DEMOCRAZY.ID – Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) baru saja membongkar fakta mengejutkan di balik layar terkait jalannya Perang Iran-AS yang telah berlangsung selama lebih dari lima pekan terakhir.
Narasi kedigdayaan militer yang selama ini dibangun oleh Pemerintah Washington dan Rezim Zionis ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan di meja diplomasi rahasia.
Menyitat Tansim News, SNSC melaporkan bahwa rezim Zionis dan Washington sudah secara diam-diam memohon Gencatan Senjata sejak hari kesepuluh karena menyadari kekalahan dan tidak mampunya menghadapi eskalasi di lapangan.
Pada awal meletusnya perang ini pada 28 Februari lalu, negara-negara Barat dinilai begitu jemawa dan mengira bisa mendominasi Teheran secara militer dalam waktu yang sangat singkat.
Namun, kalkulasi di atas kertas tersebut hancur berantakan ketika pasukan Iran beserta poros perlawanan mulai menghujani infrastruktur vital musuh di seluruh kawasan Timur Tengah.
AS-Israel disebut-sebut langsung panik dan mulai mencari berbagai saluran komunikasi rahasia untuk memohon penghentian serangan.
“Musuh menyadari sekitar 10 hari setelah dimulainya perang bahwa mereka tidak akan mampu memenangkan perang ini dengan cara apa pun, dan karena alasan ini, mereka mulai mencoba berkomunikasi dengan Iran melalui berbagai saluran dan metode serta meminta gencatan senjata, demikian pernyataan SNSC dikutip dari Tasnim News, Rabu (8/4/2026).
Fakta ini, terus berlangsung selama lebih dari satu bulan, di mana pihak lawan terus mengemis agar hujan rudal dan drone segera dihentikan, namun selalu ditolak oleh pejabat tinggi di Teheran.
Sikap keras kepala Teheran ini juga dibuktikan dengan penolakan berkali-kali terhadap tenggat waktu palsu yang sempat dilontarkan oleh Presiden AS kepada publik internasional.
Kini, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif secara resmi telah memberi tahu Teheran bahwa kubu Amerika akhirnya benar-benar menyerah pada kehendak tangguh rakyat Iran.
Washington diklaim telah menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dan menerima 10 poin rencana penyelesaian konflik yang diajukan oleh Iran sebagai dasar utama negosiasi.
Poin-poin tersebut meliputi jaminan non-agresi dari AS, pengakuan hak Iran atas pengayaan uranium, pencabutan semua sanksi, hingga pembayaran kompensasi atas kerusakan perang.
Proposal tersebut juga menuntut penarikan seluruh pasukan tempur AS dari wilayah tersebut dan penghentian perang di semua lini, termasuk terhadap perlawanan di Lebanon.
Selain itu, Iran tetap menuntut kontrol penuh atas Selat Hormuz, yang akan memberi Teheran posisi ekonomi dan geopolitik yang tak tertandingi di kawasan tersebut.
Presiden Donald Trump sendiri mengonfirmasi kesepakatan ini melalui platform Truth Social, menyatakan bahwa AS menangguhkan serangan karena tujuan militer telah tercapai.
“Ini akan menjadi CEASEFIRE dua sisi,” tulis Trump, seraya menambahkan bahwa pembukaan Selat Hormuz secara aman dan segera adalah syarat utama gencatan senjata ini.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi kesepakatan sementara ini, namun menekankan bahwa keamanan pelayaran di Selat Hormuz akan tetap berada di bawah koordinasi Angkatan Bersenjata Iran.
Perundingan bersejarah ini rencananya akan mulai diselenggarakan secara intensif di ibu kota Islamabad pada hari Jumat, 10 April 2026 mendatang.
Meski AS-Israel sudah menyerah dan negosiasi dijadwalkan berlangsung, Dewan Keamanan Nasional mengingatkan rakyatnya bahwa mereka berangkat dengan rasa ketidakpercayaan penuh terhadap AS.
Menyitat Tasnim News, pasukan militer Iran memastikan bahwa jari mereka saat ini masih menempel kuat di pelatuk senjata dan siap memberikan balasan mematikan jika musuh berani melakukan kesalahan sekecil apa pun.
Sementara itu, Israel menyatakan mendukung keputusan Trump, namun menegaskan bahwa gencatan senjata tersebut tidak berlaku untuk operasi militer mereka di Lebanon.
Sumber: Suara