DEMOCRAZY.ID – Politikus PDIP, Adian Napitupulu, kembali melontarkan kritik tajam terhadap jalannya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di awal tahun 2026.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @adian_napitupulu pada Rabu (28/1/2026), ia membagikan infografis bertajuk “Awal Tahun yang Sempurna” yang merangkum empat poin kontroversial yang tengah menjadi sorotan publik.
Unggahan tersebut menyoroti isu mulai dari kebijakan luar negeri, penempatan keluarga di posisi strategis, independensi lembaga yudikatif, hingga tindakan represif aparat terhadap warga sipil.
“Ada yang mau nambahain!?,” tulis Adian.
Berikut adalah penjabaran beberapa poin yang diangkat dalam unggahan tersebut.
Poin pertama Adian menyoroti langkah Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto yang membawa Indonesia bergabung ke dalam Board of Partners (BoP), sebuah inisiatif kemitraan infrastruktur global yang diprakarsai oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Bergabungnya Indonesia ke dalam inisiatif global yang dibentuk oleh Donald Trump, memicu polemik di dalam negeri.
Isu mengenai kewajiban menyetor dana komitmen sebesar 1 miliar dolar AS atau setara Rp17 Triliun menjadi sorotan.
Namun, kabar mengenai “biaya masuk” yang cukup fantastis tersebut sudah diperjelas oleh pemerintah guna meredam spekulasi publik yang kian liar.
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, memberikan penjelasan resmi terkait angka Rp17 triliun tersebut. Menurutnya, terjadi miskonsepsi di tengah masyarakat.
Dana tersebut bukanlah membership fee atau biaya keanggotaan untuk bergabung dengan kelompok bentukan Amerika Serikat.
Dirinya mengatakan jika melihat kronologinya pembentukan Board of Peace ini merupakan suatu upaya untuk bisa menyelesaikan situasi di Gaza pada khususnya dan Palestina termasuk upaya rekonstruksi.
Ia juga menekankan bahwa iuran tersebut bukan kewajiban yang dibebankan kepada setiap anggota, melainkan bersifat sukarela.
Dalam unggahan Adian juga menyoroti point terkait terpilihnya Thomas Djiwandono, yang merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto, sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Penunjukan ini memicu perdebatan mengenai praktik nepotisme dan potensi intervensi kekuasaan terhadap independensi bank sentral.
Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono itu telah resmi dipilih sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia usai menjalani uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI DPR pada Senin sore (26/1/2026).
Terpilihnya Thomas membangkitkan pertanyaan tentang independensi BI, seperti yang diatur undang-undang, ke depannya.
Betapa tidak. Seperti yang sudah banyak diketahui masyarakat bahwa Thomas merupakan keponakan Presiden Prabowo.
Dirinya juga sudah lama berkiprah di partai Gerindra, meski mengaku telah keluar dari partai yang didirikan Prabowo sejak akhir tahun lalu.
Penunjukan mantan kader Partai Golkar Adies Kadir, menjadi Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) turut masuk dalam daftar kritik Adian.
Masuknya kader partai politik ke dalam lembaga benteng konstitusi ini dinilai mengancam independensi MK dalam menangani sengketa politik dan judicial review.
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui Rapat Paripurna, pada Selasa (27/1/2026) secara resmi sudah menyetujui Adies Kadir sebagai calon hakim konstitusi pada MK RI atas usulan lembaga DPR.
Diketahui Adies Kadir ditetapkan untuk menggantikan calon sebelumnya Inosentius Samsul. Keputusan ini diambil dalam Rapat Paripurna ke-12 masa sidang III tahun 2025-2026.
Melalui ketua komisi III DPR RI, Habiburokhman, juga menyampaikan dalam laporannya bahwa pergantian ini dilakukan demi kepentingan konstitusional lembaga DPR RI.
Poin terakhir yang paling menyita perhatian emosi publik adalah kasus kekerasan yang baru-baru ini dialami seorang pedagang es gabus, Suderajat (49).
Jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh sebuah rekaman video yang memicu simpati sekaligus kemarahan publik.
Video tersebut memperlihatkan momen pilu saat seorang pedagang es gabus keliling di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, diinterogasi secara ketat oleh oknum aparat gabungan.
Di bawah sorotan kamera dan tudingan miring tanpa kebenaran mengenai penggunaan bahan berbahaya berupa Polyurethane Foam (PF), sang pedagang es gabus yang tampak tak berdaya bahkan dipaksa mengonsumsi dagangannya sendiri demi membuktikan bahwa jajanan tradisional tersebut aman untuk dimakan.
Insiden ini dengan cepat menjadi bola liar di dunia maya dan menimbulkan banyak spekulasi.
Kasus ini juga menjadi simbol meningkatnya tindakan represif terhadap masyarakat kecil.
Rangkaian kritik yang dirangkum dalam unggahan Adian Napitupulu dalam satu infografis ini menjadi refleksi atas dinamika politik dan sosial di awal tahun 2026 masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Adian Y. Y. Napitupulu, S.H (@adian__napitupulu)
Sumber: Suara