Tiga Kali Tampil Cantik Bela Jokowi, Percayakah Publik Pada Ova Emilia?

Tiga Kali Tampil Cantik Bela Jokowi, Percayakah Publik Pada Ova Emilia?

NAMA Ova Emilia kembali menjadi sorotan publik. Ia berulang kali secara terang-terangan membela Presiden Jokowi dalam kasus dugaan ijazah palsu Universitas Gajah Mada (UGM).

Setidaknya Ova, dokter yang juga Rektor UGM, sudah tiga kali tampil di depan publik untuk keperluan yang sama yakni membela Jokowi.

Banyak yang berasumsi bahwa Ova Emilia membela Jokowi demi menjaga nama baik mantan presiden. Bahkan ada yang menduga Ova Emilia tersandera kasus hukum.

Jika disimak dengan saksama dalam momen Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM Oktober 2025, ada beberapa pernyataan Ova yang justru menelanjangi Jokowi sendiri, namun tak terungkap secara vulgar.

Ova Emilia menyebut Jokowi sebagai alumni Fakultas Kehutanan UGM tahun 1980 karena merujuk pada tahun masuk Jokowi sebagai mahasiswa di Fakultas Kehutanan UGM.

Pernyataan ini menimbulkan perdebatan karena banyak yang menganggap bahwa tahun alumni seharusnya merujuk pada tahun lulus, bukan tahun masuk. Data foto copy KPU, Jokowi lulus dari UGM pada tahun 1985.

Dalam sambutannya, Ova Emilia menyampaikan penghormatan khusus kepada Jokowi sebagai alumni kebanggaan keluarga besar Fakultas Kehutanan UGM. Padahal Jokowi sendiri mengaku IPK-nya tidak sampai 2.

Ova menyebut bahwa UGM memiliki dokumen otentik yang mencatat seluruh tahapan pendidikan Jokowi.

Pernyataan Ova Emilia ini menuai kritik terkait keaslian ijazah Jokowi yang masih menjadi perdebatan publik.

Lagi-lagi seluruh narasi Ova tanpa dibarengi data dan dokumen pendukung.

Pernyataan Ova Emilia jelas “blunder” dan menimbulkan tanda tanya baru.

Bahkan lebih parah dapat memperburuk keadaan dan meminta agar sang Rektor lebih baik fokus mengurus kampus.

Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM diadakan pada 17 Oktober 2025, sedangkan tanggal kelahiran fakultas tersebut jatuh pada 17 Agustus.

Ini menimbulkan pertanyaan karena seharusnya Dies Natalis digelar antara 18-24 Agustus setiap tahunnya.

Ova Emilia, tidak menyebut gelar Insinyur atau Ir. Joko Widodo dalam sambutannya, berbeda dengan konferensi pers tahun 2022.

Rektor UGM hanya menyebut Jokowi sebagai alumni UGM tahun 1980, tanpa menyebutkan tahun 1985 yang diklaim sebagai tahun kelulusan Jokowi sebagai insinyur.

Ini menimbulkan pertanyaan tentang definisi alumni di UGM dan apakah Jokowi benar-benar lulus dari fakultas tersebut.

Jokowi disebutkan kuliah di Jurusan Teknologi Kayu, namun tidak ada catatan resmi fakultas tentang jurusan tersebut.

Dalam perspektif lain Ova dengan cantik ingin mengatakan bahwa Jokowi memang bukan lulusan UGM, maka tak perlu menyebut titel akademiknya.

Beberapa orang mempertanyakan maksud kehadiran Jokowi dalam acara tersebut, apakah untuk menjerumuskan atau memuliakan Jokowi. Sebab para alumnus lainnya terlihat canggung dan seakan tidak akrab.

Ada kesan Ova kelebihan banyak waktu, sehingga sebagian besar waktunya hanya dicurahkan untuk Jokowi.

Ova sebaiknya jangan tutup mata terhadap persoalan ijazah palsu Jokowi.

Ova lupa bahwa peran moral dalam hukum sangat penting dan kompleks karena hukum sering kali didasarkan pada nilai-nilai moral yang dianut oleh masyarakat.

Moralitas masyarakat meyakini bahwa ijazah Jokowi palsu. Keyakinan ini didasarkan oleh cara Jokowi berkilah, cara polisi menangani kasus, dan cara Ova Emilia membela mati-matian Jokowi.

Rektorat UGM dan Pengadilan bisa saja mengeluarkan dokumen tambahan tentang keaslian ijazah Jokowi, tetapi publik tetap tak percaya.

Jangan paksa rakyat untuk percaya pada skenario penguasa. Keaslian ijazah Jokowi sudah tidak penting bagi masyarakat.

Yang dipentingkan adalah kejujuran, kerendahan hati, dan kearifan. Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto lebih elegan mengakui hanya tamatan Sekolah Dasar, toh publik tak menuntut macam-macam.

Nasi telah menjadi bubur, Jokowi sudah telanjur mengaku insinyur. Semua terasa buntu.

Padahal tidak, Jokowi bisa membuat pernyataan bahwa selama ini ia telah melakukan rekayasa melibatkan UGM, Kepolisian, dan Pengadilan.

Demi kebaikan bersama, Jokowi mintalah maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Rakyat Insya Allah memaafkannya. ***

Artikel terkait lainnya