Budi Arie dan PROJO Ikut Nikmati Hasil Korupsi Whoosh?

Budi Arie dan PROJO Ikut Nikmati Hasil Korupsi Whoosh

Oleh: Faisal Lohy | Pemerhati Kebijakan Publik

BENAR sekali apa yang dikatakan Ketum Projo, Budi Arie.kereta cepat karya terbaik Jokowi.

Karya terbaik yang digagas Jokowi dan Luhut untuk memperoleh manfaat pribadi lewat dugaan korup dan mark-up.

Boleh jadi, hasil dugaan perampokan dan mark up juga mengalir dan dinikmati Budie Arie selaku loyalis dan menteri yang selalu setia menjilat-jilat Jokowi dan Luhut sejak proyek Whoosh digagas, dikampanyekan, dikerjakan, finishing hingga bermasalah.

Motivasi kerja relawan adalah uang, nasi bungkus, imbalan komisaris, stafsus, bahkan menteri.

Dengan pengaruh dan dukungannya yang besar, jasa Budi Arie dibalas jabatan menteri.

Jabatan menteri saja diperoleh, apalagi cuma uang dan nasi bungkus.

Boleh jadi, Budi Arie dan gerombolan Projo juga ikut menerima manfaat dari hasil dugaan korupsi dan mark-up. Kalau tidak menerima manfaat, mustahil terus berkoar-koar.

Kalimat Whoosh adalah karya terbaik Jokowi, sangat-sangat benar. Karya terbaik bagi Jokowi, Luhut dan kroninya merampok dan meninggalkan beban besar yang merugikan seluruh rakyat, aset negara dan membangkrutkan BUMN.

Saat yang sama, mereka menikmati manfaat, memberi peluang kepada Cina mengambil benefit ekonomis lewat impor bahan baku dan tenaga kerja, mengambil untung lewat pembayaran bunga utang 50 tahun yang kini diperpanjang menjadi 60 tahun lewat proses restrukturisasi utang.

Merugikan negara lewat risiko liabilitas kontinjensi dimana utang akan ditanggung APBN jika BUMN gagal bayar.

Termasuk penggunaan dividen oleh superholding Danantara yang berarti uang negara lewat kekayaan yang dipisahkan untuk bayar bunga utang.

Kata Whoosh adalah karya terbaik Jokowi memang sangat benar. Karya terbaik yang telah merugikan APBN lewat penyertaan PMN.

Proyek ini tidak murni B to B. Jokowi beberapa kali gunakan APBN ke dalam proyek lewat PT. KAI selaku pimpinan Pilar Sinergi BUMN Indonesia selaku pemegang 60% saham di KCIC.

Pertama, tahun 2021, lewat Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2021, Sri Mulyani suntikan PMN yang diperoleh dari SAL sebesar Rp 6,9 triliun ke PT. KAI. Sekitar Rp 4,3 triliun diperuntukkan untuk “base equity” kereta cepat.

Kedua, melalui Peraturan Pemerintah No. 62 Tahun 2022, kembali disuntikkan Rp 3,2 triliun kepada PT. KAI untuk bayar “cost over run” kereta cepat.

Jadi total APBN yang direncanakan untuk Whoosh mencapai Rp 7,5 triliun.

Hanya saja, belum dapat dipastikan berapa banyak yang benar-benar direalisasikan karena sampai saat ini belum dilakukan audit investigasi.

Jadi sangat benar Budi Arie mengatakan Whoosh karya terbaik Jokowi. Terbaik dalam makna memanipulasi dan merugikan uang negara untuk tanggung “base equity”dan lonjakan “cost over run”.

Termasuk, terbaik dalam merugikan dan membangkrutkan BUMN tanggung beban bunga utang 2% per tahun.

Whoosh juga karya terbaik Jokowi dalam konteks meruntuhkan daya tawar geopolitik Indonesia. Negosiasi restrukturisasi utang, tentu saja memberi hak kepada Tiongkok memperpanjang waktu memanen benefit dari 50 tahun ke 60 tahun.

Proses restrukturisasi tentu saja memberi peluang Tiongkok menjebol lebih dalam kemandirian Indonesia. Tidak ada yang gratis.

Kita semua tahu watak Cina. Utang dan investasi adalah instrumen penjajahan. Apakah Cina akan memberi keringan pembayaran utang tanpa tekanan tertentu? Tanpa mendesak kompensasi? Tentu saja tidak.

Inilah cara halus Cina mendominasi. Membuka jalan untuk menjadi lebih berkuasa dalam menentukan syarat ekonomi atau politik terhadap proyek-proyek berikutnya yang melibatkan modal Tiongkok di Indonesia.

Ini belum menghitung risiko jika terjadi gagal bayar. Inilah momen yang ditunggu Cina untuk memainkan pola seperti yang dilakukan di Sri Lanka, Zimbawe dan Mozambik. Cina mendapat hak pengelolaan pelabuhan dan tambang selama puluhan tahun.

Dengan dampak ekonomi dan risiko geopolitik seperti ini, harusnya Presiden Prabowo bergerak cepat lakukan Audit investigasi proyek terbaik Jokowi ini.

Bukan sekadar audit keuangan, juga audit proposal, audit perencanaan, audit kepatuhan, audit forensik dan audit lender.

Seret para pihak yang terlibat dalam pemufakatan peralihan proyek dari Jepang Ke Cina, para pihak yang terlibat dalam hitungan kebutuhan anggaran pembiayaan yg begitu tinggi, audit para pihak yang terlibat dalam pembengkakan cost over run.

Di Cina harganya hanya US$ 17 juta per Km. Kenapa di Indonesia bisa bengkak hingga US$ 52 juta per Km? Kenapa terjadi peningkatan cost over run US$ 1,78 Miliar?

Total anggaran US$ 7,28 miliar : panjang 142,3 Km=US$ 7,28 miliar. Mahal sekali. Dibanding biaya di Cina US$ 17 juta x Rp 142,3 = US$ 2,149 miliar.

Artinya ada selisih biaya proyek sebesar US$ 7,28 miliar (Indonesia) – US$ 2,149 (Cina) = US$ 4,86 miliar. Inilah besaran selisih yg diartikan sebagai potensi mark up dan korupsi.

Bayangkan potensi mark-up dan korupsi US 4,86 miliar atau 66% dari total biaya proyek. Diluar nalar kemanusiaan. Perampokan yang sangat rakus.

Tidak pengampunan. Siapapun perampoknya, harus diproses hukum dan diganjar konsekuensi pidana seberat-beratnya.

Termasuk tangkap dan pidana Arie Budi yang dalam kaitan ini juga diduga pasti terima hasil uang korupsi dari tuannya Jokowi dan Luhut yang diduga merampok, memanen manfaat besar.

Proyek terbaik Jokowi ini sangat terbaik dari sisi bangsatnya. Benefitnya mereka nikmati beserta kroni korupnya. Bebannya selama 60 tahun ke depan ditanggung seluruh rakyat Indonesia pajak yang ditarik, disuntikkan ke BUMN bayar bunga utang dan penggunaan dividen Danantara.

Artikel terkait lainnya