DEMOCRAZY.ID – Terkait bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, kalangan aktivis lingkungan menyoroti kontribusi industri sawit kakap yang melibas hutan di 3 provinsi itu.
Termasuk Sinarmas Group, kerajaan bisnis yang kini dikendalikan Franky Widjaja, diduga menjadi pengepul sawit yang berasal dari industri perusak lingkungan di Pulau Sumatera.
Dalam laporan terbaru berjudul, ‘Katastrofe Sumatera: Jejak Oligarki di Hulu, DAS, dan Zona Rawan Bencana’, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) serta Aceh Wetland Forum ‘menguliti’ kontribusi Sinarmas Group dalam bencana Sumatera.
Di mana, sebanyak 1.190 nyawa melayang dan 141 orang lainnya masih dinyatakan hilang, per 17 Januari 2026.
“Sinarmas Group melalui Golden Agri Resources (GAR) dan PT SMART, misalnya, tercatat memiliki keterhubungan rantai pasok sawit di Aceh, termasuk wilayah sekitar Kawasan Ekosistem Leuser dan Rawa Singkil. Ini berulang kali dikaitkan dengan deforestasi dan banjir,” papar Koordinator Nasional Jatam, Melky Nahar, Jakarta, Minggu (18/1/2026).
Menurut Mely, keberadaan Golden Agri Gesources (GAR) adalah pilar sawit milik Sinarmas Group.
Saat ini, luasan kebun sawit yang dikelola Sinarmas Group mencapai 500.000 hektare.
“Kebun Sawit milik Sinarmas Group, bertebaran di Pulau Sumatera dan Kalimantan,” imbuhnya.
Selanjutnya, Melky menunjuk, Musim Mas Group yang dikendalikan Bachtiar Karim, beroperasi di Aceh Tamiang, Aceh Singkil, Aceh Timur, dan Subulussalam.
Keempatnya menjadi wilayah yang terdampak banjir terparah di Aceh.
“Tandan buah segar (TBS) yang diproduksi Musim Mas dari kebun yang melibas hutan, diborong Sinarmas Group. Dalam banyak studi, perusahaan sawit ilegal itu, membuka lahan di area Taman Margasatwa Rawa Singkil. Artinya, hutan dikonversi menjadi perkebunan sawit,” tegasnya.
Pandangan senada disampaikan Direktur Aceh Wetland Forum, Yusmadi Yusuf bahwa pihak Sinarmas mengaku tidak memiliki kebun sawit di Aceh.
Akan tetapi, mereka menerima pasokan dari Musim Mas.
Dalam beberapa laporan, Musim Mas lewat anak usahanya, PT Global Sawit Semesta membeli sawit dari Taman Margasatwa Rawa Singkil.
Bisa dipastikan sawitnya ditanam di lahan bekas hutan.
“Akibatnya, Rawa Singkil terus terjadi deforestasi yang dilakukan eks kombatan yang terafiliasi Bupati Aceh Selatan. Selanjutnya tanan buas segar (sawit) itu, dijual ke Sinarmas Group. Artinya, Sinarmas bel sait dari kebung yang dihasilkan dari deforestasi,” ungkapnya.
Dalam laporan kolaboratif Jatam dengan Aceh Wetland Forum ini, mengungkap keterhubungan yang kuat, antara wilayah terdampak banjir dan longsor, dengan konsesi perusahaan yang dimiliki atau terhubung langsung dengan pejabat negara dan elite politik.
Relasi ini, menciptakan konflik kepentingan yang sangat akut, yang menempatkan para pengurus negara berperan ganda, yaitu sebagai regulator sekaligus sebagai pelindung kepentingan bisnis.
Di Sumatera Barat, sejumlah korporasi besar yang tercatat memiliki konsesi atau keterhubungan rantai pasok di Sumatera Barat.
Mulai dari Wilmar Group, Golden Agri Resources (Sinar Mas Group), dan Musim Mas Group.
Aktivitas perusahaan-perusahaan ini, yang mengubah tutupan hutan dan bentang alam secara masif, telah melemahkan sistem hidrologi alami dan meningkatkan kerentanan wilayah terhadap banjir bandang dan longsor.
Sumber: Inilah