Ahmad Sahroni Kenang Penjarahan: 7 Jam Ngumpet, Gua Keluar, Gua Mati!

DEMOCRAZY.ID – Malam itu, rumah megah milik anggota DPR RI Ahmad Sahroni di Tanjung Priok berubah menjadi lautan amarah.

Massa datang berbondong-bondong, memecahkan kaca, membongkar isi rumah, dan meluluhlantakkan seisi bangunan.

Dari ruang tamu hingga kamar pribadi, semuanya habis disapu kemarahan.

Sahroni menyebut, ia hanya bisa duduk dalam diam—tujuh jam lamanya—menyaksikan amuk yang menghancurkan tempat yang ia sebut rumah.

“Lu bayangin gua duduk dalam keadaan begini, sendiri, tujuh jam,” ujarnya dalam video Total Politik yang kini beredar luas.

Dalam tayangan itu, ia menunjukkan setiap sudut rumahnya yang porak-poranda—jam tangan, sertifikat, hingga pakaian, raib entah ke mana.

“Semuanya habis disapu. Gila,” katanya, menunjuk lemari yang sudah kosong dan plafon yang dijebol.

Sahroni menceritakan, malam penyerangan itu ia sempat bersembunyi di ruang sempit dekat plafon, hanya beberapa meter dari massa yang merangsek masuk.

“Kalau enggak smart, mati gua,” ucapnya pelan.

Ia sempat tiga kali keluar dari persembunyian untuk mengecek situasi, namun setiap kali suara langkah terdengar di tangga, ia kembali menahan napas.

“Orang pikir gua di luar negeri, di Singapura. Padahal gua di sini, ngumpet,” katanya.

Rumah itu, kata Sahroni, dirusak setelah alamatnya tersebar luas di media sosial.

Ia mengaku menjadi sasaran kebencian setelah pernyataannya di Polda Sumatera Utara dipelintir.

“Gua enggak pernah bilang masyarakat tolol. Tapi kata itu dimainkan, digoreng, sampai jadi alasan menyerang,” ujarnya.

Sisa-sisa peristiwa itu kini tinggal puing dan debu.

Karpet robek, lift rusak, bahkan obat-obatan pun dijarah.

Namun dari reruntuhan itu, Sahroni masih bisa menertawakan nasibnya dengan getir.

“Ini bukan cuma soal rumah hancur,” katanya, “tapi soal bagaimana kebencian bisa dilegitimasi atas nama kemarahan.”

Ia menatap kosong ke arah tangga yang dulu jadi jalur kaburnya.

“Gua udah pasrah,” katanya pelan, “malam itu gua cuma berpikir: kalaupun mati, gua mati di rumah gua sendiri.”

Sumber: Herald

Artikel terkait lainnya