DEMOCRAZY.ID – Mantan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, Mayjen (Purn) Soenarko, melontarkan kritik tajam terhadap Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.
Hal ini dipicu oleh pernyataan Luhut yang menyebut pihak-pihak yang meminta pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai “kampungan”.
Pernyataan Luhut tersebut disampaikan dalam wawancara di Kompas TV, di mana ia menegaskan bahwa seluruh elemen bangsa harus kompak mendukung pasangan Prabowo-Gibran.
“Ah itu apa sih. Kita itu harus kompak. Ini keadaan dunia begini, ribut-ribut begitu kan kampungan itu,” ujar Luhut saat itu.
Pernyataan tersebut langsung memantik kemarahan dari Soenarko yang merupakan bagian dari Forum Purnawirawan TNI-Polri, kelompok yang sebelumnya mengeluarkan delapan poin seruan, termasuk mendesak Gibran untuk mundur.
“Saya kenal Luhut Pandjaitan dan kita semua juga tahu siapa dia di era Jokowi. Tapi kali ini, dia sudah kelewat batas. Menyebut senior-seniornya di TNI yang mendukung pemakzulan Gibran sebagai kampungan, itu sangat tidak pantas!” tegas Soenarko dalam wawancara di kanal YouTube Refly Harun.
Soenarko bahkan mengungkap kembali ucapan lama Luhut saat Pilpres 2019, di mana Luhut disebut pernah menyindir Prabowo Subianto sebagai “pecatan” yang tak layak menjadi presiden.
“Dulu dia bilang, tentara jadi pecatan masa mau jadi presiden. Sekarang malah dukung Prabowo. Bukankah itu contoh pembohong?” sindirnya.
Mantan perwira tinggi TNI itu tak berhenti di situ. Ia menyebut Luhut sebagai “menteri segala urusan” yang haus kekuasaan.
“Dia rakus jabatan, ngomong seenaknya, menyebut kita kampungan. Saya bilang dia itu pembohong, penjilat, dan sangat serakah,” lanjut Soenarko.
Ia juga mengungkit isu lama saat pandemi Covid-19, di mana perusahaan yang dikaitkan dengan Luhut disebut mengambil keuntungan dari pengadaan alat kesehatan.
Luhut membantah kala itu, menyebut dana digunakan untuk kegiatan sosial.
Namun menurut Soenarko, penjelasan tersebut tidak transparan dan menimbulkan kecurigaan publik.
Soenarko pun menyinggung kembali pernyataan Luhut tentang big data terkait dukungan rakyat terhadap wacana tiga periode Presiden Jokowi.
“Dia bilang punya big data ratusan juta rakyat mau Jokowi tiga periode, tapi pas ditantang mana datanya, diam dia. Pembohong!” tegas Soenarko.
Tak hanya menyebut Luhut sebagai pembohong, Soenarko juga menyebut Luhut menjilat habis-habisan Jokowi demi kekuasaan.
[VIDEO]
Sementara itu, permintaan pemakzulan Gibran Rakabuming Raka mencuat dari berbagai pihak, termasuk purnawirawan tinggi TNI seperti Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno.
Gibran dianggap melanggar konstitusi karena pencalonannya sebagai wapres dianggap dimuluskan lewat perubahan batas usia oleh Mahkamah Konstitusi.
Presiden Jokowi sendiri menyatakan bahwa proses hukum dan konstitusi sudah dijalani, dan menegaskan bahwa pemakzulan hanya bisa dilakukan melalui mekanisme yang tertuang dalam Pasal 7B UUD 1945, yakni melalui DPR, Mahkamah Konstitusi, dan MPR.
Di sisi lain, pengamat politik Agung Baskoro menilai ada dua alasan utama di balik desakan mundur terhadap Gibran: masalah etika yang belum selesai di MK dan lemahnya komunikasi antara Gibran dan Presiden Prabowo dalam enam bulan awal masa pemerintahan.
Sumber: IndoNews