Rumah Ahmad Sahroni Rata Tanah Dua Bulan Usai Dijarah, Warga Ungkap ‘Fakta Baru’ yang Bikin Merinding di Tanjung Priok!

DEMOCRAZY.ID – Rumah Ahmad Sahroni yang dua bulan lalu dijarah massa kini resmi dibongkar dan rata dengan tanah, menyisakan jejak luka atas peristiwa tragis yang masih membekas di Tanjung Priok.

Pembongkaran rumah Ahmad Sahroni ini menjadi sorotan publik karena lokasi yang dulu dipenuhi amarah massa, kini berubah menjadi lahan kosong dengan aktivitas ekskavator yang tak henti mengangkut puing.

Warga sekitar menyebut proses pembongkaran rumah dijarah tersebut bukan hanya soal membongkar material, tetapi juga menghapus memori kelam yang sempat mengguncang kawasan Kebon Bawang.

Rumah Ahmad Sahroni Rata Tanah, Ekskavator Kerja Nonstop Sejak Awal Pekan

Dua ekskavator kuning terlihat bekerja tanpa henti di bekas lahan rumah Ahmad Sahroni, mengangkut puing hasil pembongkaran dan menumpuknya ke deretan truk yang siap membawa bongkaran.

Material sisa seperti kayu, besi, batu bata, hingga pipa paralon berserakan di seluruh area, seakan menjadi saksi bisu bahwa rumah tersebut pernah menjadi lokasi kekacauan besar saat penjarahan akhir Agustus lalu.

Beberapa pekerja terlihat mengenakan baju berwarna biru bertuliskan nama Ahmad Sahroni, bekerja sambil mengatur lalu lintas keluar-masuk truk yang membawa puing.

Abdullah, salah satu pekerja di lokasi, mengatakan pembongkaran rumah dijarah itu sudah dimulai sejak 10 Oktober 2025.

Ia menyebut ketika ia datang, rumah tersebut sudah tidak memiliki barang apa pun dan hanya tersisa beton, seolah menunjukkan bahwa kerusakan akibat penjarahan sebelumnya memang parah.

Di sisi lain, pekerja lain menyiram jalanan dengan selang air untuk menekan debu agar tidak beterbangan dan mengganggu lingkungan sekitar.

Di lahan depan lokasi pembongkaran, tumpukan besi, kayu, hingga tabung oksigen ditata rapi menunggu untuk dibawa keluar.

Sahroni Muncul Kembali di Publik, Ceritakan Detik-Detik Bertahan dari Penjarahan

Setelah sempat menghilang dari sorotan publik, Ahmad Sahroni muncul kembali pada 2 November 2025 dalam sebuah acara doa bersama di depan lokasi kediamannya.

Dalam acara tersebut, politikus Partai Nasdem itu menceritakan pengalaman mencekam saat rumahnya dijarah dan bagaimana ia berusaha bertahan hidup.

Sahroni mengaku bersembunyi di plafon rumah ketika massa mulai masuk dan merusak bangunan.

Namun plafon tersebut tak mampu menahan bobot tubuhnya sehingga ia terjatuh dan terpaksa berpindah ke kamar mandi.

Dengan wajah berlumur debu, ia duduk diam selama satu jam sambil berserah diri pada Tuhan, sembari berharap bisa selamat dari serbuan massa.

Politikus itu juga menyampaikan terima kasih kepada warga sekitar yang membantunya kabur dari rumah.

Ia secara khusus menyebut Pak Haji Dhani dan istrinya yang menjadi tempat ia berlindung setelah ia melompat ke rumah belakang pada pukul 22.15 WIB di malam kejadian.

Warga Tanjung Priok Masih Trauma, Pembongkaran Dinilai Jadi “Titik Tutup”

Bagi sebagian warga Kebon Bawang, pembongkaran rumah Ahmad Sahroni ini dianggap sebagai upaya menghapus bayang-bayang kerusuhan yang pernah terjadi.

Beberapa warga menilai langkah ini sebagai proses penataan ulang lingkungan agar tidak ada lagi kerumunan yang memicu konflik.

Meski begitu, sebagian lainnya menilai pembongkaran ini terasa emosional, karena banyak warga menjadi saksi langsung bagaimana rumah itu diserbu, dijarah, dan rusak total.

Pengamat sosial dari Universitas Nasional, Dedi Pranata, mengatakan pembongkaran rumah yang dijarah massa sering menjadi simbol pemulihan psikologis masyarakat.

Menurutnya, tindakan itu membuat masyarakat merasa kembali aman dan menandai berakhirnya ketegangan sosial di wilayah tersebut.

“Ketika sebuah ruang yang pernah menjadi pusat konflik diubah total, masyarakat mendapatkan rasa mulai kembali dari nol,” ujarnya dalam analisis yang relevan dengan konteks lokal perkotaan Jakarta.

Pembongkaran rumah Ahmad Sahroni bukan hanya sebuah proses teknis membongkar bangunan, tetapi juga momentum sosial bagi warga Tanjung Priok untuk meninggalkan ingatan gelap penjarahan dua bulan lalu.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konflik spontan dapat meninggalkan trauma panjang bagi warga sekitar.

Dengan lahan yang kini kosong, banyak warga berharap kawasan tersebut bisa dibangun ulang menjadi ruang yang lebih aman, positif, dan bermanfaat bagi lingkungan.

Sumber: HukamaNews

Artikel terkait lainnya