DEMOCRAZY.ID – Bukan Itamar Ben-Gvir namanya jika tidak memancing kegaduhan.
Di saat jutaan umat Muslim di seluruh dunia tengah khusyuk menjalani ibadah di hari Jumat pertama bulan suci Ramadan, Menteri Keamanan Nasional Israel yang dikenal beraliran sayap kanan garis keras ini justru melakukan aksi provokasi yang memantik api ketegangan di Yerusalem Timur.
Pada Jumat (20/2/2026), Ben-Gvir dilaporkan menyambangi area sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa.
Langkah ini dilakukan di tengah kebijakan diskriminatif pemerintah Israel yang memperketat akses bagi warga Palestina untuk beribadah di situs suci tersebut.
Rekaman video yang beredar luas memperlihatkan Ben-Gvir masuk melalui Gerbang Maroko dengan pengawalan super ketat.
Tidak tanggung-tanggung, ia didampingi langsung oleh Komisaris Polisi Israel Daniel Levy dan Komandan Polisi Distrik Yerusalem Avshalom Peled.
Di hadapan barisan aparatnya, Ben-Gvir melontarkan pernyataan-pernyataan yang dinilai menyudutkan warga Palestina.
Padahal, Gerbang Maroko—yang terletak di sisi barat bagian selatan dekat Tembok Al-Buraq—merupakan titik sensitif yang telah dikuasai penuh oleh Israel sejak 1967 dan kerap menjadi jalur masuknya pemukim ilegal untuk mengintimidasi jemaah.
Pihak Kegubernuran Yerusalem mengecam keras aksi ini.
Mereka menyebut kehadiran Ben-Gvir sebagai upaya sistematis untuk memperkeruh suasana, terutama ketika warga Palestina sedang menghadapi barikade keamanan yang mencekik.
Meski ditekan dengan berbagai pembatasan administratif dan militer, semangat jemaah Palestina tidak surut.
Departemen Wakaf Islam di Yerusalem mencatat sekitar 80.000 jemaah tetap berhasil menembus penjagaan untuk menunaikan salat Jumat pertama Ramadan di Masjid Al-Aqsa.
Angka ini sebenarnya bisa lebih besar jika militer Israel tidak bertindak represif.
Sejak fajar menyingsing, pos pemeriksaan Qalandia dan Bethlehem telah berubah menjadi titik kemacetan manusia yang penuh intimidasi.
Puluhan warga lanjut usia dilaporkan dipaksa putar balik dengan alasan klise: tidak memiliki izin resmi dari otoritas pendudukan.
Arogansi aparat Israel tidak berhenti pada jemaah. Di pos pemeriksaan Qalandia, empat petugas medis sempat ditahan tanpa alasan yang jelas.
Langkah ini jelas menghambat pelayanan kesehatan darurat bagi para jemaah yang kelelahan atau mengalami gangguan kesehatan akibat antrean panjang.
Para jurnalis yang mencoba meliput realita di lapangan pun tak luput dari gangguan.
Pemeriksaan identitas yang berulang-ulang hingga pengusiran paksa terhadap pemuda Palestina di pintu-pintu Kota Tua menjadi pemandangan yang menyayat hati.
Tindakan Ben-Gvir dan aparatnya di awal Ramadan ini kembali menyalakan alarm bahaya bagi stabilitas kawasan.
Jika provokasi di wilayah sensitif seperti Al-Aqsa terus dibiarkan, kekhawatiran akan terjadinya eskalasi konflik yang lebih luas di tanah pendudukan bukanlah sekadar isapan jempol belaka.
Sumber: Inilah