DEMOCRAZY.ID – Di tengah guncangan politik pasca-operasi militer Amerika Serikat yang berhasil menangkap Nicolas Maduro, sebuah video lama sang pemimpin Venezuela mendadak viral kembali di media sosial.
Video tersebut menjadi simbol ironi paling telak atas nasib Maduro saat ini: keyakinan semu akan keamanan teknologi yang runtuh di hadapan realitas intelijen.
Hanya beberapa waktu pada September tahun lalu sebelum penangkapannya yang mengejutkan, Maduro sempat menggelar konferensi pers di mana ia dengan bangga memamerkan sebuah ponsel pintar Huawei—yang diidentifikasi sebagai model lipat Huawei Mate X6—yang disebutnya sebagai hadiah langsung dari Presiden China, Xi Jinping.
Dalam rekaman tersebut, Maduro mengangkat ponsel itu dan membuat klaim berani yang kini terdengar fatal.
“Ponsel ini adalah yang terbaik di dunia. Orang Amerika tidak bisa meretasnya, baik pesawat mata-mata mereka, maupun satelit mereka,” ujar Maduro dengan penuh percaya diri saat itu.
Ia meyakini bahwa perangkat keras dan perangkat lunak buatan China tersebut adalah benteng yang tidak dapat ditembus oleh jaring-jaring intelijen Washington.
Namun, realitas berbicara lain. Keberhasilan operasi AS yang melacak dan mengamankan Maduro—beserta istrinya, Cilia Flores—menimbulkan spekulasi bahwa “benteng digital” Maduro mungkin tidak sekuat yang ia kira, atau setidaknya, tidak cukup untuk melindunginya dari jangkauan fisik militer AS.
Klaim Maduro tentang ponsel “anti-retas” tersebut langsung dibantah oleh fakta teknis di lapangan.
Para peneliti keamanan siber yang berbasis di AS menegaskan bahwa anggapan adanya perangkat yang mustahil diretas adalah sebuah kenaifan, terutama jika berhadapan dengan kemampuan peretas pemerintah AS (state-sponsored hackers) yang dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
Seorang peneliti kerentanan (vulnerability researcher) kepada TechCrunch menjelaskan bahwa transisi Huawei ke sistem operasi mandiri mereka, HarmonyOS, justru membuka celah keamanan baru.
“Pasti ada lebih banyak kesalahan (bugs) dalam kode baru mereka dibandingkan di iOS atau Android yang sudah matang saat ini,” ujar peneliti tersebut. Faktanya, bulan lalu saja Huawei harus menambal 60 bug di HarmonyOS, di mana 13 di antaranya diklasifikasikan sebagai tingkat keparahan tinggi (high severity).
Sejarah juga mencatat bahwa AS memiliki kemampuan mendalam untuk menembus teknologi Huawei. Dokumen yang dibocorkan oleh Edward Snowden pada 2014 mengungkapkan bahwa Badan Keamanan Nasional AS (NSA) tidak hanya meretas perangkat Huawei, tetapi juga menyusup hingga ke dalam server kantor pusat Huawei di Shenzhen, China.
Operasi tersebut begitu dalam hingga memungkinkan mata-mata AS membaca komunikasi para eksekutif perusahaan dan mempelajari cara mengeksploitasi produk Huawei untuk tujuan spionase global.
“Banyak target kami berkomunikasi menggunakan produk buatan Huawei. Kami ingin memastikan bahwa kami tahu cara mengeksploitasi produk-produk ini,” bunyi dokumen NSA tersebut.
Kini, dengan Maduro yang telah berada dalam tahanan AS, klaimnya tentang “ponsel sakti” pemberian Xi Jinping tersebut menjadi catatan kaki yang pahit.
Entah karena jejak digital yang bocor atau intelijen manusia (HUMINT) yang superior, satu hal yang pasti: teknologi saja tidak cukup untuk menyelamatkan Maduro dari kejaran Washington.
Sumber: Inilah