DEMOCRAZY.ID – Politikus PDIP, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mengungkap kronologi dirinya bisa menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Joko Widodo (Jokowi) pada tahun 2012 lalu.
Mulanya, Ahok mengaku sempat ingin berhenti menjadi anggota DPR.
Lalu, oleh partai sebelumnya yakni Golkar ditawari untuk mencalonkan diri sebagai cagub atau cawagub Kepulauan Bangka Belitung (Babel).
Namun, dia menolak tawaran tersebut. Kala itu, Ahok berpikiran untuk mencalonkan diri sebagai cagub atau cawagub DKI Jakarta.
Hanya saja, keinginannya itu berujung dipecat oleh Golkar.
Dia mengungkapkan saat itu, Golkar disebut sudah memiliki kandidat yakni Tantowi Yahya dan Azis Syamsuddin.
“Aku mau berhenti ini sebenarnya jadi (anggota) DPR, tapi bagaimana caranya ini, bergumul saya. Kan nggak enak sama rakyat. Terus saya bilang saya mau jadi Gubernur DKI Jakarta.”
“Lalu saya dipecat, kalau ini dipecat (dari Golkar) karena ini kan (cagub atau cawagub DKI Jakarta) kan porsinya Tantowi terus Azis Syamsuddin,” katanya dikutip dari YouTube Mahfud MD Official, Minggu (8/3/2026).
Setelah dipecat, Ahok menyebut Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, menawarinya untuk maju menjadi cagub DKI Jakarta.
Alhasil, dia pun menyambut tawaran dari Prabowo tersebut.
Namun karena kursi Partai Gerindra di DPRD DKI Jakarta tidak cukup untuk mengusung calon sendiri, maka diputuskanlah untuk berkoalisi dengan PDIP.
“Nggak mungkin kan nyalonin saya dong kan (kursi di DPRD DKI Jakarta), tidak cukup,” ujarnya.
Ahok menyebut ketika Gerindra menawarkannya untuk menjadi cawagub DKI Jakarta mendampingi Joko Widodo (Jokowi), mantan Wali Kota Solo itu ternyata sempat tidak mau.
Jokowi, kata Ahok, justru ingin didampingi oleh mantan Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar.
“Kita gandeng PDIP, kamu jadi wakil ya. Ketika mau jadi wakil gak bisa juga. Pak Jokowi maunya Deddy Mizwar,” kata Ahok.
“Dia kalau sama saya kartu mati kan, sudah (keturunan) Chinese, (beragama) Kristen, nggak punya duit, nggak masuk akal,” sambungnya.
Di sisi lain, Ahok mengaku mendengar dari internal PDIP terkait cawagub DKI Jakarta yang akan disandingkan dengan Jokowi.
Dia mengatakan selain Deddy Mizwar, kandidat lain yang dimunculkan yakni Sandiaga Uno.
Pasalnya, menurut hasil dari lembaga survei kala itu, kedua nama tersebut dianggap layak untuk mendampingi Jokowi.
Sementara, Ahok tidak pernah masuk bursa menjadi cawagub DKI Jakarta.
“Kan dua nama ini (Deddy Mizwar dan Sandiaga Uno), kata orang dalam (internal PDIP) saya nggak lihat buktinya ya, jadi ada 12 nama di hasil survei. Dari seluruh 12 nama itu, saya selalu yang paling bawah,” cerita Ahok.
Namun, Ahok mengatakan Jokowi dan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, memiliki pandangan berbeda sebagai cawagub DKI Jakarta ketika itu.
Dia menyebut Jokowi sebenarnya enggan untuk berkontestasi didampingi oleh Sandiaga Uno. Sementara, Megawati tidak ingin Jokowi dicalonkan bersama dengan Deddy Mizwar.
Ahok mengungkapkan Jokowi akhirnya memilihnya sebagai kandidat untuk menjadi cawagub selain Deddy Mizwar dan diajukan ke Megawati.
Dia menduga Jokowi memilih dirinya agar Megawati tidak memiliki pilihan lain selain mencalonkannya bersama dengan Deddy Mizwar.
“Menurut keyakinan saya, Pak Jokowi nggak mau (mencalonkan diri) bersama Sandiaga Uno. Kan kalau tinggal dua nama harus dimasukin ke Bu Mega nih. Pak Jokowi isunya minta nama Sandiaga Uno diganti nama saya yang dari nomor 12 naik-naik terus.”
“Supaya apa? Karena Pak Jokowi, katanya, Bu Megawati nggak mungkin setuju Deddy Mizwar. Kalau Deddy Mizwar dan Sandiaga Uno dimasukin, pasti Ibu akan pilih Sandiaga Uno,” bebernya.
Hanya saja, pilihan Megawati di luar ekspektasi berbagai pihak di mana alih-alih memilih Deddy Mizwar, ia justru mengusung Ahok menjadi cawagub DKI Jakarta mendampingi Jokowi.
Bahkan, kata Ahok, Jokowi sempat syok dengan pilihan Megawati tersebut.
Ia juga mengatakan internal PDIP turut tidak terima akan pilihan dari Megawati.
“Kalau masukin Ahok, kartu mati (Megawati) pasti pilih Deddy Mizwar. Nggak tahu, dari Bali atau bagaimana, pilih Ahok. Sampai Pak Jokowi syok,” tuturnya.
Pilihan Megawati untuk mencalonkan Jokowi-Ahok pada Pilkada DKI Jakarta 2012 berujung manis.
Pasangan tersebut mampu mengalahkan petahana kala itu yakni Fauzi Bowo atau Foke yang berpasangan dengan Nachrowi Ramli alias Nara.
Pada putaran pertama, Jokowi-Ahok unggul dengan raihan 1.847.157 suara atau 42,6 persen suara.
Sementara, Foke-Nara di peringkat kedua dengan raihan 1.476.648 suara atau 34,05 persen.
Lalu, secara berturut-turut, ada pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini di peringkat ketiga yang meraih 508.113 suara atau sebesar 11,72 persen.
Kemudian, disusul di peringkat keempat ada Faisal Basri-Biem Triani Benjamin dengan raihan 215.935 suara atau sebesar 4,98 persen.
Dua posisi terakhir yakni Alex Noerdin-Nono Sampono dengan perolehan suara 202.643 atau 4,67 persen dan Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria dengan raihan 985.990 suara atau 1,98 persen.
Jokowi-Ahok lantas berkontestasi di putaran kedua melawan Foke-Nara.
Adapun Jokowi-Ahok pun menang dengan raihan 2.472.130 suara atau 53,82 persen. Sementara Foke-Nara kalah dengan perolehan suara 2.120.815 suara.
Sumber: Tribun