DEMOCRAZY.ID – Berbeda dengan Ganjar Pranowo, peluang Anies Baswedan maju lagi di Pilpres 2029 terbuka lebar. Ganjar, sekali untuk selamanya.
Persis seperti Amien Rais atau Hamzah Haz. Masih lebih baik Wiranto, dua kali maju, meski keduanya kalah.
Megawati pun, dua kali maju dua kali kalah. Tapi Megawati sempat menjadi Presiden menggantikan Abdurrahman Wahid, saat pemilihan masih di MPR.
Jusuf Kalla (JK) tiga kali maju, dua kali sebagai Cawapres menang. Tapi sebagai Capres, kalah.
Sementara itu SBY dan Jokowi sama. Dua kali maju dua kali menang. Kalau Prabowo jangan ditanya lagi.
Empat kali, bahkan lima kali kalau dihitung dari Konvensi Golkar 2004, dan baru Pilpres yang kelima menang. Sebuah kegigihan yang layak diteladani.
Entahlah, Anies Baswedan mau sampai beberapa kali? Kalau dihitung dari Konvensi Demokrat 2014, Pilpres 2024, kedua bagi Anies.
Tapi Konvensi itu tak sampai membuat Anies sebagai Calon. Malah banting setir menjadi Jubirnya Jokowi dan menang.
Artinya, Anies Baswedan lebih pragmatis. Tak ada standar moral “keikutsertaan” bagi Anies. Asal ikut, jadi Jubir pun, oke.
Jadi, halal bi halal ke rumah SBY di Cikeas, meskipun tak diundang, itu bisa diartikan upaya memperbaiki dan membuka peluang Pilpres 2029, entah sebagai apa?
Tapi Anies Baswedan tak terlihat dalam open house yang diadakan PDIP? Artinya, irisan konstituen masih menjadi perhatian Anies. Apalagi Megawati menarik lagi SK Anies maju di Pilkada DKI, kemarin.
Padahal sudah pakai batik merah. Tapi keputusan Megawati terbukti tepat. Pramono Anung, akhirnya menang.
Tak ada untungnya hubungan yang “buruk” dengan Demokrat atau SBY bagi Anies, kalau tetap ingin eksis di Pilpres 2029.
Seperti Surya Paloh, SBY juga masih sebagai King Maker di Pilpres 2029. Apalagi syarat pencapresan sudah jauh lebih mudah dari sebelumnya.
Ibarat seorang pemancing, makin banyak pancing yang dipasang, maka makin banyak pula peluang untuk mendapatkan ikan.
Bahkan hubungan yang baik dengan Jokowi pun mungkin harus dirajut kembali oleh Anies, termasuk oleh Jokowi sendiri.
Apalagi situasi ketidakpastian, baik di luar negeri maupun di dalam negeri, makin lebar.
Prabowo benar-benar kuat atau tidak? Kalau tidak, maka hubungan-hubungan yang baik dengan semua elemen kekuatan politik sangat diperlukan.
JK sebagai salah seorang mentor politik Anies, sudah mulai bermanuver. Lewat PMI yang diketuai JK, banyak yang bisa dilakukan, termasuk menjalin komunikasi dengan Dubes Iran.
JK menjadi tempat mengadu atas kekurangan Pemerintahan Prabowo saat ini. Tak salah, Anies berupaya membuka saluran yang tersumbat.
Sumber: JakartaSatu