Bisakah Trump Merebut Minyak Iran? Ini Yang Terjadi Jika Amerika Nekat Melakukannya!

DEMOCRAZY.ID – Saat perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran memasuki bulan kedua, Presiden AS, Donald Trump mengungkapkan sendiri maksudnya melancarkan perang terhadap Teheran.

Jika selama ini Trump berkoar dengan bermacam dalih, mulai dari pro-demokrasi, pelengseran rezim, tindak represif pemerintah Iran, hingga isu nuklir, dalam argumennya seputar perang yang dimulai oleh serangan AS ke Teheran pada 28 Februari 2026 silam, belakangan dia membuka kedok kalau “minyak” adalah alasan utama AS memulai peperangan.

Trump memberi indikasi itu lewat pernyataan yang mengisyaratkan Washington dapat “mengambil minyak” di Iran.

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, yang telah diblokade Iran selama berminggu-minggu, mengganggu aliran energi global.

Pada Senin (30/3/2026), Trump juga mengancam akan menargetkan infrastruktur energi Iran – termasuk sumur minyak – jika Teheran tidak membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut.

Namun, kelayakan dan implikasi dari langkah tersebut masih menjadi perdebatan sengit.

Iran Pemain Utama di Sektor Energi Global

Iran adalah salah satu produsen energi terkaya di dunia dalam hal sumber daya.

Menurut Badan Informasi Energi AS, negara ini memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar ketiga di dunia dan cadangan gas alam terbesar kedua.

Dengan cadangan minyak mentah terbukti sekitar 157 miliar barel, Iran menyumbang sekitar 12 persen dari cadangan global dan hampir seperempat dari cadangan di Timur Tengah.

Negara ini memproduksi sekitar 3,3 juta barel minyak mentah per hari, menjadikannya anggota kunci Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Sebelum konflik saat ini, Iran mengekspor sekitar dua juta barel minyak dan bahan bakar olahan setiap hari.

Namun, ekspor telah berfluktuasi tajam sejak AS memberlakukan kembali sanksi pada tahun 2018 setelah penarikan diri dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), yang awalnya ditandatangani di bawah mantan Presiden AS Barack Obama pada tahun 2015.

Bisakah AS Benar-benar Merebut Minyak Iran?

Terlepas dari retorika Trump, para ahli mengatakan bahwa niat AS “merebut” minyak Iran jauh dari mudah, kalau tak mau dikatakan super-susah. ​​

Laporan menunjukkan Pentagon sedang mempersiapkan operasi darat terbatas, yang berpotensi menargetkan lokasi strategis seperti Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.

Namun, bahkan operasi yang berhasil pun tidak akan memberikan kendali AS atas cadangan minyak Iran.

Ekstraksi minyak bergantung pada infrastruktur yang luas di seluruh daratan Iran, termasuk sumur, pipa, dan kilang.

Untuk benar-benar mengendalikan minyak Iran, AS perlu menduduki sebagian besar wilayah negara itu, sebuah skenario yang akan sama dengan invasi skala penuh, dengan risiko militer, politik, dan ekonomi yang signifikan.

Taruhan Ekonomi dan Dampak Global

Ekonomi Iran sangat bergantung pada sektor energinya.

Pada tahun 2023, PDB negara itu mencapai sekitar $457,5 miliar, dengan pendapatan ekspor minyak bersih diperkirakan sebesar $53 miliar, atau sekitar 12 persen dari output ekonominya.

Jika AS -entah bagaimana caranya- mampu merebut minyak Iran dan mencabut sanksi, hal itu dapat meningkatkan pasokan global dan berpotensi menurunkan harga.

Namun, langkah seperti itu kemungkinan akan memicu reaksi geopolitik yang parah dan ketidakstabilan yang berkepanjangan di kawasan tersebut.

Konflik yang sedang berlangsung telah mengguncang pasar.

Harga minyak mentah Brent acuan melonjak hingga sekitar $116 per barel minggu ini, dibandingkan dengan sekitar $65 sebelum perang dimulai, yang menggarisbawahi sensitivitas harga minyak global terhadap ketegangan di Teluk.

Sejarah yang Penuh Masalah

Ketertarikan AS pada minyak Iran bukanlah hal baru.

Pada tahun 1953, CIA mendukung kudeta yang menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh setelah ia menasionalisasi Anglo-Iranian Oil Company yang dikendalikan Inggris.

Operasi yang dikenal sebagai Operasi Ajax ini memulihkan kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi dan tetap menjadi momen penting dalam hubungan Iran yang tegang dengan Barat.

Saat ini, komentar Trump berisiko membuka kembali luka lama dan menimbulkan pertanyaan baru tentang apakah kekuatan militer dapat diterjemahkan menjadi kendali atas salah satu sumber daya paling strategis di dunia.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya