Donald Trump Ngamuk: Saya Tidak Mau Paus ‘Mengkritik’ Presiden Amerika Serikat!

DEMOCRAZY.ID – Ketegangan diplomatik antara Gedung Putih dan Vatikan mencapai titik didih baru setelah munculnya kecaman terbuka.

Donald Trump secara agresif menyerang integritas Paus Leo XIV yang dianggap menghambat langkah Amerika Serikat di perang dengan Iran.

Dikutip dari CNN, perselisihan ini bukan sekadar retorika politik melainkan benturan antara kekuatan militer dan otoritas moral internasional.

Dikutip dari CNN, kritik ini mencuat seiring dengan upaya kepausan yang semakin vokal menentang eskalasi perang di Timur Tengah.

Dominasi narasi nasionalisme Amerika kini berhadapan langsung dengan visi perdamaian universal yang diusung oleh Vatikan.

Sebelumnya, Paus Leo XIV secara konsisten memperingatkan dunia tentang bahaya penggunaan kekuatan senjata pemusnah massal.

Donald Trump secara tegas menyatakan ketidaksukaannya terhadap perspektif yang dianggap melemahkan posisi tawar Amerika tersebut.

“Kita tidak suka Paus yang akan mengatakan bahwa tidak apa-apa memiliki senjata nuklir,” ujar Trump kepada wartawan.

Ia menambahkan kekhawatiran terkait pengelolaan negara yang memiliki ambisi nuklir yang dianggap bisa membahayakan stabilitas dunia.

“Dia adalah pria yang tidak berpikir bahwa kita harus bermain-main dengan negara yang menginginkan senjata nuklir agar mereka bisa meledakkan dunia,” tutur Trump.

Teguran Keras Terhadap Sosok Paus

Sentimen negatif Trump terhadap pemimpin tertinggi umat Katolik tersebut disampaikan dengan nada yang sangat personal.

Mantan pengusaha ini secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap figur pertama asal Amerika yang menduduki takhta suci.

“Saya bukan penggemar Paus Leo,” tegas Trump mengenai pandangannya terhadap sang pontifex.

Trump juga melontarkan tudingan melalui platform media sosialnya terkait kualitas kepemimpinan yang dimiliki oleh Paus.

“Paus Leo lemah dalam hal Kriminalitas, dan sangat buruk untuk Kebijakan Luar Negeri,” tulis Trump di Truth Social.

Paus Leo XIV sebelumnya memberikan kecaman terhadap ancaman militer yang dilepaskan AS terhadap rakyat Iran.

Otoritas Vatikan menilai bahwa retorika yang mengarah pada kehancuran sebuah peradaban adalah hal yang tidak bisa diterima.

Menanggapi penggunaan terminologi agama dalam perang, Paus menekankan bahwa sosok spiritual tidak bisa dijadikan alat pembenaran.

“Yesus adalah raja damai, yang menolak perang, yang tidak seorang pun dapat menggunakannya untuk membenarkan perang,” ungkap Paus Leo XIV.

Beliau juga menegaskan bahwa doa bagi mereka yang mengobarkan peperangan tidak akan mendapatkan tempat yang semestinya.

“Dia tidak mendengarkan doa mereka yang berperang tetapi menolak mereka,” tambah sang Paus dalam pesannya.

Kritik Terhadap Operasi Militer di Venezuela

Fokus ketegangan ini juga meluas hingga ke wilayah Amerika Selatan, khususnya terkait penggulingan kekuasaan di Venezuela.

Paus Leo XIV menyerukan agar kedaulatan rakyat dihormati pasca operasi penangkapan pemimpin Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika.

Trump merespons dengan menyatakan bahwa pemimpin agama tidak seharusnya mengintervensi langkah-langkah politik seorang presiden.

“Saya tidak ingin Paus yang mengkritik Presiden Amerika Serikat,” ujar Trump menanggapi sikap kritis Vatikan.

Ia bahkan mengklaim bahwa pemilihan Paus Leo XIV hanyalah sebuah strategi politik gereja untuk menghadapi dirinya.

Pihak resmi Vatikan melalui Fr. Antonio Spadaro melihat serangan Trump sebagai bentuk ketidakberdayaan dalam menghadapi suara moral.

Menurut Spadaro, Trump berusaha menyeret Paus ke dalam pola komunikasi yang didasarkan pada kekuatan dan keamanan semata.

“Trump tidak mendebat Leo: dia memohon kepadanya untuk mundur ke dalam bahasa yang dapat dia kuasai,” tulis Spadaro di platform X.

Ia menilai bahwa Paus Leo XIV menggunakan tata bahasa yang melampaui kepentingan nasional suatu negara tertentu.

“Tetapi Paus berbicara dengan bahasa lain, bahasa yang menolak untuk direduksi menjadi tata bahasa kekuatan, keamanan, dan kepentingan nasional,” tegas Spadaro.

Kekuatan Moral di Tengah Isu Global

Kehadiran Paus Leo XIV di panggung internasional dianggap sebagai ancaman bagi dominasi narasi politik yang agresif.

Vatikan menekankan bahwa perdamaian yang langgeng hanya bisa dicapai melalui dialog yang jujur dan rasa keadilan.

“Komitmen untuk membangun dunia yang lebih aman dan bebas dari ancaman nuklir harus diupayakan melalui pertemuan yang saling menghormati dan dialog yang tulus,” kata Paus.

Upaya ini ditujukan untuk membangun persaudaraan dan kebaikan bersama di tengah ancaman serangan terhadap situs nuklir.

“Untuk membangun perdamaian abadi, yang didasarkan pada keadilan, persaudaraan, dan kebaikan bersama,” pungkas sang Paus.

Konflik ini bermula dari perbedaan tajam antara kebijakan luar negeri pemerintahan Trump yang agresif dengan prinsip kemanusiaan Vatikan.

Ketegangan meningkat saat AS mengancam akan menghancurkan peradaban Iran sebelum gencatan senjata dua minggu tercapai.

Di sisi lain, Paus Leo XIV, sebagai Paus asal Amerika pertama, memiliki pengaruh besar terhadap pemilih Katolik moderat di AS.

Perselisihan ini juga mencakup isu migrasi dan intervensi militer di Venezuela yang semakin menjauhkan hubungan kedua pemimpin tersebut.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya