DEMOCRAZY.ID – Gencatan senjata dua minggu yang baru saja disepakati antara Amerika Serikat dan Iran, Rabu (8/4/2026) kini berada di ujung tanduk.
Hanya dalam hitungan jam setelah kesepakatan diumumkan pada Rabu, 8 April 2026, gelombang kekerasan dahsyat melanda Libanon.
Lautan darah di Libanon ini memicu ancaman penutupan kembali Selat Hormuz oleh Teheran.
Apocalyptic scenes in Lebanon’s capital right now.
Israel has launched 100 airstrikes on Lebanon in 10 minutes.
Striking South Lebanon, Beirut and the Bekaa Valley simultaneously.
This isn’t a ceasefire.
It’s mass bombardment of civilian areas. pic.twitter.com/ygTf2Pscrn
Baca Juga— sarah (@sahouraxo) April 8, 2026
Ketegangan memuncak ketika militer Israel melancarkan lebih dari 100 serangan udara dalam waktu 10 menit ke wilayah Libanon, termasuk Beirut.
Kementerian Kesehatan Libanon melaporkan sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 lainnya luka-luka dalam apa yang disebut sebagai hari paling mematikan sejak konflik pecah Februari lalu.
Komisaris Tinggi PBB untuk HAM, Volker Türk, mengecam keras serangan ini sebagai pembantaian yang tidak masuk akal, yang terjadi tepat saat perdamaian baru saja diupayakan.
BREAKING 🚨 Israel is unleashing hell on Lebanon’s capital Beirut in response to Trump’s call for ceasefire. Lebanon is The most Christian country in the middle east. Israel is demonic. pic.twitter.com/1zFodLr7Fh
— Syrian Girl (@Partisangirl) April 8, 2026
Inti dari rapuhnya kesepakatan ini adalah ketidaksepakatan mengenai cakupan wilayah gencatan senjata:
Konflik semakin rumit karena perbedaan tafsir soal cakupan gencatan senjata. Iran bersikeras Lebanon termasuk dalam kesepakatan, sementara AS dan Israel menolaknya.
🇮🇷🇺🇸 The ceasefire is less than 24 hours old and it’s already being torn apart over Lebanon…
Here’s the situation.
Pakistan announced the ceasefire applied “everywhere, including Lebanon.” Iran agreed on that basis.
Then Netanyahu called Trump minutes before the… https://t.co/fDknj2kEbq pic.twitter.com/2Qs098U0GJ
— Mario Nawfal (@MarioNawfal) April 8, 2026
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan operasi militer terhadap Hizbullah di Libanon akan terus berlanjut.
Iran merespons keras. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyebut bola kini di tangan AS dan menuduh Washington melanggar komitmen.
Teheran bahkan mengancam akan kembali ke pertahanan skala penuh jika serangan ke Libanon tidak dihentikan.
Menanggapi serangan Israel, Iran kembali menghentikan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dunia.
Teheran juga mengancam akan mengenakan biaya transit hingga $2 juta per kapal, sebuah langkah yang disebut Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, sebagai tindakan yang sama sekali tidak dapat diterima.
Wakil Presiden AS, JD Vance, memberikan peringatan keras dari Budapest.
Ia menegaskan bahwa jika Iran tidak segera membuka kembali selat tersebut, AS tidak akan lagi mematuhi ketentuan gencatan senjata.
“Presiden sangat jelas: kesepakatan ini adalah timbal balik. Jika mereka tidak memenuhi bagian mereka, akan ada konsekuensi serius,” ujar Vance.
Situasi semakin keruh dengan adanya laporan serangan balasan:
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan mereka sedang menyiapkan balasan yang akan membuat menyesal terhadap Israel dan memperingatkan AS untuk segera menghentikan agresi di Libanon.
Kini, nasib perdamaian bergantung pada pembicaraan tingkat tinggi yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada hari Jumat (10/4/2026).
Namun, dengan moncong senjata yang masih panas di Beirut dan blokade di Selat Hormuz, jalur diplomasi tampak semakin sempit.
Pertemuan di Islamabad pada 10 April menjadi titik krusial. Iran bahkan mengancam tidak akan hadir jika:
Di sisi lain, AS bersikeras kedua isu tersebut bukan bagian dari kesepakatan utama.
Dengan perbedaan tajam ini, masa depan gencatan senjata masih penuh ketidakpastian, antara peluang damai atau kembali ke konflik terbuka.
Sumber: Tribun