Alfamart-Indomaret Tak Boleh Ekspansi, Kopdes Merah Putih Prabowo Takut ‘Tersaingi’?

DEMOCRAZY.ID – Genderang perang terhadap dominasi ritel modern di pelosok desa resmi ditabuh.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Koperasi dan Kementerian Desa (Kemendes PDT) mulai mengambil langkah ekstrem dengan melarang ekspansi Alfamart dan Indomaret di wilayah pedesaan.

Langkah ini diambil demi memuluskan jalan bagi Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.

Namun, di balik narasi keberpihakan pada rakyat kecil, muncul pertanyaan besar, apakah ini bentuk kedaulatan ekonomi, atau justru cermin mentalitas “prajurit” pembantu Presiden yang takut kalah bersaing sebelum terjun ke medan laga?

Instruksi Stop dari Meja Menteri

Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, secara terang-terangan telah meminta pengelola jaringan ritel modern seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) untuk berhenti menambah gerai di desa.

“Saya bilang stop bikin ritel modern di desa, biarkan di desa itu si koperasi desa yang jualan ritel barang-barangnya,” tegas Ferry dalam sebuah acara yang kemudian videonya viral di media sosial baru-baru ini.

Ferry beralasan, bahwa pemerintah tidak ingin keuntungan dari belanja warga desa terbang ke kantong pemegang saham di kota besar, melainkan berputar di sirkulasi ekonomi lokal melalui koperasi.

Proteksi atau Takut Kalah?

Kemenkop sendiri tengah mempercepat pembangunan 60.000 unit Kopdes Merah Putih dengan model desain tunggal.

Tujuannya satu yakni kecepatan konstruksi. Targetnya, pada Maret hingga April 2026, ribuan koperasi ini sudah harus beroperasi.

Ferry menjelaskan bahwa pembangunan fisik ini akan dilakukan di lahan strategis desa dengan luas minimal 1.000 meter persegi, mayoritas bangunan akan menggunakan desain seragam dari PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mempercepat konstruksi.

Di satu sisi, ada semangat membela rakyat kecil. Di sisi lain, muncul kesan ketakutan sebelum berperang.

Alih-alih memacu kualitas koperasi agar bisa bersaing secara alami, pemerintah memilih jalur “sterilisasi” pasar.

Menteri Desa PDT Yandri Susanto, dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR beberapa waktu lalu, menyatakan dengan tegas bahwa ekspansi minimarket harus disetop demi keberlangsungan Kopdes Merah Putih.

“Buat apa kita membangun Kopdes, tapi Alfamart sama Indomaret atau sejenisnya merajalela? Itu artinya tidak apple to apple. Kalau mereka sudah sangat besar, tentu akan menjadi ancaman bagi Kopdes,” ujar Yandri dalam rapat itu.

Logika ini mencerminkan mentalitas yang enggan beradu inovasi.

Padahal, jargon “Merah Putih” yang diusung Presiden Prabowo biasanya identik dengan ketangguhan dan keberanian menghadapi kompetisi global, bukan justru memagari diri karena khawatir kalah saing oleh sistem manajemen ritel modern yang sudah mapan.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya