Bisa-Bisanya Donald Trump ‘Nyari Untung’ Dari Penutupan Selat Hormuz

DEMOCRAZY.ID – Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu kekhawatiran bahwa eskalasi militer di Timur Tengah bisa membuat harga minyak melonjak tajam, harga bahan bakar di SPBU ikut naik, bahkan mendorong perlambatan ekonomi global.

Seperti diketahui pada Sabtu lalu, Amerika Serikaat memulai operasi tempur besar di Iran tak lama setelah Israel melancarkan serangan ke Tehran.

Beberapa jam setelah serangan gabungan tersebut.

Garda Revolusi Iran dilaporkan memperingatkan kapal-kapal tanker di Selat Hormuz, dan menyebut tidak ada kapal yang diizinkan melintas di jalur tersebut.

Bahkan Iran mengancam akan membakar kapal-kapal yang mencoba melewati selaat tersebut.

Pemblokiran selat ini berpotensi meningkatkan harga barang dan jasa di seluruh dunia karena kenaikan minyak berdampak pada ekonomi global.

Menyusul dengan hal tersebut, Selasa waktu setempat, presiden AS Donald Trump menawarkan skema asuransi risiko politik serta pengawalan Angkatan Laut bagi kapal-kapal yang melintas di Teluk Persia, di tengah meningkatnya serangan terhadap kapal tanker minyak di sekitar Selat Hormuz.

“Efektif SEGERA, saya telah memerintahkan United States Development Finance Corporation (DFC) untuk menyediakan, dengan harga yang sangat wajar, asuransi risiko politik dan jaminan keamanan finansial bagi SELURUH perdagangan maritim, terutama energi, yang melintasi Teluk,” tulis Trump di platform Truth Social dikutip dari laman Business Insider, Kamis 5 Maret 2026.

Detail lebih lanjut mengenai instruksi tersebut belum diumumkan. Trump juga menyebut Angkatan Laut AS akan memberikan pengawalan bagi kapal tanker jika diperlukan.

Sementara itu, seorang juru bicara Gedung Putih belum memberikan tanggapan saat dimintai komentar terkait pernyataan Trump itu.

Pernyataan jaminan dari Trump muncul di tengah pertempuran di Timur Tengah yang berdampak pada sejumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Pada Minggu, beberapa kapal dilaporkan diserang, termasuk sebuah tanker minyak yang dikenai sanksi oleh AS, menurut Pusat Keamanan Maritim Oman.

Serangan dan ancaman terhadap pengiriman energi itu sudah lebih dulu memicu lonjakan harga minyak.

Harga minyak mentah sempat melonjak lebih dari 12 persen setelah pasar merespons serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran akhir pekan lalu.

Langkah Trump memberikan jaminan keuangan melalui DFC serta kemungkinan pengawalan Angkatan Laut bisa membantu menenangkan pasar dalam jangka pendek.

Kebijakan itu memberi rasa aman bagi kapal-kapal yang melintas di Hormuz, jalur laut strategis bagi pasokan minyak dunia dan berbagai komoditas lainnya.

Selama ini, DFC memang menjual asuransi risiko politik untuk investasi di luar negeri, termasuk perlindungan terhadap penyitaan aset atau kekerasan politik seperti terorisme.

Namun, pengumuman Trump kali ini mengusulkan agar DFC menyediakan asuransi dan jaminan untuk seluruh pengiriman komersial yang melintasi Hormuz dengan harga sangat wajar yang cakupannya jauh lebih luas dibanding perlindungan yang biasanya diberikan lembaga tersebut.

Seberapa Penting Selat Hormuz

Selat Hormuz adalah salah satu jalur perdagangan global terpenting.

Sekitar 20 persen dari seluruh pasokan minyak dan sekitar 20 persen dari kapal tanker gas yang diangkut melalui laut melewati selat ini.

Selat ini terletak di antara Oman dan Iran. Selat ini menghubungkan Teluk di utara dengan Teluk Oman di selatan dan Laut Arab di seberangnya.

Lebarnya 33 km pada titik tersempitnya, dengan jalur pelayaran hanya selebar 3 km di setiap arah.

Lokasi ini menjadikannya titik rawan yang sangat penting untuk pengiriman minyak dari negara-negara OPEC ke pelanggan di Asia.

Pilihan untuk menghindari selat ini sangat terbatas.

Sumber: VIVA

Artikel terkait lainnya