DEMOCRAZY.ID – Ka’ab bin Malik al-Anshari al-Khazraji adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang dikenal sebagai penyair sekaligus prajurit pemberani dari kalangan Anshar.
Dia termasuk dalam jajaran sahabat yang ikut dalam Baiat Aqabah Kedua, peristiwa penting yang menandai awal lahirnya komunitas Islam di Madinah.
Ka’ab menjadi bagian dari generasi pertama Anshar yang mengokohkan pondasi dakwah Islam di Yatsrib. Dalam berbagai peperangan, Ka’ab bin Malik dikenal karena keberaniannya.
Ia selalu berada di garis depan ketika Rasulullah SAW memimpin pasukan, kecuali dalam Perang Badar, yang saat itu keikutsertaan tidak diwajibkan.
Semangatnya dalam jihad dan kemampuannya mengobarkan semangat melalui syair-syair perjuangan membuat namanya dihormati di kalangan sahabat.
Abu Faiz Sholahuddin dalam Ebook Ka’ab bin Malik menyebutnya sebagai sosok yang selalu siap dalam perbekalan dan kuda pilihan setiap kali Rasulullah berangkat perang, menandakan kesiapan lahir-batin dalam mengabdi di jalan Allah.
Namun, ujian datang ketika Rasulullah SAW memerintahkan ekspedisi Tabuk. Dia menunda keberangkatannya sehingga akhirnya tertinggal.
Setelah itu, dia kucilkan sebagai hukuman. Namun, di sisi lain, peristiwa ini juga menjadi latar turunnya ayat tentang pertobatan yang tulus.
Mari simak Kisah Ka’ab bin Malik.
M. Ishom el-Saha dalam tulisannya “Ka’ab bin Malik: Hidup Nyaman karena Terus Terang” mengisahkan, Tabuk adalah ujian berat bagi Ka’ab bin Malik.
Terik membakar, jarak jauh, sementara kala itu dia sedang panen kurma yang menggiurkan.
Situasi ini menjadikannya mengalami dilema. Ka’ab sendiri mengaku sudah menyiapkan kuda dan bekal, tapi setiap hari ia menunda hingga akhirnya pasukan Islam berangkat tanpa dirinya.
Ka’ab malu, menyesal sekaligus takut. Terlebih, Rasulullah SAW mengetahui persis ketidakhadirannya dalam ekspediti Tabuk.
Saat Rasulullah kembali, hanya tiga orang mukmin yang absen tanpa uzur: Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin Rabi’.
Melawan ketakutannya atas murka Rasulullah SAW, Ka’ab datang menghadap Rasulullah dengan hati yang ciut.
Ia bisa saja berbohong seperti delapan puluh orang munafik lain yang membuat alasan palsu, tapi ia memilih jujur.
Ebook “Ka’ab bin Malik” karya Abu Faiz Sholahuddin (1435 H) menceritakan dengan detail peristiwa itu:
“Demi Allah, andai aku duduk di hadapan selain engkau, aku bisa beralasan dengan seribu satu kata. Tapi bila aku berdusta hari ini, Allah akan murka kepadaku. Maka aku katakan sejujurnya: aku tidak punya alasan apa pun.”
Rasulullah menatapnya, lalu berkata singkat, “Engkau telah berkata jujur. Kini bangkitlah, sampai Allah memutuskan untukmu.”
Dari situlah dimulai masa boikot sosial selama 50 hari. Tak ada yang menyapa, tak ada yang menjawab salamnya. Bahkan, istrinya diminta menjauh.
Dalam kesepian itulah Ka’ab diuji. Keimanannya dipertaruhkan. Surat dari Raja Ghassan, musuh Islam, tokoh kafir, yang menawarinya perlindungan justru ia robek tanpa ragu.
Ia memilih diasingkan di bumi Allah daripada berpaling dari Rasulullah.
Sumber: Liputan6