Kronologi Penemuan Bilqis, Sempat Menolak Didekati Petugas, Suara Ayah Menenangkan

DEMOCRAZY.ID – Di Makassar, nama Bilqis menggema seperti doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan.

Seorang balita berusia empat tahun, hilang begitu saja dari Taman Pakui Sayang di Pettarani pada Minggu siang.

Matahari saat itu terik, tetapi dada sang ayah tiba-tiba diguyur dingin ketika menyadari putrinya tak lagi bermain di tempat ia terakhir melihatnya.

Rekaman CCTV yang viral tak banyak memberikan ketenangan—hanya menambah kecamuk: seorang perempuan tak dikenal menggandeng Bilqis, menghilang bersama dua anak lainnya. Sejak itu, kota serasa menahan napas.

Enam hari pencarian adalah waktu yang sangat panjang. Makassar gelisah, grup-grup WhatsApp penuh spekulasi, dan media sosial bergemuruh.

Di balik layar, tim gabungan kepolisian memburu jejak yang kian mengerucut.

Hingga akhirnya, ribuan kilometer dari Makassar, di sebuah sudut terpencil di Tabir Selatan, Merangin, Jambi—pencarian itu menemukan titik terang.

Tempat itu sunyi, gelap, seperti menyembunyikan sesuatu yang tak ingin ditemukan siapa pun. Di situlah Bilqis berada.

Saat tim tiba, suasananya lebih mencekam dari laporan tertulis mana pun. Di pelukan ketakutan, Bilqis menolak didekati.

Tubuh mungilnya bergetar, matanya menatap aparat seperti menatap ancaman baru.

Ia bahkan menduga para polisi hendak menyakitinya—sebuah reaksi yang cukup untuk membuat siapa pun yang hadir merasakan sesak di dada. Trauma itu masih basah, seperti bekas luka yang baru saja digores.

“Coba hubungi orang tuanya,” ujar seorang polisi, memecah kekakuan situasi. Panggilan telepon terkoneksi, suara ayah dan ibunya meluncur dari speaker.

Sejenak, Bilqis terdiam. Lalu tangis kecil itu pecah. Perlahan ia mengulurkan tangan, mendekat, dan untuk pertama kalinya dalam enam hari, ia percaya bahwa ia aman.

Di Makassar, keluarga yang menunggu di seberang layar ponsel pun menangis, lega sekaligus hancur membayangkan apa saja yang mungkin dialami putri mereka.

Di Polsek Merangin, foto Bilqis yang digendong seorang polisi tersebar cepat. Di depannya, tiga orang—dua perempuan dan satu laki-laki—tertunduk lesu.

Mereka diduga bagian dari sindikat penculikan dan jual beli orang, jaringan yang kini mulai terkuak potongan demi potongan.

Di luar frame, publik hanya bisa membayangkan jalur panjang yang membawa seorang balita lintas pulau, dari Sulawesi ke Sumatra, seolah barang yang bisa dikirim lalu disembunyikan.

Bilqis kini berada di tangan yang benar. Ia sedang menjalani pemeriksaan medis dan pendampingan trauma.

Polisi melanjutkan penyelidikan, mencoba menjawab pertanyaan yang sejak hari pertama menggantung: bagaimana seorang anak empat tahun bisa dijauhkan begitu jauh dari rumahnya—dan untuk tujuan apa?

Bagi Makassar, kabar ditemukannya Bilqis adalah kelegaan yang disertai kekhawatiran baru.

Bahwa di tengah hiruk-pikuk kota, di antara taman-taman yang harusnya jadi ruang aman, ada bahaya yang menyelinap dalam bentuk yang tak disangka.

Dan bagi Indonesia, kisah ini adalah pengingat keras: keselamatan seorang anak bukan sekadar urusan keluarga, tetapi tugas negara yang tak boleh lengah, bahkan sedetik pun.

Saat ini, Bilqis bersama para petugas sedang bersiap terbang ke Makassar.

Keluarga Bilqis pun sudah menunggu di bandara, siap menyambut kedatangan bocah 4 tahun yang mereka rindukan.

Sumber: Herald

Artikel terkait lainnya