8 Perusahaan Air Minum Indonesia Akhirnya Ungkap Asal Sumber Airnya!

DEMOCRAZY.ID – Setelah sekian lama menutup rapat asal sumber airnya, delapan perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia akhirnya angkat bicara.

Dalam rapat Komisi VII DPR RI yang digelar pekan ini, mereka mengungkap secara terbuka lokasi mata air yang selama ini menjadi sumber utama produksi.

Langkah ini dinilai sebagai bentuk transparansi yang terlambat, tapi tetap penting.

Selama bertahun-tahun, publik hanya tahu label “air pegunungan alami” di kemasan, tanpa benar-benar mengetahui dari gunung mana air itu berasal.

Delapan Nama yang Akhirnya Terbuka

Dalam rapat yang dikutip dari CNBC Indonesia, delapan perusahaan besar menyatakan asal sumber air mereka. Di antaranya Aqua, Pristine, RON88, dan Al Masoem.

Aqua, merek tertua di industri ini, mengaku mengambil air dari sejumlah gunung di Jawa Barat dan Jawa Timur, termasuk dari sistem pegunungan yang terverifikasi secara ilmiah.

Sementara Pristine menyebut sumber airnya berasal dari Gunung Pangrango — kawasan yang dikenal memiliki karakteristik air mineral alami.

RON88, yang dikelola PT Panfila Indosari, mengambil air dari Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang.

Sedangkan Al Masoem mengungkapkan sumbernya dari wilayah Cileunyi, Jawa Barat.

Empat perusahaan lainnya, yang belum seluruhnya disebutkan ke publik, menyatakan masih menyesuaikan laporan resmi kepada Kementerian ESDM.

Fakta di Balik Label “Air Pegunungan”

Klaim “air pegunungan” menjadi perhatian besar karena menyangkut kepercayaan konsumen.

Tak sedikit masyarakat yang memilih merek air tertentu karena label tersebut diasosiasikan dengan kemurnian dan kualitas tinggi.

Namun, data dari Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN).

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) sempat menunjukkan indikasi adanya penggunaan air tanah biasa oleh sebagian produsen.

Isu ini makin ramai setelah DPR meminta klarifikasi langsung dan mengancam akan melakukan audit sumber air nasional.

Untuk menjawab keraguan publik, pakar hidrogeologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan uji isotop terhadap sampel air Aqua.

Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar air Aqua memang memiliki “DNA geologis” khas pegunungan.

Meski begitu, pakar menegaskan bahwa tidak semua lokasi produksi punya karakteristik yang sama.

Isu Ekologis Mengintai

Di sisi lain, organisasi lingkungan seperti WALHI menyoroti dampak eksploitasi air terhadap debit mata air di beberapa daerah.

Mereka mencatat, di wilayah Cianjur dan Pandeglang, debit air alami menurun hingga 20 persen sejak pabrik air minum berdiri.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa bisnis air bukan sekadar urusan industri, tapi juga menyangkut keberlanjutan ekosistem.

Pemerintah diminta memperketat izin pengambilan air agar tidak merugikan masyarakat sekitar sumber.

Industri Bernilai Triliunan

Menurut data Statista 2025, pasar air minum dalam kemasan di Indonesia mencapai nilai sekitar Rp30 triliun per tahun.

Angka ini menunjukkan betapa besarnya industri air yang bergantung pada sumber daya alam publik.

Namun, tanpa keterbukaan soal sumber air, kepercayaan publik bisa runtuh.

Rapat DPR dianggap momentum penting untuk menegaskan bahwa air adalah hak masyarakat, bukan hanya komoditas bisnis.

Keterbukaan delapan perusahaan ini memang langkah awal, tapi masih panjang menuju kepercayaan penuh.

Publik berhak tahu dari mana air yang mereka minum berasal, bagaimana proses pengambilannya, dan apakah lingkungan sekitar tetap terlindungi.

Air adalah sumber kehidupan. Di balik setiap galon yang kita minum, ada cerita panjang tentang alam, bisnis, dan tanggung jawab moral.

Sumber: PojokSatu

Artikel terkait lainnya