DEMOCRAZY.ID – Nama Therese Halasa kembali menjadi perbincangan di kalangan pemerhati sejarah konflik Timur Tengah.
Perempuan kelahiran Akka (Acre) ini bukan sekadar aktivis biasa; dia adalah sosok di balik salah satu aksi pembajakan pesawat paling dramatis dalam sejarah, yang mempertemukannya langsung di ujung senjata dengan tokoh-tokoh besar Israel.
Dirangkum dari berbagai sumber, Senin (6/4/2026), berikut adalah profil dan rekam jejak Therese Halasa, sang srikandi perlawanan Palestina.
Lahir dari keluarga Kristen di Akka pada tahun 1954, Therese Halasa tumbuh di tengah gejolak pendudukan Israel.
Di usia yang baru menginjak 18 tahun, dia memutuskan bergabung dengan organisasi Black September.
Puncak aksinya terjadi pada 8 Mei 1972. Halasa menjadi satu dari empat anggota unit komando yang membajak pesawat Sabena Penerbangan 571 rute Wina-Tel Aviv.
Misi mereka jelas: menuntut pembebasan 315 tahanan Palestina yang mendekam di penjara Israel.
Drama pembajakan ini mencapai titik nadir saat pesawat mendarat di Bandara Lod (sekarang Bandara Ben Gurion).
Militer Israel meluncurkan “Operasi Isotope” untuk membebaskan para sandera.
Unit elite Sayeret Matkal dikerahkan, dipimpin oleh Ehud Barak. Di antara para komando yang menyamar sebagai teknisi pesawat, terdapat sosok pemuda bernama Benjamin Netanyahu, yang sekarang menjadi Perdana Menteri Israel dengan masa jabatan terlama.
Dalam baku tembak yang sengit di dalam kabin pesawat, Netanyahu dilaporkan tertembak di bagian lengan.
Hingga kini, perdebatan sejarah masih menyelimuti peristiwa tersebut; apakah dia tertembak oleh peluru Halasa atau jadi korban insiden “friendly fire” saat berusaha melumpuhkan sang aktivis perempuan tersebut.
Pasca-operasi tersebut, Halasa ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara 220 tahun. Namun, sejarah berkata lain.
Dia hanya menjalani hukuman selama 11 tahun sebelum akhirnya dibebaskan pada tahun 1983 melalui proses pertukaran tawanan yang melibatkan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).
Setelah bebas, dia diasingkan ke Yordania. Di sana, Halasa memilih jalan pengabdian sebagai perawat dan tetap vokal menyuarakan hak-hak penyandang disabilitas serta perjuangan kemerdekaan Palestina hingga akhir hayatnya.
Therese Halasa mengembuskan napas terakhirnya di Amman, Yordania, pada 28 Maret 2020 akibat komplikasi kanker paru-paru.
Kepergiannya ditangisi oleh ribuan warga Palestina yang menganggapnya sebagai simbol keberanian perempuan dalam melawan pendudukan Israel.
Bagi pendukungnya, dia adalah pahlawan nasional. Namun bagi pihak Zionis Israel, dia tetap dicatat sebagai sosok militan yang berbahaya.
Terlepas dari kontroversi tersebut, nama Therese Halasa telah terukir dalam lembaran sejarah panjang konflik Arab-Israel.
Sumber: SINDO