✍🏻 Nury Vittachi
TERUNGKAP: Badan intelijen Israel, Mossad, menjual rencana kepada Donald Trump untuk menumbangkan Iran secara instan—namun rencana itu memiliki satu kelemahan fatal.
Dan satu kesalahan kecil itu telah menempatkan Amerika Serikat tepat di garis bidik perang yang tidak bisa dimenangkannya—serta menciptakan kepanikan global atas harga minyak.
Dossier (berkas) sangat rahasia yang dijual ke AS oleh Direktur Mossad David Barnea memiliki argumen yang jelas, yang dapat kita ringkas menjadi narasi empat bagian.
Jaringan “LSM Iran” palsu di Barat akan menyebarkan cerita bahwa Iran telah membantai 30.000 atau lebih pengunjuk rasa damai. Cerita ini akan disebarkan untuk memanipulasi persetujuan publik ( manufacturing consent) agar Barat bisa melancarkan perang melawan Iran.
Amerika akan menuntut adanya negosiasi dengan pihak Iran untuk mengalihkan perhatian mereka, dengan membuat mereka fokus pada rencana perdamaian.
Selama pengalihan perhatian ini, angkatan udara AS dan Israel kemudian akan meluncurkan serangan yang akan melenyapkan seluruh pemerintahan Iran, membiarkan semua kursi kekuasaan kosong—termasuk para negosiator perdamaian.
Anggota oposisi ekstrem radikal di Iran, yang dibina oleh Mossad, CIA, dan NED, kemudian akan mengambil alih kendali negara—dan menobatkan boneka AS, Reza Pahlavi, sebagai perpanjangan tangan Washington dan Tel Aviv.
Dan tahukah Anda? Setiap bagian dari rencana itu berjalan sempurna. Kecuali, ada satu detail kunci yang mereka salah perhitungan. Dan hal itu meruntuhkan seluruh bangunan rencana tersebut.
Cerita ini sebenarnya bermula pada bulan Januari. Mossad dan CIA bekerja sama dengan anggota oposisi radikal di Iran untuk meluncurkan kudeta pada awal Januari, di mana orang-orang bersenjata menghancurkan 700 toko, 305 ambulans dan bus, 414 gedung pelayanan sipil, dan 750 bank. [LIHAT VIDEO]
Mereka menyerang 350 masjid—hal yang sangat aneh bagi perusuh yang katanya Muslim—tetapi mereka tidak menyerang satu pun sinagoga.
Ini adalah pemberontakan besar di mana orang-orang di semua sisi kehilangan nyawa, dengan lebih dari 3.000 orang tewas setelah kudeta dipadamkan.
Namun kudeta bersenjata ini dikemas ulang oleh LSM palsu di Barat sebagai pembantaian terhadap setidaknya 30.000 pengunjuk rasa damai—atau mungkin 50.000 atau 70.000—oleh “rezim”. Mossad ingin angka palsu tersebut lebih besar dari jumlah sebenarnya orang yang dibunuh IDF di Gaza. Supaya Iran dianggap lebih kejam dari pemerintahan mana pun
Bagian ini berhasil sempurna. Di sini majalah Time melaporkan bahwa 30.000 orang tewas. Sebagian besar media Barat mendukung hal ini. Tidak satu pun dari mereka melaporkan bahwa pendanaan untuk LSM-LSM ini dapat dilacak kembali ke kelompok propaganda politik Barat seperti NED, sebuah kelompok binaan CIA.
Bagian kedua dari rencana tersebut juga berjalan lebih baik daripada yang mereka harapkan. Amerika tidak hanya berhasil mengadakan “negosiasi perdamaian”, tetapi pihak Iran sebenarnya membuat banyak konsesi, memberikan hampir semua yang diinginkan Washington.
Jadi Amerika bisa saja melanjutkan hal tersebut dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun AS dan Israel memutuskan untuk tetap melanjutkan Bagian Tiga. (Mungkin demi ‘kesenangan’ lebih?)
Dan tahukah Anda? Itu juga berhasil sempurna, dari awal hingga akhir—dalam sebuah serangan mendadak yang tidak diprovokasi, AS dan Israel tidak hanya membunuh pemimpinnya, tetapi 40 anggota pemerintah Iran!!
Bayangkan kemarahan yang akan terjadi jika ada negara yang melenyapkan seluruh pemerintahan Inggris, Jerman, Kanada, atau Australia. Media dunia akan menulis tajuk rencana tentang hal itu selama bertahun-tahun, benar-benar bertahun-tahun.
