DEMOCRAZY.ID – Di tengah eskalasi perang yang terus berkecamuk, kebrutalan sistematis kembali dipertontonkan oleh militer dan pemukim ekstremis Israel di Tepi Barat yang diduduki.
Alih-alih menegakkan hukum, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) justru tertangkap basah bertindak sebagai pelindung bagi kelompok pemukim ilegal, seraya melakukan kekerasan fisik terhadap warga sipil Palestina dan membungkam kebebasan pers dengan menyerang kru televisi internasional, CNN.
Insiden memalukan ini bermula ketika sekelompok pemukim Israel secara brutal menyerang sejumlah warga Palestina dan mendirikan pos pemukiman ilegal baru di Desa Tayasir.
Dua belas jam pasca-penyerbuan tersebut, militer Israel akhirnya tiba di lokasi.
Namun, harapan akan adanya penegakan hukum seketika sirna.
Ketimbang menahan para pemukim atau membongkar pos ilegal yang melanggar hukum internasional tersebut, moncong senjata tentara Israel justru diarahkan kepada penduduk asli Palestina dan tim jurnalis CNN yang tengah meliput invasi tersebut.
Arogansi berseragam ini terekam jelas dalam insiden yang mencekam.
“Berhenti! Duduk! Duduk!” bentak salah seorang tentara Israel dengan senapan laras panjang yang dibidikkan langsung ke arah kru CNN dan warga Palestina yang sedang diwawancarai.
Hanya berselang 73 detik kemudian, tindak kekerasan fisik terjadi.
Salah satu tentara merangsek dari belakang dan langsung mencekik leher (chokehold) jurnalis foto CNN, Cyril Theophilos.
Sang jurnalis dibanting ke tanah, sementara kamera yang menjadi alat kerjanya dirusak secara paksa.
Tidak berhenti di situ, dalam hitungan menit, tim jurnalis beserta beberapa warga Palestina langsung ditahan oleh pihak militer tanpa alasan yang sah.
Selama dua jam masa penahanan sewenang-wenang tersebut, tabir ideologis yang mengakar di tubuh militer Israel di Tepi Barat perlahan terkuak.
Para tentara ini secara terang-terangan menunjukkan bahwa mereka beroperasi untuk melayani dan memuluskan agenda gerakan pemukim ekstremis.
Seorang tentara Israel yang mengidentifikasi dirinya sebagai Meir, secara blak-blakan mengakui bahwa pos pemukiman yang ia jaga di Tayasir adalah ilegal, bahkan menurut hukum negara Israel sendiri—yang ironisnya kerap melegalkan pemukiman yang melanggar hukum internasional.
”Namun ini akan menjadi pemukiman yang legal,” ujar Meir dengan nada yakin. “Pelan-pelan.”
Ketika dikonfirmasi apakah keberadaannya di sana untuk mewujudkan legalisasi perampasan tanah tersebut, Meir menjawab tanpa ragu, “Tentu saja… Saya membantu bangsa saya.”
Pernyataan Meir adalah cerminan sempurna dari ‘buku pedoman’ (playbook) para pemukim Israel: bangun pos di atas tanah Palestina, berlindung di balik militer yang tutup mata atau bahkan membantu, lalu tunggu dekrit pemerintah untuk melegalkan perampasan tersebut.
Fakta di lapangan menunjukkan, pemerintahan sayap kanan ekstrem Israel saat ini telah melegalkan puluhan pos terdepan semacam itu sejak peristiwa 7 Oktober 2023.
Lebih mengerikan lagi, Meir dan tentara yang mencekik Theophilos berulang kali mendeklarasikan pandangan rasialis mereka.
Menggema retorika menteri-menteri sayap kanan Israel, mereka mengklaim bahwa seluruh Tepi Barat adalah milik Israel dan kaum Yahudi, melabeli semua warga Palestina sebagai teroris, dan secara terbuka berbicara tentang balas dendam.
Para tentara tersebut berdalih bahwa aksi mereka didorong oleh kematian rekan mereka, Yehuda Sherman, seorang pemukim Israel berusia 18 tahun.
Otoritas Israel mengklaim Sherman tewas ditabrak oleh pengemudi Palestina menggunakan ATV.
Namun, warga Palestina setempat membantah keras narasi tersebut dan menyatakan bahwa Sherman saat itu sedang berusaha mencuri domba milik warga Palestina.
”Jika Anda punya saudara laki-laki dan mereka membunuhnya, apa yang akan Anda lakukan?” tanya salah satu tentara dengan nada provokatif.
Ketika ditanya apakah ini murni ajang balas dendam, Meir menjawab singkat, “Balas dendam.”
Ia bahkan membenarkan tindakan tentara yang main hakim sendiri dengan alasan bahwa negara dianggap gagal menangani pembunuhan kaum muda mereka.
Dampak dari “balas dendam” dan kolusi militer-pemukim ini tergambar tragis pada sosok Abdullah Daraghmeh.
Pria renta berusia 75 tahun itu kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan wajah babak belur, tengkorak retak, tulang wajah patah, dan gigi rontok akibat penganiayaan brutal.
Keluarga dan saksi mata di Tayasir membeberkan bahwa gerombolan pemukim menyerbu rumah Daraghmeh di tengah malam buta dan memukulinya tanpa ampun.
“Dia sedang tidur,” ungkap putranya, Sami Daraghmeh, yang menemukan sang ayah bersimbah darah. “Ini benar-benar tidak normal.”
Menurut warga, pemukim ekstremis menyerbu Tayasir pada Kamis dini hari, melepaskan tembakan ke udara, dan menganiaya sejumlah warga.
Menjelang fajar, sebuah pos pemukiman ilegal baru telah berdiri tegak di desa mereka, mengusir rasa aman yang tersisa.
Ketidakmampuan—atau ketidakmauan—militer Israel untuk mengusir pemukim ilegal membuat warga Palestina hidup dalam teror permanen.
Imad Dabak, seorang penduduk Tayasir, terpaksa mengevakuasi keluarganya karena pos ilegal itu kini berada tepat di dekat rumahnya.
”Ini rumah saya, dan saya tidak berani tidur di dalamnya. Saya membawa anak-anak saya dan pergi malam ini,” keluh Dabak dengan tatapan putus asa.
Bagi Dabak, melawan secara fisik adalah bunuh diri. Jika ia menyentuh para pemukim, ia akan ditangkap polisi Israel, dipenjara, atau bahkan dibunuh.
“Jika mereka datang, saya hanya akan memegang ponsel dan merekam… Kamera adalah satu-satunya senjata saya. Ini satu-satunya hal yang dapat membuktikan bahwa saya tidak bersalah,” tegasnya.
Menanggapi laporan yang menyudutkan ini, pihak militer Israel (IDF) mengeluarkan pernyataan normatif kepada CNN, mengklaim bahwa perilaku para tentara tersebut “tidak sejalan dengan apa yang diharapkan dari prajurit IDF”.
Mereka berjanji akan melakukan “peninjauan menyeluruh”.
Kendati demikian, IDF bungkam seribu bahasa ketika ditanya mengenai status pos pemukiman ilegal di Tayasir dan lonjakan drastis kekerasan pemukim di Tepi Barat yang semakin tak terkendali di tengah sorotan perang dengan Iran.