DEMOCRAZY.ID – Sebuah video pendek yang beredar di platform YouTube belakangan ini menyita perhatian publik lantaran berisi kritik tajam terhadap segelintir masyarakat di dunia Arab dan Islam.
Kritik tersebut disampaikan oleh cendekiawan muslim asal Irak, Sayyid Ali At-Thaliqani, yang ditujukan kepada pihak-pihak yang secara terang-terangan mendoakan kehancuran Iran dan justru memuji Israel di media sosial.
Video yang diunggah oleh kanal YouTube ‘Aris’ pada 12 Maret 2026 lalu ini mengingatkan kembali tentang esensi persatuan umat Islam dan bahaya mendukung penjajahan.
Dalam pemaparannya, Sayyid Ali At-Thaliqani menyoroti fenomena miris di mana ada sebagian pihak yang mengaku bagian dari umat Arab dan Islam, namun justru mendoakan keburukan bagi sesama negara Muslim di tengah konflik geopolitik yang sedang memanas.
“Ketika Anda menulis dan membela rakyat Muslim Iran dan Republik Islam (Iran), tulisan itu tidak lantas membuat Anda menjadi seorang Syiah.
Tidak akan ada yang mengatakan Anda menjadi Syiah hanya karena Anda membela mereka,” ujar Sayyid Ali At-Thaliqani, merujuk pada sentimen sektarian yang kerap digunakan untuk mendiskreditkan pihak-pihak yang menyuarakan perlawanan terhadap Israel.
Sebaliknya, ulama terkemuka ini memberikan peringatan yang sangat menohok terkait glorifikasi terhadap entitas Zionis yang dilakukan oleh sebagian pengguna media sosial.
“Namun, ketika Anda menulis ‘Netanyahu adalah Sultan Arab’, atau Anda memuji Israel, atau memuji musuh mereka dan entitas yang tidak sah tersebut, maka hal itulah yang menjadikan Anda seorang Zionis,” tegasnya.
Sayyid Ali At-Thaliqani juga memberikan klarifikasi penting bahwa kritiknya ini sama sekali tidak ditujukan kepada kelompok Sunni secara umum.
Ia justru secara khusus memuji para ulama dan mayoritas kaum Sunni yang tidak henti-hentinya mendoakan serta memperjuangkan persatuan umat.
Kecaman kerasnya tersebut secara spesifik dialamatkan kepada oknum-oknum yang kerap melontarkan komentar provokatif di jagat maya, seperti mendoakan kehancuran bagi masyarakat Iran.
Untuk menyadarkan kelompok tersebut, Sayyid Ali At-Thaliqani mengajak mereka untuk merenungkan pertanggungjawaban perbuatan mereka di akhirat kelak.
Ia secara retoris mempertanyakan alasan apa yang akan mereka berikan ketika berhadapan langsung dengan Nabi Muhammad SAW.
“Jika di Hari Kiamat nanti Anda berdiri di hadapan Rasulullah SAW, dan beliau bertanya, ‘Bukankah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?’ lalu Anda menjawab ‘Ya’.
Kemudian beliau bertanya lagi, ‘Lalu mengapa kamu membela entitas yang telah merampas tanah Arab dan umat Islam ini?’.
Apa yang akan Anda katakan? Siapkanlah jawaban Anda untuk Rasulullah SAW,” ucapnya memberikan peringatan keras.
Pesan menohok tersebut kemudian ditutup dengan kutipan syair dari penyair Muhammad al-Hirzi.
Melalui syair tersebut, Sayyid Ali berpesan bahwa jika seseorang tidak memiliki dasar agama yang kuat untuk membela kebenaran, setidaknya ia harus memiliki rasa kehormatan diri (marwah), dan jika ia tidak memiliki pengetahuan atas suatu isu, maka diam adalah pilihan yang paling bijak.
Di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang terus bergejolak dan arus informasi yang deras, pesan dari Sayyid Ali At-Thaliqani ini seakan menjadi pengingat bagi masyarakat luas untuk lebih bijaksana dalam menyuarakan opini dan tidak terjebak dalam narasi adu domba.
Sumber: Inilah