Bukan Gara-Gara Cuaca Saja, Ini Deretan 7 Perusahaan yang Disebut Jadi ‘Dalang’ Banjir Tapanuli!

DEMOCRAZY.ID – Bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang wilayah Tapanuli pada akhir November 2025 kembali memunculkan pertanyaan besar.

Apakah kerusakan ekologis yang sudah berlangsung lama turut memperburuk dampak bencana?

WALHI Sumatera Utara menyatakan tegas bahwa banjir ini bukan hanya hasil dari cuaca ekstrem akibat Siklon Senyar.

Tetapi merupakan bencana ekologis yang diperparah oleh aktivitas sejumlah perusahaan besar yang beroperasi di Ekosistem Batang Toru.

Setidaknya ada tujuh perusahaan yang disebut berada dalam area sensitif tersebut.

Aktivitas mereka mulai dari pertambangan, energi, kehutanan, hingga perkebunan dituding telah mengubah bentang alam, menghilangkan tutupan hutan

Serta melemahkan fungsi ekologis Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru yang menjadi penyangga utama wilayah Tapanuli.

1. PT Agincourt Resources – Tambang Emas Martabe

Perusahaan tambang emas ini disebut WALHI telah membuka sekitar 300 hektare lahan di sekitar DAS Batang Toru.

Dari dokumen rencana ekspansi, luasan pembukaan lahan bahkan dapat meningkat hingga lebih dari 580 hektare.

Efeknya tidak kecil hilangnya penahan air alami, meningkatnya sedimentasi, dan ancaman gangguan kualitas air akibat lokasi fasilitas tailing yang berada dekat sungai.

Dalam kondisi ekstrem seperti hujan lebat, kerusakan ini memperbesar risiko banjir bandang.

2. PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) – PLTA Batang Toru

Proyek PLTA ini telah menghilangkan lebih dari 350 hektare hutan dan memotong 13 kilometer aliran sungai untuk pembangunan terowongan dan fasilitas energi.

Kerusakan topografi, pelemahan struktur tanah, dan perubahan pola aliran air menjadi sorotan para pegiat lingkungan.

Dalam ekosistem yang sensitif seperti Batang Toru, perubahan ini memicu ketidakseimbangan hidrologis yang berdampak besar bagi daerah di hilir.

3. PT Pahae Julu Micro-Hydro Power – PLTMH Pahae Julu

Meski skala proyek lebih kecil, pembukaan vegetasi di kawasan Pahae Julu tetap memberi dampak signifikan. Daerah ini merupakan wilayah lereng dengan risiko longsor tinggi.

Pembukaan lahan untuk akses dan fasilitas mikro-hidro membuat tanah mudah tererosi, terutama pada musim hujan.

Efeknya semakin terasa ketika curah hujan ekstrem turun secara bersamaan di kawasan hulu.

4. PT SOL Geothermal Indonesia – Energi Panas Bumi

Eksplorasi panas bumi di Tapanuli Utara dianggap ikut menambah tekanan ekologis.

Pembangunan jalan, pengeboran, dan pembukaan area eksplorasi menghilangkan vegetasi yang seharusnya berfungsi menstabilkan tanah.

Ketika hujan ekstrem hadir, daerah yang sudah terganggu struktur tanahnya menjadi salah satu titik longsor.

5. PT Toba Pulp Lestari (TPL) – Hutan Tanaman Industri

TPL telah lama dikritik atas konversi hutan alam menjadi perkebunan kayu.

Tanaman industri seperti eucalyptus memiliki daya serap air jauh lebih rendah dibanding hutan alami.

Akibatnya, tanah di wilayah tersebut rentan kering pada musim kemarau dan rentan longsor saat musim hujan.

Hilangnya fungsi penyangga inilah yang dianggap memperparah arus limpasan air saat banjir bandang melanda.

6. PT Sago Nauli Plantation – Perkebunan Sawit Tapanuli Tengah

Perkebunan sawit menjadi salah satu penyumbang perubahan besar pada tutupan lahan.

Pembukaan hutan untuk sawit membuat tanah semakin tidak stabil. Selain menghilangkan pohon pelindung, sawit juga menyedot banyak air tanah.

Kombinasi ini membuat limpasan hujan meningkat saat curah hujan tinggi.

7. PTPN III Batang Toru Estate – Perkebunan Sawit di Tapanuli Selatan

Sebagai perusahaan milik negara, PTPN III juga masuk dalam daftar WALHI karena ekspansinya di kawasan Batang Toru.

Perubahan fungsi lahan dari hutan menjadi perkebunan industri menghilangkan vegetasi penyerap air dan memperbesar potensi longsor.

Ketika hujan ekstrem datang, tanah menjadi jenuh air dan mudah runtuh.

WALHI menegaskan bahwa bencana di Tapanuli tidak bisa dipisahkan dari kerusakan ekologis yang terjadi bertahun-tahun.

Ketujuh perusahaan tersebut beroperasi di wilayah yang sama, saling bertumpuk di dalam satu ekosistem penting.

Kerusakan yang mereka timbulkan bersifat kumulatif hutan menyusut, tanah kehilangan daya serap, dan aliran sungai berubah.

Ketika Siklon Senyar membawa curah hujan ekstrem, sistem alam yang telah rusak tidak lagi mampu meredam tekanan air.

Hasilnya adalah banjir bandang dan longsor yang memakan korban jiwa serta merusak ribuan rumah.

Sumber: PojokSatu

Artikel terkait lainnya