DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik Jamiluddin Ritonga menduga ada dua topik yang dibahas Joko Widodo (Jokowi) saat bertemu Presiden RI Prabowo Subianto pada Sabtu (4/10) kemarin.
Jamiluddin merasa Jokowi menjadi pihak yang berinisiatif untuk bertemu Prabowo di kediaman Kepala Negara, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan itu.
Menurut dia, Jokowi kemungkinan meminta izin kepada Prabowo untuk absen ke acara HUT ke-80 TNI yang dilaksanakan Minggu (5/10).
“Ya, sebagai orang Jawa, Jokowi tampaknya ingin menyampaikan langsung ke Prabowo mengenai pertimbangan ketidakhadirannya pada acara itu,” kata dia melalui layanan pesan Senin (6/10).
Menurut Jamiluddin, Jokowi terbukti memang tak hadir saat upacara HUT ke-80 TNI karena alasan kesehatan.
“Informasinya, Jokowi tidak bisa hadir karena kondisi penyakitnya belum bisa terkena sinar matahari,” kata mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta itu.
Kedua, kata Jamiluddin, Jokowi kemungkinan menjelaskan maksud meminta sukarelawan menjadikan Prabowo dan Gibran Rakabuming Raka menjabat Presiden dan Wapres RI selama dua periode.
Menurut dia, Jokowi merasa penting menjelaskan permintaan tersebut kepada Prabowo agar tidak salah tafsir.
“Setidaknya Jokowi tidak ingin permintaannya kepada sukarelawan itu ditafsirkan oleh Prabowo sebagai bentuk tekanan dan paksaan,” ungkapnya.
Jamiluddin merasa Jokowi punya kepentingan agar persoalan Prabowo-Gibran dua periode tidak menjadi isu liar yang dapat berdampak pada hubungannya dengan Kepala Negara.
“Melalui pertemuan tatap muka, Jokowi dapat menjelaskan dengan gamblang,” lanjut pengamat dari Universitas Esa Unggul itu.
Dengan penjelasan langsung, kata Jamiluddin, Jokowi ingin memastikan kepada Prabowo bahwa Gibran tidak akan maju menjadi capres pada 2029.
“Bisa jadi Jokowi ingin meyakinkan bahwa Gibran tetap setia ikut Prabowo sebagai wapres,” ungkapnya.
Jamiluddin menganggap persoalan di luar dua isu tadi tidak penting bagi Jokowi untuk dibicarakan dengan Prabowo.
Dia merasa Jokowi hanya punya kepentingan menjaga eksistensi keluarga di perpolitikan nasional, sehingga berbicara dengan Prabowo.
“Bagi Jokowi, paling penting kepentingan Gibran paling utama untuk memastikan trahnya tetap eksis dalam perpolitikan nasional,” ungkap dia.
Jamiluddin merasa Jokowi hanya membahas secara selintas soal sukarelawan eks Gubernur DKI Jakarta itu yang terbuang dari kabinet saat bertemu Prabowo.
“Bagi Jokowi, persoalan sukaelawannya bukanlah prioritas. Sebab, bagi Jokowi keluarganya yang harus aman dalam peta politik nasional,” ungkap dia.
Termasuk, kata Jamiluddin, Jokowi juga tak akan membicarakan loyalis eks Wali Kota Solo itu yang menjabat di kabinet Prabowo.
“Baginya, menteri loyalisnya diganti bukanlah perkara penting. Lagi-lagi, menteri loyalisnya boleh diganti, namun Gibran harus tetap wapres. Kiranya itulah yang dipikirkan Jokowi dan itu pula yang menjadi fokusnya saat bertemu Prabowo di Kartanegara, Jakarta,” kata dia.
Sumber: JPNN