DEMOCRAZY.ID – Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Prof. Amien Rais, melontarkan kritik pedas terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dalam pernyataan terbaru yang diunggah melalui kanal YouTube-nya pada Senin (29/12/2025), tokoh reformasi ini menyebut Prabowo kini telah menjadi “masalah pokok” bagi Indonesia, serupa dengan posisi Presiden Soeharto menjelang kejatuhannya pada tahun 1998.
Amien Rais mengawali pernyataannya dengan mengenang momen saat dirinya menjawab pertanyaan wartawan asing menjelang lengsernya Rezim Orde Baru. Kala itu, ia menyebut Soeharto bukan lagi bagian dari masalah, melainkan masalah itu sendiri (he is the problem).
“Melihat performa Presiden Prabowo sejak dilantik… saya bisa mengatakan Presiden Prabowo bukan lagi a part of the problem, tetapi he is the problem,” tegas Amien Rais.
Ia menilai Prabowo gagal menunjukkan taringnya dan justru tetap berada di bawah bayang-bayang pendahulunya, Joko Widodo.
Kekecewaan Amien dipicu oleh lambannya penanganan bencana banjir dahsyat di tiga provinsi Sumatera pada akhir November lalu.
Ia mengutip berbagai kritik publik yang menyebut penanganan pemerintah hanya bersifat formalitas.
Tak hanya itu, Amien secara eksplisit menyentil sosok Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan sebutan “plonga-plongo”.
“Kepercayaan masyarakat pada Prabowo terus meleleh dengan cepat. Ia seolah lupa bahwa kritik adalah bagian tak terpisahkan dalam demokrasi, dan malah mengedepankan sinisme,” lanjutnya.
Dalam catatan Amien, situasi Hak Asasi Manusia (HAM) di era Prabowo mengalami erosi terparah.
Ia membeberkan data mengerikan terkait gelombang protes terhadap UU TNI dan tuntutan kesejahteraan buruh pada Mei 2025 yang berujung pada penangkapan 5.538 orang serta kekerasan fisik terhadap ratusan demonstran.
“Lebih dari 90 persen mereka yang berdemonstrasi adalah pemuda-pemudi yang hidupnya pas-pasan. Sebagian besar mereka mungkin hanya makan daging setahun sekali saat Idul Adha,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Mengutip pernyataan Habib Rizieq Syihab (HRS), Amien Rais membongkar dugaan alasan mengapa pemerintah enggan menetapkan banjir Sumatera sebagai bencana nasional.
Ia menduga ada ketakutan jika jurnalis investigasi asing masuk dan mengungkap kerusakan hutan akibat korporasi dan tambang.
“Prabowo sendiri punya kebun kelapa sawit seluas ribuan hektar. Jutaan hektar kebun sawit adalah sebab pokok banjir terbesar sepanjang sejarah Sumatera,” tukasnya.
Ia juga menuding Jokowi tetap menjadi fasilitator utama bagi “raja hutan” dan “raja tambang” untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia.
Kesimpulan: Jokowi dan Prabowo “11-12” Menutup pernyataannya, Amien Rais menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara gaya kepemimpinan Jokowi dan Prabowo.
Ia menggunakan istilah Jawa untuk menggambarkan kemiripan keduanya dalam menjalankan roda pemerintahan.
“Makin jelas buat saya, ternyata Jokowi garis miring Prabowo adalah 11/12. Mboten wonten bentenipun, saestu sami mawon (Tidak ada bedanya, sungguh sama saja),” pungkas Amien Rais.
Sumber: JakartaSatu