DEMOCRAZY.ID – Ulama terkemuka asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Zainul Majdi atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB), menyerukan pentingnya memperkokoh ukhuwah islamiyah (persaudaraan Islam) di tengah maraknya narasi pecah belah antarumat beragama.
Secara khusus, TGB menepis berbagai stigma negatif dan hoaks yang kerap dialamatkan kepada kelompok Syiah yang tengah jadi sorotan di tengah perang AS-Israel dan Iran.
Mantan Gubernur NTB dua periode (2008–2018) ini menegaskan, meski terdapat sejumlah perbedaan pandangan, Syiah tetap merupakan saudara seiman dan bagian dari umat Nabi Muhammad SAW.
“Syiah itu memang tidak sama dengan kita. Namun, mereka tetap bagian dari umat Nabi Besar Muhammad SAW. Tetap saudara seagama, seiman, dan se-Islam,” ujar TGB dalam penjelasannya di akun resmi instagramnya, Selasa (3/3).
TGB tidak menampik adanya sekte ekstrem di dalam Syiah, seperti Ghulat Rafidhah atau Ghulat Syiah, yang kerap mengafirkan para sahabat besar nabi seperti Sayyidina Abu Bakar, Umar, hingga Aisyah.
Namun, ia menegaskan bahwa kelompok radikal tersebut hanyalah segelintir kecil dan tidak merepresentasikan pandangan mayoritas kaum Syiah.
Lebih lanjut, TGB mengingatkan bahwa kelompok ekstrem yang gemar menyesatkan orang lain juga menjangkiti golongan di luar Syiah.
“Kita pun ya, di tengah-tengah kita pun banyak kelompok ekstrem seperti ini. Ada namanya Wahabi Takfiri yang kerjanya mengafirkan, memusyrikkan, membidahkan, menganggap orang sesat hanya karena ada pengamalan keagamaan berbeda,” singgungnya.
TGB juga mencontohkan kelompok Ghulatul Hanabilah atau Al-Mujassimah yang meyakini Allah SWT memiliki wujud fisik dan anggota badan layaknya manusia.
Menurutnya, kelompok-kelompok ekstrem inilah yang justru menjadi ancaman karena menyebarkan narasi pecah belah.
Dalam kesempatan tersebut, TGB juga membantah keras isu yang menyebutkan bahwa Syiah memiliki kitab suci Alquran yang berbeda.
Ia membuktikan hal tersebut dari pengalaman pribadinya saat berkunjung ke pusat pendidikan Islam di Kota Qom, Iran.
“Saya salat Subuh (di Qom), saya cek Alqurannya. Saya mau tahu, benar gak Alquran mereka ini beda dengan kita? Ternyata sama. Saya cek juga Alqurannya orang Syiah yang ada di Irak, Lebanon, Yaman, ternyata sama dengan Alquran yang kita baca,” paparnya.
TGB menambahkan, Iran bahkan rutin menggelar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat internasional setiap tahun yang diikuti oleh delegasi dari seluruh dunia Islam, termasuk Indonesia.
Sebagai argumen pamungkas, Ketua Harian Nasional DPP Partai Perindo ini menyoroti pelaksanaan ibadah haji.
Jika kaum Syiah bukan bagian dari Islam, mustahil Pemerintah Arab Saudi mengizinkan mereka menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Faktanya, setiap tahun hampir 100 ribu jemaah haji asal Iran, belum termasuk jemaah dari Irak, Yaman, dan Lebanon, datang ke Makkah untuk beribadah.
“Tawaf dengan tawaf yang sama, bermanasik dengan manasik yang sama, salat dengan kiblat yang sama, membaca Alquran yang sama. Apalagi yang kita perlukan untuk meneguhkan keyakinan pada diri kita bahwa kita ini satu sama lain adalah bersaudara?” pungkas TGB.
Sumber: Inilah