‘Abu Janda, Israel, dan Tembok Ratapan Solo’

‘Abu Janda, Israel, dan Tembok Ratapan Solo’

✍🏻 Muhammad Afthon Lubbi

Saya mau cerita sedikit. Kenapa dua orang di foto ini menjauh dari PDI Perjuangan dan hari-hari ini kelompok mereka nampak getol banget membela Israel dengan dalih meluruskan sejarah?

Bermula dari Piala Dunia Sepak Bola U-20, sebuah ajang olahraga yang sebenarnya panggung politik Jokowi, ditolak oleh partainya sendiri saat itu.

Kabar timnas Israel akan datang ke Indonesia, membuat PDI Perjuangan meradang, kondisi Gaza sedang memanas, kedatangan Timnas Israel ke Indonesia bertentangan dengan UUD 1945 dan komitmen Indonesia memperjuangkan kemerdekaan Palestina dalam diplomasi global.

Jokowi memang hobi manggung. Ia ingin dikenang dengan hal-hal besarbesar; G20, Asian Games dimana ia naik motor, hingga World Cup U20 yang menabrak prinsip-prinsip politik luar negeri Indonesia serta komitmen perjuangan terhadap kemerdekaan Palestina.

Sudah lama, Jokowi acapkali tidak mengindahkan sikap politik partainya sendiri. Itulah sebabnya Bu Mega selalu mengingatkan, bahwa setiap kader, bahkan Bu Mega sendiri, adalah petugas partai.

Petugas partai dalam organisasi politik, adalah pengemban amanah perjuangan partai yang terkandung dalam AD/ART berdasarkan UUD NRI 1945, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan bentuk negara Kesatuan Republik, yang dilembagakan sebagai Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Komitmen PDI Perjuangan terhadap Palestina berpijak pada prinsip kedaulatan negara dan sikap tegas dalam menghapus penjajahan dalam bentuk apapun. Petugas partai adalah petugas rakyat, penyambung lidah rakyat, yang tertuang jelas dalam UUD 1945.

Prinsip kemanusiaan di atas politik, dipegang teguh oleh PDI Perjuangan. Begitu juga, kemanusiaan di atas sepak bola.

PDI Perjuangan tidak menolak World Cup U20, tapi ada yang lebih tinggi dari itu, empati kemanusiaan terhadap saudara-saudara di Palestina yang bahkan saat acara tersebut diselenggarakan di Argentina, serangan Israel di jalur Gaza terus berlangsung.

Sikap politik kemanusiaan Megawati tidak disukai negara-negara agresor, tapi mendapatkan penghormatan dari negara-negara pendukung kemerdekaan Palestina. Bahkan, mendiang Ali Khamenei memberi apresiasi sangat tinggi kepada Bu Mega, sebagai pejuang kemanusiaan dan pemimpin perempuan yang paling berani membela Palestina.

Pertanyaan kecil saya mendapatkan jawabannya. Kenapa saat Pilpres 2024, tim pemenangan mereka menggunakan jasa orang-orang Israel sebagai konsultan? Peristiwa-peristiwa hari ini seperti sedang menjawab.

Bergabungnya Indonesia ke Board of Peace buatan Amerika dan Israel, diamnya Presiden atas serangan terhadap Iran yang konsisten membela Palestina, bahkan nampak takut mengucapkan belasungkawa, menjadi benang merah yang sangat terang.

Ditambah sikap dan pembelaan orang-orang macam Abu Janda dan Ade Armando, terhadap Israel, menunjukkan sikap politik yang sebenarnya. Menjawab pertanyaan kenapa mereka benci sekali kepada Ibu Megawati Soekarnoputri.

Saat perang besar hari-hari ini, Duta Besar Iran justru lebih memilih berkunjung ke rumah Bu Mega.

Karena kunjungan itu, di kolom-kolom komentar media sosial, para peziarah Tembok Ratapan Solo itu, tidak segan-segan menyebut PDI Perjuangan sebagai partai sarang teroris.

Sebuah narasi lama yang dulu dibuat oleh Abu Janda dan gengnya. Mungkin juga itu arahan dari orang yang dikunjunginya di Yerussolo. ***

Artikel terkait lainnya