Bocoran Pengamat Tentang 3 Pos Menteri ‘Paling Rawan’ Terkena Reshuffle Awal Tahun 2026!

DEMOCRAZY.ID – Angin perombakan kabinet kembali berhembus kencang dari Istana.

Memasuki awal 2026, evaluasi terhadap kinerja para pembantu Presiden Prabowo Subianto disebut-sebut mulai memasuki fase krusial.

Isu reshuffle kabinet pun menguat, bukan lagi sekadar rumor politik musiman.

Sorotan publik tertuju pada sejumlah kementerian yang memegang program strategis dan langsung bersentuhan dengan rakyat.

Kinerja yang dinilai belum optimal membuat beberapa pos menteri disebut berada di “zona merah” dan berpotensi diganti dalam waktu dekat.

Sinyal Kuat Evaluasi Kinerja Pemerintahan

Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai reshuffle kabinet merupakan langkah wajar dalam dinamika pemerintahan, terutama jika terdapat kementerian yang belum maksimal menjalankan mandat politik presiden.

Menurut Agung, perombakan kabinet berpotensi menyasar kementerian yang dinilai belum optimal dalam menjalankan program prioritas pemerintah.

Evaluasi ini, kata dia, tidak lepas dari tekanan publik serta tuntutan capaian nyata di lapangan.

Deretan Pos yang Rawan Reshufle

Berdasarkan analisis pengamat, setidaknya terdapat tiga klaster utama kementerian yang paling disorot dan disebut berisiko tinggi terkena reshuffle awal 2026.

Kementerian yang mengelola program-program langsung menyentuh masyarakat menjadi sorotan utama. Kualitas dan realisasi program menjadi penentu nasib kursi menteri.

“Menteri-Menteri yang menangani program-program populis, seperti MBG, Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih, Cek Kesehatan Gratis, dan lainnya rentan di reshuffle bila target kualitas program tak terpenuhi,” ujar Agung saat dikonfirmasi, Sabtu (24/1/2026).

Selain itu, tekanan ekonomi menjadi perhatian serius pemerintah.

Daya beli masyarakat, penciptaan lapangan kerja, hingga stabilitas harga bahan pokok menjadi indikator utama kinerja menteri ekonomi.

“Kementerian di bidang ekonomi. Dalam situasi yang menuntut penguatan daya beli, penciptaan dan perluasan lapangan kerja, serta stabilitas harga bahan pokok, sektor ekonomi menjadi perhatian utama publik dan pemerintah,” jelasnya.

Menteri dari kalangan profesional juga tak luput dari evaluasi. Kinerja yang dinilai biasa saja atau tidak maksimal disebut berpotensi memicu perombakan.

“Menteri-menteri yang berasal dari profesional dan kinerja biasa atau malah tak maksimal juga beresiko diganti,” jelas Agung.

Faktor Politik vs Profesional, Siapa yang Lebih Aman?

Selain faktor kinerja, pertimbangan politik juga ikut menentukan arah reshuffle. Agung menilai menteri dari partai politik relatif lebih aman, meski tetap berpotensi mengalami reposisi.

“Menteri-menteri dari partai mungkin terkena reshuffle terbatas alias reposisi dari posisi semula tapi tetap di kabinet,” tandasnya.

Artinya, reshuffle kali ini diprediksi lebih menitikberatkan pada evaluasi performa ketimbang kalkulasi politik semata.

Presiden Prabowo disebut ingin memastikan program prioritas berjalan sesuai target.

Prediksi Waktu Reshuffle

Sepanjang 2025, Presiden Prabowo Subianto tercatat telah melakukan empat kali reshuffle kabinet.

Pola ini memperkuat dugaan bahwa perombakan lanjutan bisa kembali terjadi di awal 2026.

Sejumlah pengamat memprediksi reshuffle berpotensi dilakukan pada momen politik tertentu atau hari-hari yang kerap dipilih presiden untuk mengambil keputusan besar.

Jika evaluasi kinerja dinilai mendesak, bukan tak mungkin reshuffle diumumkan dalam waktu dekat.

Satu hal yang pasti, isu reshuffle kabinet 2026 kini bukan lagi sekadar wacana.

Daftar menteri yang diganti mulai menjadi perbincangan serius, seiring menguatnya sinyal evaluasi dari pusat kekuasaan.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya