DEMOCRAZY.ID – DALAM pandangan Islam, setiap manusia yang mengucapkan dua kalimat syahadat dengan ikhlas akan mendapatkan ampunan Allah atas dosa-dosanya yang lalu.
Termasuk di dalamnya adalah seorang mualaf, yaitu orang yang baru masuk Islam setelah sebelumnya berada dalam keyakinan lain.
Berikut adalah beberapa keutamaan dan keuntungan bagi seorang mualaf menurut ajaran Islam:
Rasulullah SAW bersabda:
“Islam menghancurkan apa yang ada sebelumnya (dosa-dosa sebelum masuk Islam).” (HR. Muslim)
Hadis ini menjelaskan bahwa ketika seseorang memeluk Islam, maka seluruh dosa dan kesalahan yang pernah ia lakukan sebelum masuk Islam akan dihapuskan oleh Allah SWT. Ia seperti bayi yang baru lahir tanpa membawa dosa sedikit pun.
Tidak semua manusia diberikan hidayah oleh Allah SWT. Maka ketika seorang mualaf mendapatkan hidayah untuk mengenal Islam, itu adalah nikmat terbesar dalam hidupnya.
Allah memilih mereka untuk menerima kebenaran, sementara banyak orang lain yang masih berada dalam kesesatan.
Seorang mualaf yang berjuang untuk mempelajari Islam, menegakkan shalat, belajar membaca Al-Qur’an, dan meninggalkan kebiasaan lamanya demi Allah, akan mendapatkan pahala yang besar. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pahala orang yang berhijrah (termasuk hijrah keyakinan) adalah sangat besar karena ia meninggalkan sesuatu yang dicintai demi Allah SWT.
Dalam Al-Qur’an, terdapat ayat tentang muallafatu qulubuhum, yaitu golongan mualaf yang berhak menerima zakat untuk menguatkan hati mereka dalam Islam.
Ini menunjukkan perhatian umat Islam kepada mereka agar semakin kuat dalam keimanan dan tidak kembali kepada agama sebelumnya karena kesulitan ekonomi atau tekanan sosial.
Apabila seorang mualaf wafat dalam keadaan Islam dan tauhidnya tetap terjaga, maka ia dijanjikan surga oleh Allah SWT, sebagaimana janji Allah kepada setiap hamba-Nya yang meninggal dalam keadaan bertauhid dan beriman.
Kisah perjalanan hidup mualaf seringkali menjadi inspirasi bagi Muslim lain agar lebih bersyukur dan menjaga keimanannya.
Banyak orang terlahir sebagai Muslim, namun kurang bersyukur dan menyepelekan agama, sementara seorang mualaf rela kehilangan harta, keluarga, bahkan keselamatan diri demi mempertahankan keislamannya.
Menjadi seorang mualaf adalah nikmat yang luar biasa. Mereka memulai lembaran baru yang bersih di hadapan Allah.
Namun, di balik keutamaan itu, mereka juga memiliki ujian berat, mulai dari penolakan keluarga hingga diskriminasi.
Karena itu, kewajiban kita sebagai sesama Muslim adalah mendukung dan memudahkan mereka dalam menapaki jalan keislaman hingga akhir hayat.
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)