DEMOCRAZY.ID – Konflik Timur Tengah khususnya perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel kini memasuki fase yang sangat krusial.
Meskipun AS dan sekutunya memamerkan teknologi militer paling mutakhir, banyak pakar mulai melihat celah besar yang bisa membuat strategi mereka berantakan di lapangan.
Operasi yang dijuluki “Operation Epic Fury” oleh Donald Trump ternyata tidak semudah yang dibayangkan di atas kertas, terutama setelah Iran menunjukkan ketahanan militer yang jauh lebih ulet dari perkiraan awal.
Salah satu poin kunci mengapa Iran dianggap punya keunggulan adalah strategi perang atrisi atau perang yang mengandalkan ketahanan logistik jangka panjang.
Veteran pilot tempur Rusia, Mayor Jenderal Vladimir Popov, mengatakan pada Sputnik Globe bahwa militer AS sangat bergantung pada pasokan logistik yang harus dikirim menyeberangi samudera dari daratan Amerika.
Hal ini menjadi tantangan besar karena stok persenjataan di pangkalan-pangkalan AS di kawasan tersebut sebenarnya sangat terbatas.
“Orang Amerika beroperasi ‘dari truk’ dan sangat bergantung pada pasokan ulang,” kata Popov.
Ia menambahkan bahwa tanpa pasokan rutin dari daratan utama AS, stok persenjataan mereka saat ini diperkirakan hanya akan bertahan sekitar dua minggu saja. Popov secara tegas menyatakan, “Saya pikir keunggulan jelas berada di pihak Iran”.
Selain faktor logistik, Iran juga menerapkan strategi “mosaic defense” atau pertahanan mosaik.
Ini adalah sistem unit militer seluler yang terdesentralisasi, sehingga sulit dihancurkan dengan serangan udara sekali jalan.
Dengan menggunakan kawanan drone untuk menguras stok rudal pencegat AS yang sangat mahal, Iran berhasil memaksa AS menggunakan dua hingga tiga rudal pencegat hanya untuk menjatuhkan satu proyektil Iran.
Analis geopolitik Brian Berletic mengungkapkan bahwa masalah utama Washington adalah ambisi yang terlalu luas atau global overreach.
“Mereka mencoba mengobarkan banyak perang dan perang proksi secara global, mulai dari Amerika Latin, Ukraina, Iran, hingga Yaman, sambil membangun kekuatan untuk konfrontasi dengan China di Asia-Pasifik,” jelas Berletic.
Akibatnya, AS tidak memiliki cukup amunisi untuk bertahan dalam perang jangka panjang dengan Iran.
Di dalam negeri AS, posisi pemerintahan justru semakin terjepit karena dukungan publik terhadap serangan ke Iran berada di titik terendah dalam sejarah modern mereka.
Berdasarkan jajak pendapat YouGov seperti dikutip dari RT, hanya 34% warga Amerika yang mendukung serangan tersebut, sementara 44% menolaknya.
Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dukungan awal terhadap perang Afghanistan yang mencapai 92% atau perang Irak sebesar 71%.
Perpecahan ini juga merembet ke panggung politik di Capitol Hill.
Di internal Partai Republik sendiri terjadi keretakan; meskipun banyak yang mendukung, tokoh seperti Senator Rand Paul dan Thomas Massie mengecam serangan ini karena dianggap melanggar konstitusi dan mengkhianati janji kampanye untuk mengakhiri perang di luar negeri.
Di sisi lain, mayoritas politisi Demokrat mengutuk operasi tersebut sebagai perang pilihan yang tidak sah.
Senator Adam Schiff dengan tajam menyatakan, “Trump menyeret negara kita ke dalam perang luar negeri lainnya yang tidak diinginkan warga Amerika dan tidak diizinkan oleh Kongres”.
Sentimen serupa datang dari Senator Bernie Sanders yang menyebut serangan ini sebagai “perang ilegal, terencana, dan tidak konstitusional”.
Dengan rakyat yang terbelah dan Kongres yang saling sikut, posisi politik AS untuk melanjutkan perang ini semakin melemah dibandingkan ketahanan nasional Iran yang lebih terkonsolidasi.
Sumber: Suara