DEMOCRAZY.ID – Meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel yang melibatkan dukungan Amerika Serikat memicu banyak spekulasi di tengah masyarakat.
Sebagian orang bahkan mengaitkannya dengan tanda-tanda akhir zaman.
Dalam sebuah ceramah yang diunggah kanal YouTube Suara Dakwah, Ustaz Adi Hidayat memberikan penjelasan panjang mengenai bagaimana Al-Qur’an memandang konflik dan dinamika sejarah yang melibatkan Bani Israil.
Menurutnya, Al-Qur’an sebenarnya telah menggambarkan pola kerusakan yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia.
Ustaz Adi Hidayat merujuk pada ayat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa Bani Israil akan melakukan kerusakan di muka bumi sebanyak dua kali dalam sejarah.
Ayat tersebut kerap menjadi bahan kajian para ulama tafsir sejak masa klasik hingga kontemporer.
Ia menjelaskan bahwa frasa “latufsidunna fil ardhi marratain” dalam ayat tersebut dipahami para ulama sebagai peringatan bahwa akan ada dua fase besar kerusakan yang dilakukan oleh generasi tertentu dari Bani Israil dalam sejarah dunia.
“Level kerusakannya bukan lokal, tapi global. Para ulama menelusuri sejarahnya, dari tafsir klasik sampai kontemporer,” kata Adi Hidayat dalam ceramah tersebut.
Menurutnya, kerusakan yang dimaksud tidak terjadi begitu saja.
Ia diawali dari kerusakan moral di dalam diri sebuah generasi sebelum kemudian meluas menjadi kerusakan sosial dan politik.
“Tidak mungkin seseorang merusak dunia kalau dirinya tidak rusak lebih dulu,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Ustaz Adi Hidayat menyinggung sejumlah peristiwa sejarah yang sering dibahas dalam literatur tafsir, termasuk konflik yang melibatkan tokoh-tokoh dalam kisah para nabi.
Ia menyebut bahwa dalam catatan sejarah keagamaan, beberapa nabi dari kalangan Bani Israil seperti Nabi Zakaria dan Nabi Yahya mengalami penindasan hingga terbunuh.
Selain itu, ia juga menyinggung kisah pengejaran terhadap Nabi Isa sebelum akhirnya diangkat oleh Allah menurut keyakinan Islam.
Dalam kajian tafsir klasik, kata Adi Hidayat, para ulama sering menghubungkan fase kerusakan tersebut dengan berbagai peristiwa sejarah besar yang menimpa komunitas Bani Israil, termasuk penaklukan oleh kerajaan-kerajaan besar seperti Babilonia hingga kekuasaan Romawi.
Ia menyebut tokoh seperti Nebukadnezar dari Babilonia sebagai salah satu penguasa yang dalam sejarah disebut menghancurkan Yerusalem dan mengakhiri kekuasaan Bani Israil pada masa tertentu.
“Para ulama menyebut beberapa fase kehancuran mereka dalam sejarah, mulai dari masa Jalut, Nebukadnezar dari Babilonia, hingga era Romawi,” jelasnya.
Namun demikian, Adi Hidayat menekankan bahwa Al-Qur’an tidak memerintahkan kebencian terhadap kelompok tertentu.
Menurutnya, kitab suci Islam hanya menjelaskan karakter dan fakta sejarah sebagai pelajaran bagi manusia.
“Al-Qur’an tidak mengajarkan kebencian. Yang disampaikan adalah fakta karakter dan sejarah agar manusia memahami bagaimana bersikap,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa umat Islam diajarkan untuk merespons setiap konflik dengan cara yang elegan dan berlandaskan nilai keadilan, bukan dengan kebencian.
Dalam ceramah tersebut, Adi Hidayat juga menyinggung bagaimana pada masa Muhammad di Madinah berbagai komunitas, termasuk Yahudi dan Nasrani, hidup berdampingan di bawah kesepakatan sosial yang dikenal sebagai Piagam Madinah.
Kesepakatan itu memberi kebebasan kepada masing-masing komunitas untuk menjalankan keyakinan mereka.
Namun, jika terjadi pelanggaran terhadap perjanjian, maka konsekuensi hukum diterapkan sesuai kesepakatan yang telah dibuat.
Menurutnya, sejarah juga mencatat periode panjang ketika wilayah Palestina berada di bawah kekuasaan Islam, mulai dari masa Umar ibn al-Khattab hingga era Salahuddin al-Ayyubi dan kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah.
Pada masa-masa tersebut, berbagai komunitas agama disebut dapat hidup relatif damai.
Di akhir ceramahnya, Adi Hidayat mengingatkan bahwa konflik geopolitik yang terjadi saat ini tidak boleh langsung disimpulkan sebagai tanda pasti akhir zaman.
Ia menegaskan bahwa tugas umat manusia adalah mengambil pelajaran dari sejarah dan memperbaiki diri.
“Yang penting bagi kita bukan berspekulasi tentang akhir zaman, tapi memperbaiki diri dan memahami pelajaran dari sejarah yang Allah sampaikan,” katanya.
Sumber: Herald