Plot Mossad-CIA berjalan persis seperti yang direncanakan. Yang perlu mereka lakukan hanyalah mencapai bagian empat: pengalihan kekuasaan kepada sosok Juan Guaidó versi Iran—seorang pria yang sudah terpilih dan menunggu di balik layar.
Media Barat menginisiasi dan mendisain pendukung oposisi di Iran untuk direkam saat mengekspresikan kegembiraan, dan mencoba berpura-pura bahwa ini mewakili “seluruh” rakyat Iran.
Namun ini jelas tidak benar. Sebagian besar warga Iran, termasuk orang-orang yang terlibat dalam protes kekerasan Januari, merasa hal itu mengerikan dan keterlaluan
Di sinilah kesalahan fatal itu muncul. Rencana Mossad gagal memperhitungkan satu hal. Telah terjadi perubahan sikap tahun lalu.
Antara tanggal 13 dan 24 Juni 2025, Israel menyerang Iran, membunuh ilmuwan nuklir, politisi, dan warga sipil, serta anggota angkatan bersenjata. Itu juga, jelas, merupakan serangan ilegal yang tidak diprovokasi.
Tidak ada pemimpin Barat yang peduli—tetapi rakyat Iran, dari semua partai politik, sangat peduli. Mereka murka.
Mengapa Israel dan Amerika Serikat diizinkan begitu saja membunuh orang di negara lain dan lolos begitu saja? Dukungan terhadap pemerintah Iran melonjak drastis.
Mossad berasumsi bahwa karena kontak mereka—anggota radikal ekstrem dari kelompok oposisi—masih menentang pemerintah, maka banyak rakyat Iran juga demikian. Tapi itu tidak benar. Rakyat Iran secara umum telah menjadi jauh lebih mendukung pemerintah mereka, dan menentang AS serta Israel, dibandingkan apa yang diyakini Mossad.
Donald Trump mengatakan kepada rakyat Iran bahwa sekarang “bola ada di tangan Anda”—memberi sinyal bahwa bagian empat harus dilanjutkan: pengambilalihan oleh orang-orang yang bersekutu dengan Washington dan Tel Aviv. Tapi itu tidak terjadi.
Jadi bagian empat dari rencana itu tidak berhasil. Rakyat Iran bersatu dan melawan. Di bawah hukum PBB, mereka memiliki hak hukum penuh untuk menanggapi serangan ilegal. Mereka melakukan serangan defensif untuk melumpuhkan pangkalan militer di sekitar teluk yang menyerang mereka, dan mereka menutup Selat Hormuz.
Trump ngeri dan marah—bukan kepada Iran, tetapi kepada Netanyahu dan Barnea, kepala Mossad.
Dan ini menjelaskan mengapa ia terus membuat pernyataan yang kontradiktif—ia terus mengatakan hal-hal yang menyiratkan bahwa perang akan berakhir dengan sangat cepat, seperti yang dikatakan rencana awal, sambil juga mengakui bahwa yang terjadi adalah sebaliknya.
Ingat bagaimana ia menggunakan frasa “ekskursi jangka pendek”. Ia juga mengatakan perang hanya akan berlangsung empat hari. Dan ia juga mengatakan perang “sudah berakhir”. Dan seterusnya.
Jadi kita bisa melihat bahwa rencana tersebut, seperti yang dijual kepadanya, adalah operasi “masuk-dan-keluar” yang cepat, persis seperti yang terjadi di Venezuela—jadi itulah yang ada di kepalanya.
Netanyahu, yang merasa sangat malu karena telah membantu menjual perang kepada Trump yang ternyata lepas kendali, bersembunyi—ia bersembunyi begitu dalam sehingga beredar rumor yang mengatakan bahwa ia telah tewas.
Bagi Mossad dan CIA, plot tersebut gagal. Ada pepatah kuno yang diketahui oleh semua komplotan: “Jika Anda akan menembak raja, Anda lebih baik membunuh raja itu.”
Apa yang dilakukan AS dan Israel adalah menembak kepemimpinan Iran. Tetapi mereka gagal membunuh kepemimpinan (semangat kolektif) Iran.
Jadi sekarang mereka dalam kesulitan.
Dan tahukah Anda? Saya rasa tidak ada rasa simpati bagi mereka. ***