Kekuatan Rudal Iran Bikin AS Terkejut, Tak Tumbang Meski Dibombardir 11.000 Kali

DEMOCRAZY.ID – Kemampuan militer Iran kembali menjadi sorotan setelah laporan intelijen Amerika Serikat (AS) mengungkap bahwa sistem rudal Teheran masih tetap berfungsi dengan baik, meski telah dihantam serangan.

Temuan ini memunculkan tanda tanya besar di kalangan pejabat pertahanan AS karena dinilai bertolak belakang dengan klaim publik pemerintah mengenai keberhasilan operasi militer.

Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, sebelumnya menyatakan bahwa serangan yang dilakukan telah menurunkan aktivitas militer Iran secara signifikan.

Ia mengklaim serangan rudal dan drone Iran menurun hingga 90 persen, sementara sebagian besar fasilitas produksinya disebut mengalami kerusakan serius.

Pernyataan serupa juga disampaikan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang menilai berkurangnya jumlah peluncuran rudal sebagai bukti keberhasilan operasi militer Amerika Serikat dan sekutunya.

Namun, laporan intelijen yang dikutip dari The New York Times justru memberikan gambaran berbeda.

Para pejabat intelijen menyebut bahwa Iran masih mampu mengoperasikan sebagian besar sistem rudalnya.

Sehingga peluncur rudal bisa kembali digunakan hanya dalam hitungan jam meski AS dan sekutunya melancarkan serangan besar-besaran sebanyak 11.000 kali dalam kurun waktu lima minggu terakhir.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa kemampuan militer Iran tidak mudah dilumpuhkan, sekaligus menggambarkan kompleksitas operasi di lapangan yang jauh lebih rumit dari perkiraan awal.

Strategi Iran Bikin AS Kewalahan

Adapun salah satu faktor utama yang membuat kemampuan militer Iran tetap bertahan di tengah gempuran adalah kecepatan dalam memulihkan fasilitasnya.

Berdasarkan temuan intelijen Amerika Serikat, bunker dan silo rudal bawah tanah yang sempat rusak akibat serangan dapat kembali difungsikan hanya dalam hitungan jam.

Kondisi ini memungkinkan Iran tetap meluncurkan rudal meskipun tekanan militer dari luar terus meningkat.

Selain itu, Iran juga dinilai mengubah pendekatan strateginya di medan perang. Teheran disebut mulai menyebarkan peluncur rudal ke berbagai lokasi, memperkuat perlindungan fasilitas bawah tanah, serta menghemat penggunaan persenjataan untuk menjaga daya tahan dalam jangka panjang.

Strategi ini membuat Iran tetap mampu memberikan tekanan secara konsisten tanpa harus melakukan serangan besar-besaran yang berisiko tinggi.

Perubahan taktik tersebut terlihat dari pola serangan yang kini lebih terukur. Iran dilaporkan meluncurkan sekitar 15 hingga 30 rudal balistik serta puluhan drone setiap hari, namun dilakukan dalam skala kecil dan bertahap.

Pendekatan ini dinilai efektif untuk menjaga keberlanjutan operasi militer sekaligus menghindari kerugian besar dalam satu waktu.

Laporan dari media Israel, Haaretz, turut memperkuat temuan tersebut. Disebutkan bahwa Iran menggunakan alat berat untuk menggali kembali peluncur rudal yang sempat tertimbun akibat serangan udara.

Upaya pemulihan yang cepat ini menunjukkan bahwa kesiapan logistik dan organisasi militer Iran masih terjaga dengan baik, meskipun berada di bawah tekanan serangan yang intens.

Intelijen: Iran Bisa Serang Balik AS

Sejalan dengan itu, laporan intelijen Amerika Serikat mengungkap bahwa kekuatan militer Iran belum sepenuhnya lumpuh.

Meski telah digempur selama berminggu-minggu oleh operasi militer Amerika Serikat dan Israel, Teheran dinilai masih memiliki kemampuan untuk melakukan serangan balasan.

Sumber yang mengetahui isi laporan tersebut menyebut bahwa Iran masih menyimpan kapasitas ofensif yang signifikan.

Dalam laporan yang dikutip dari Anadolu Agency, disebutkan bahwa Iran tetap berada dalam posisi siap untuk menimbulkan dampak besar di kawasan jika konflik terus berlanjut.

Intelijen AS juga menegaskan bahwa Iran masih memiliki stok rudal dalam jumlah besar serta sistem peluncur yang masih dapat digunakan.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa potensi eskalasi konflik di Timur Tengah masih sangat tinggi, terutama jika Iran memanfaatkan sisa kekuatan militernya untuk melancarkan serangan balasan.

Situasi tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa konflik masih berpotensi berkembang lebih luas dan sulit dikendalikan dalam waktu dekat.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya