Anies Sindir Pemerintah: Kebijakan Salah Dikoreksi Lewat Kebijakan, Bukan Narasi!

DEMOCRAZY.ID – Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan melontarkan kritik tajam terhadap kebiasaan pemerintah mengganti narasi atas kebijakan yang bermasalah alih-alih mengoreksi substansi kebijakannya.

Pernyataan itu disampaikan dalam Majelis Diskusi Tarawih Ramadan bertema “Iqra!” di Masjid Al Hayat, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dan diunggah di kanal YouTube-nya pada Selasa (24/3/2026).

“Kebijakan salah itu koreksinya pada kebijakannya, bukan pada narasinya. Narasi boleh diotak-atik, tapi kalau kebijakannya salah, tetap saja konsekuensinya salah,” ujar Anies di hadapan civitas akademika UGM.

Mengambil tema “Iqra” yang berakar dari perintah pertama dalam Alquran, Anies mendorong agar semangat membaca tidak hanya dipahami sebatas teks tertulis, melainkan mencakup kemampuan membaca fenomena sosial dan konsekuensi kebijakan.

Ia menekankan bahwa seorang pemimpin dituntut membaca keluhan rakyat secara jujur, bukan sibuk merapikan slogan.

“Negara akan sibuk bicara sebelum memahami. Cepat bereaksi tanpa mengerti akar masalah.”

Ia juga menyinggung persoalan kemiskinan dan ketimpangan yang menurutnya harus dibaca secara jujur.

Anies mengkritik tafsir keliru atas amanat konstitusi bahwa “fakir miskin dipelihara oleh negara”.

Menurutnya, kata “dipelihara” seharusnya dimaknai sebagai upaya meningkatkan derajat, bukan mempertahankan kondisi miskin itu sendiri.

Anies turut menyoroti melemahnya kebebasan pers.

Ia mengamati bahwa banyak media belakangan ini mengurangi porsi kritik, bahkan cenderung membatasi diri.

“Biasanya itu bukan inisiatif sendiri. Biasanya itu karena mereka berpengalaman mendapatkan tekanan,” ucapnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, menurut Anies, tekanan kini tidak lagi menyasar jurnalis atau redaktur, melainkan langsung kepada pemilik media.

Di sisi lain, Anies mendorong para pemimpin dan penyusun kebijakan untuk memandang kritik bukan sebagai ancaman, melainkan kesempatan untuk meyakinkan publik.

Ia berpendapat bahwa sepinya kritik justru berbahaya karena dapat menumpulkan antisipasi terhadap masalah yang tersembunyi.

Di hadapan mahasiswa Fakultas Biologi, Anies juga menyinggung hubungan yang selama berabad-abad penuh ketegangan antara ekonomi dan ekologi.

Ia mendorong agar dua disiplin ilmu ini didamaikan, karena kerusakan alam yang semakin nyata, termasuk pola cuaca yang tidak lagi terbaca, adalah konsekuensi dari pemisahan dua nilai tersebut.

Menutup ceramahnya, Anies menegaskan posisi kampus dalam kehidupan demokrasi.

Ia membedakan antara objektif dan netral: kampus wajib objektif, tetapi tidak boleh bersikap netral ketika ada penyimpangan atau penindasan.

“Netral itu tidak wajib. Tapi objektif itu wajib,” tegasnya.

Kendati menyebut Indonesia tidak pernah kekurangan stok masalah, Anies mengajak hadirin untuk tidak pesimis.

“Sesulit-sulitnya yang kita hadapi hari ini, ada generasi sebelumnya yang jauh lebih sulit. Dan kalau generasi sebelumnya sudah bisa mengantarkan kita ke sini, insyaallah kita bisa mengantarkan untuk generasi depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Sumber: JakartaSatu

Artikel terkait lainnya