penipuan investasi kripto.
Kasus yang berkaitan dengan platform Akademi Crypto ini diduga telah merugikan sekitar 3.5000 orang, dengan nilai kerugian yang ditaksir mencapai Rp200 miliar.
Sumber: Inilah