Amalan Masuk Surga Tanpa Hisab Berdasar Hadis Nabi, Simak Penjelasannya!

DEMOCRAZY.ID – Masuk surga tanpa hisab menjadi impian tiap mukmin. Ini adalah keistimewaan agung yang dijanjikan Allah bagi hamba-hamba pilihan-Nya. Yang sering dibahasa adalah golongan dan amalan masuk surga tanpa hisab.

Dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda bahwa dari umatnya akan ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.

“Lalu diperlihatkan kepadaku sekelompok besar lagi dan dikatakan: mereka adalah umatmu. Di antara mereka terdapat tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.” (HR al-Bukhari & Muslim).

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan keutamaan luar biasa bagi umat Nabi Muhammad SAW, yaitu bahwa sebagian dari mereka akan masuk surga tanpa dihisab (diperiksa amalnya) dan tanpa disiksa sedikit pun.

Lantas, apa amalan masuk surga tanpa hisab tanpa azab?

1. Menyempurnakan Tauhid (At-Tahqiq at-Tam li at-Tauhid)

Amalan masuk surga tanpa hisab dijelaskan Rasulullah SAW dalam lanjutan hadis di atas.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Nabi SAW bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak melakukan tathayyur (percaya sial), tidak melakukan kay (pengobatan dengan besi panas), dan mereka bertawakal sepenuhnya kepada Rabb mereka.” (HR. al-Bukhari no. 5705, Muslim no. 220).

Merujuk Buku Terjemah Qaulus Sadid: Syarh Kitab Tauhid karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy, diterjemahkan oleh dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK, amalan yang mengantarkan seseorang ke derajat masuk surga tanpa hisab ini bukan hanya ucapan syahadat, tetapi realisasi tauhid secara total dalam hati, lisan, dan perbuatan.

Syaikh As-Sa’diy menegaskan bahwa inti dari seluruh amalan menuju surga tanpa hisab adalah kesempurnaan tauhid. Maksudnya adalah mewujudkan pengesaan Allah secara utuh — dalam ibadah, niat, keyakinan, dan cinta.

“Barangsiapa yang merealisasikan kesempurnaan tauhid, yaitu mengisi hatinya dengan iman, tauhid, dan ikhlas, lalu membenarkannya dengan amal saleh, maka ia termasuk orang yang akan masuk surga tanpa hisab.”

Orang yang bertauhid sempurna tidak menyekutukan Allah sedikit pun, tidak berharap kepada selain-Nya, tidak menggantungkan diri pada makhluk, dan menjauh dari segala bentuk penyimpangan dalam ibadah.

2. Bertawakal Sempurna kepada Allah

Tawakal dalam makna yang dijelaskan As-Sa’diy bukan sekadar pasrah, tetapi menyerahkan seluruh urusan kepada Allah dengan penuh keyakinan, setelah melakukan usaha maksimal.

Hal ini didasarkan pada hadis sahih tentang 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab:

“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak melakukan tathayyur (percaya sial), tidak melakukan kay (pengobatan dengan besi panas), dan mereka bertawakal sepenuhnya kepada Rabb mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Menurut Syaikh As-Sa’diy, tawakal yang sejati menandakan kemurnian tauhid karena hati tidak bergantung kepada makhluk, melainkan hanya kepada Allah.

Ia tidak meminta pertolongan kecuali dalam keadaan darurat dan tidak memohon selain kepada Rabb-nya.

3. Tidak Meminta Diruqyah, Tidak Bertathayyur, dan Tidak Melakukan Kay

Ketiga hal ini adalah simbol kemandirian tauhid dan bentuk penyucian iman dari ketergantungan kepada selain Allah:

1. Tidak meminta diruqyah

Menunjukkan keyakinan bahwa kesembuhan hanya dari Allah, bukan dari jampi atau orang lain.

2. Tidak melakukan tathayyur

Tidak percaya pada nasib sial, hari buruk, atau pertanda buruk; semuanya tunduk pada takdir Allah.

3. Tidak melakukan kay (pengobatan dengan besi panas)

Meninggalkan bentuk pengobatan ekstrem yang mencerminkan kecemasan berlebih, sebagai tanda pasrah total pada kehendak Allah.

Syaikh As-Sa’diy menegaskan bahwa meninggalkan tiga hal ini bukan karena haram mutlak, tetapi karena ingin mencapai derajat tertinggi dalam tawakal dan tauhid.

4. Mengikhlaskan Seluruh Ibadah dan Amalan Hanya untuk Allah

As-Sa’diy menyebut bahwa orang yang masuk surga tanpa hisab adalah mereka yang memurnikan amal dari riya, karena keikhlasan adalah ruh dari tauhid.

“Kesempurnaan tauhid terwujud dengan kesempurnaan ikhlas kepada Allah dalam perkataan, perbuatan, dan niat.” tulisnya.

Mereka beramal bukan untuk dunia, status, atau pujian, tetapi semata-mata mencari wajah Allah. Ini termasuk dalam sabda Nabi SAW:

“Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas dan mengharap wajah-Nya.” (HR. An-Nasa’i)

5. Menjauhi Syirik Besar dan Syirik Kecil

Tauhid tidak akan sempurna tanpa menjauhi segala bentuk kesyirikan, baik besar (menyekutukan Allah secara jelas) maupun kecil (seperti riya, ujub, atau percaya pada jimat).

“Merealisasikan tauhid adalah pemurnian dari syirik besar dan kecil, bid‘ah perkataan, bid‘ah keyakinan, bid‘ah amalan, dan kemaksiatan.” (As-Sa’diy)

Orang yang hatinya bersih dari syirik akan mendapatkan perlindungan Allah dan diangkat derajatnya hingga menjadi bagian dari golongan pertama yang masuk surga.

6. Berpegang Teguh pada Iman, Ihsan, dan Akhlak Saleh

As-Sa’diy menegaskan bahwa tauhid sejati bukan klaim atau harapan kosong, tetapi harus diwujudkan dalam iman yang benar, akhlak mulia, dan amal saleh yang ikhlas.

“Merealisasikan kesempurnaan tauhid bukan dengan berangan-angan, tetapi dengan aqidah iman yang kokoh di hati, ihsan, kejujuran akhlak yang mulia, dan amal shalih yang jernih.”

Inilah tanda nyata dari orang yang telah mencapai derajat muhsin, yaitu menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya, dan menaikkan derajat yang membuat seseorang layak masuk surga tanpa hisab.

Sumber: Liputan6

Artikel terkait lainnya