DEMOCRAZY.ID – Di tengah kecamuk perang yang kian liar antara poros kekuatan Amerika Serikat-Israel melawan Iran, muncul secercah harapan diplomasi yang mengejutkan.
Pengamat hubungan internasional dari President University, Jeanne Francoise alias Jean, melontarkan analisis tajam bahwa kunci perdamaian dunia saat ini tidak lagi berada di tangan para jenderal atau politisi, melainkan di Vatikan.
Dalam sebuah diskusi di Sapa Indonesia Malam di TV One, Minggu (22/3/2026) mengenai nation building dan konflik Timur Tengah, Jean menegaskan bahwa sosok Presiden AS, Donald Trump, yang dikenal arogan, pragmatis, dan “pebisnis tulen,” hampir tidak mendengarkan masukan dari pemimpin dunia mana pun.
Namun, ada satu pengecualian besar.
“Saya yakin satu-satunya orang yang didengar Trump saat ini adalah Paus Leo,” ujar Jean Francoise dengan nada penuh keyakinan.
Analisis Jean bukan tanpa dasar.
Karakter Trump yang meletakkan kepentingan nasional Amerika di atas hukum internasional memerlukan pendekatan personal yang melampaui sekat politik formal.
Paus Leo, dengan otoritas moral universalnya, dianggap memiliki celah unik untuk menyentuh sisi kemanusiaan Trump.
Meskipun sebelumnya Paus telah mengeluarkan seruan umum untuk perdamaian dari Vatikan, Jean berharap pemimpin umat Katolik dunia itu bersedia melakukan langkah yang lebih berani.
“Tadinya kan hanya seruan di umum ya di Vatikan. Dan saya berharap Paus akan turun langsunglah gitu untuk betul-betul mendamaikan,” tambahnya.
Harapan ini menonjolkan sisi human interest yang mendalam; di mana nasib jutaan nyawa sipil di Iran dan Israel kini bergantung pada keberanian seorang pemimpin spiritual untuk berdialog langsung dengan sosok pemimpin dunia yang paling sulit diprediksi.
Di sisi lain, diskusi juga menyoroti mengapa operasi militer Amerika dan Israel sejauh ini belum berhasil menumbangkan Teheran.
Prof. Ali Munhanif, pengamat Timur Tengah dari UIN Jakarta, menjelaskan bahwa Iran adalah negara dengan level soliditas yang sangat tinggi.
Adalah keliru jika Pentagon menempatkan skenario Arab Spring seperti yang terjadi di Libya, Irak, atau Mesir untuk melakukan regime change di Iran.
“Di Iran, dari pimpinan sampai rakyat itu betul-betul solid sebagai sebuah functioning state. Penetrasi negaranya sangat dalam,” jelas Prof. Ali.
Faktor inilah yang membuat operasi darat oleh AS hampir mustahil dilakukan dalam waktu dekat, karena mereka akan berhadapan dengan rakyat yang siap bergerilya di kota hingga gunung-gunung yang mengelilingi Iran.
Maka, ketika kekuatan militer menemui jalan buntu dan tekanan domestik AS belum cukup kuat mengubah arah kebijakan Trump, diplomasi spiritual dari Paus Leo kini menjadi tumpuan harapan terakhir dunia untuk mencegah bencana kemanusiaan yang lebih besar di Timur Tengah.
Sementara itu, analis militer Marsma TNI (Purn.) R. Agung Sasongkojati menyoroti faktor tekanan domestik di AS sebagai elemen penting.
Ia menilai bahwa dinamika politik internal, termasuk posisi Partai Republik di Kongres dan Senat, dapat memengaruhi arah kebijakan Trump, terutama jika perang berdampak pada elektabilitas.
Namun, di tengah berbagai tekanan tersebut, muncul dimensi lain yang lebih bersifat kemanusiaan. Harapan terhadap peran Paus Leo bukan sekadar simbolik, melainkan sebagai jembatan moral yang dapat mempertemukan kepentingan yang bertolak belakang.
Seruan perdamaian dari Vatikan dinilai memiliki kekuatan untuk menembus kebuntuan diplomasi formal.
Apalagi, dalam sejarah konflik global, intervensi tokoh agama sering kali menjadi titik balik dalam meredakan ketegangan.
Bagi sebagian pihak, harapan ini mungkin terdengar idealistis.
Namun di tengah meningkatnya risiko korban sipil dan dampak ekonomi global, setiap peluang untuk menghentikan konflik menjadi sangat berharga.
Pada akhirnya, perang bukan hanya soal strategi dan kekuatan militer, tetapi juga tentang kemanusiaan.
Dan dalam situasi seperti ini, suara moral bisa menjadi senjata paling kuat untuk menghentikan pertempuran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara tegas menutup pintu dialog dan gencatan senjata dalam perang Iran yang kian memanas.
Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung terhadap seruan pemimpin spiritual umat Katolik dunia, Paus Leo XIV, yang mendesak penghentian kekerasan demi kemanusiaan.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa militer Amerika Serikat tidak akan menarik pelatuknya sebelum memastikan lawan benar-benar lumpuh secara permanen.
“Anda tidak melakukan gencatan senjata ketika Anda sedang menghancurkan pihak lain,” ujar Trump dengan nada dingin saat menjawab pertanyaan koresponden EWTN News, Owen Jensen.
Sebelumnya, pada 15 Maret, Paus Leo XIV mengeluarkan imbauan menyentuh hati agar pihak-pihak yang terlibat “menghentikan tembakan dan membuka kembali jalan dialog.”
Namun, bagi Trump, diplomasi bukan lagi pilihan di meja saat ini.
Trump mengeklaim bahwa kekuatan militer Teheran telah berada di titik nadir.
Menurutnya, Iran kini tidak lagi memiliki angkatan laut, angkatan udara, maupun sistem radar yang berfungsi.
“Pemimpin mereka telah tewas di setiap tingkatan,” tambah presiden dari Partai Republik tersebut, merujuk pada tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS-Israel sejak 28 Februari lalu.
Di balik adu argumen politik ini, tragedi kemanusiaan terus membayangi. Konflik yang meletus sejak akhir Februari tersebut tidak hanya menghancurkan infrastruktur militer, tetapi juga mengacaukan jalur ziarah keagamaan.
Ribuan umat Katolik dan warga sipil dilaporkan terjebak dan harus berebut mengevakuasi diri dari zona merah saat serangan balasan Iran menghantam pangkalan-pangkalan AS dan Israel.
Trump memberikan sinyal bahwa AS tidak akan membiarkan Iran memiliki celah untuk bangkit kembali.
Berbicara kepada MS Now pada 20 Maret, ia mengindikasikan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga Iran kehilangan kemampuan untuk membangun kembali kekuatannya dalam waktu dekat.
“Jika kita pergi sekarang, mereka butuh 10 tahun untuk membangun kembali. Tapi mereka tetap akan membangun kembali. Saya ingin memastikan itu tidak pernah terjadi,” pungkas Trump.
Sumber: Tribun