DEMOCRAZY.ID – Pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Leo XIV menyerukan diakhirinya perang di Iran dan mendesak para pemimpin dunia untuk mengedepankan dialog ketimbang kekuatan militer.
Ini disampaikan dalam pesan damai yang disampaikan saat doa bersama di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Sabtu (11/4/2026).
Seruan tersebut kemudian memicu tanggapan beragam, termasuk dari Vatikan sendiri dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang melontarkan kritik keras.
Dalam pernyataannya, Paus Leo XIV menyoroti eskalasi konflik global dan mengkritik kecenderungan penggunaan kekuatan militer.
“Cukup dengan penyembahan terhadap diri sendiri dan uang! Cukup dengan pamer kekuatan! Cukup dengan perang!” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kekuatan sejati tidak diukur dari dominasi militer, melainkan dari kemampuan melayani kehidupan.
“Kekuatan sejati ditunjukkan dengan melayani kehidupan,” tambahnya.
Paus juga menyoroti penderitaan warga sipil di wilayah konflik, termasuk anak-anak yang terdampak perang.
“Saya menerima banyak sekali surat dari anak-anak di zona konflik… Mari kita dengarkan suara anak-anak!” katanya.
Ia kemudian menyerukan agar para pemimpin dunia segera kembali ke meja perundingan.
“Kami menyeru mereka, berhenti! Ini adalah waktunya perdamaian! Duduklah di meja dialog dan mediasi,” ujarnya.
Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, menegaskan bahwa seruan damai Paus Leo XIV bukan hanya pesan moral, tetapi membutuhkan dukungan konkret dari komunitas internasional.
Parolin menilai bahwa tanpa aksi nyata, suara Paus berisiko tidak memiliki dampak signifikan di tengah dinamika geopolitik global.
Ia bahkan menggambarkan kondisi tersebut sebagai “suara yang berseru di padang gurun” jika hanya didengar tanpa ditindaklanjuti.
Mengutip EWTN News, Parolin juga mengaitkan seruan itu dengan momentum doa bersama untuk perdamaian yang dipimpin Paus di Basilika Santo Petrus.
Menurutnya, momen tersebut menjadi simbol penting untuk memperkuat solidaritas global serta mendorong aksi nyata demi perdamaian dunia.
Menanggapi pernyataan Paus Leo XIV, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik keras melalui unggahan di platform Truth Social.
Trump menyebut Paus Leo XIV sebagai sosok yang “lemah terhadap kejahatan” dan “buruk dalam kebijakan luar negeri”.
Ia juga mendesak agar Paus “berbenah” dalam menjalankan perannya.
“Saya tidak menginginkan seorang Paus yang menganggap tidak masalah bagi Iran memiliki senjata nuklir,” tulis Trump.
Ia menegaskan bahwa Paus seharusnya fokus pada peran spiritual dan tidak mencampuri urusan politik global.
“Leo harus berbenah sebagai Paus, menggunakan akal sehat, berhenti melayani kelompok kiri radikal, dan fokus menjadi Paus yang hebat, bukan seorang politisi,” ujarnya.
Trump juga mengklaim bahwa terpilihnya Paus Leo XIV—Paus pertama kelahiran Amerika Serikat—tidak lepas dari dinamika politik di Washington.
“Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan,” kata Trump.
Di tengah memanasnya ketegangan antara Gedung Putih dan Vatikan, dukungan umat Katolik di Amerika Serikat terhadap Trump dilaporkan mengalami penurunan.
Berdasarkan survei Pew Research Center pada Februari 2026, tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump menurun di berbagai kelompok agama.
Di kalangan Katolik kulit putih, tingkat persetujuan turun dari 59 persen menjadi 52 persen. Sementara di kalangan Katolik Hispanik, angkanya turun dari 31 persen menjadi 23 persen.
Dukungan terhadap agenda Trump juga mengalami penurunan. Pada kelompok Katolik kulit putih, dukungan turun dari 51 persen menjadi 46 persen, sementara pada Katolik Hispanik dari 20 persen menjadi 18 persen.
Selain itu, persepsi bahwa Trump bertindak secara etis dalam jabatannya juga menurun di semua kelompok agama, termasuk umat Katolik. Survei ini melibatkan 8.512 responden dan dilakukan pada 20–26 Januari 2026 dengan margin of error sekitar 1,4 poin persentase.
Di sisi lain, citra Paus Leo XIV justru menunjukkan tren positif di mata publik Amerika.
Survei yang dilakukan NBC News menemukan bahwa sekitar 10 bulan setelah masa kepausannya, Paus Leo dipandang lebih positif dibandingkan Trump.
Sebanyak 23 persen responden menilai Paus secara “sangat positif” dan 19 persen “cukup positif”, sementara hanya 8 persen yang memandangnya negatif.
Sebaliknya, Trump memperoleh penilaian positif dari 41 persen responden dan negatif dari 53 persen, menghasilkan selisih negatif.
Survei NBC News tersebut melibatkan 1.000 pemilih terdaftar dan dilakukan pada akhir Februari hingga awal Maret 2026, dengan margin of error sekitar 3,1 poin persentase.
Sumber: Tribun