DEMOCRAZY.ID – Harapan besar Israel dan Amerika Serikat untuk segera memanggil Rezim Iran kini menemui jalan buntu setelah munculnya penilaian terbaru dari pihak Intelejen Rezim Zionist.
Laporan mengejutkan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Mossad, David Barnea, yang memperkirakan bahwa pergantian kekuasaan di negara saingan mereka itu masih sangat jauh dari kenyataan.
Fakta pahit di lapangan ini seakan menjadi kejutan keras bagi Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang sebelumnya sangat percaya diri bisa memenangkan perang dalam waktu singkat.
Prediksi pesimis mengenai masa depan konflik geopolitik ini diungkapkan oleh bos intelijen luar negeri Israel tersebut saat memberikan pengarahan khusus kepada jajaran kabinetnya.
Dalam rapat tertutup itu, ia menegaskan bahwa proses untuk mengukur pemerintahan yang sedang berkuasa di Teheran dan menerapkan perubahan mendasar kemungkinan besar akan memakan waktu yang lama.
Pernyataan realistis ini sontak menjadi seperti guyuran air dingin bagi pemerintahan sayap kanan Tel Aviv maupun para pejabat tinggi di Washington.
Kedua negara sekutu tersebut selama ini sangat mengharapkan terjadinya keruntuhan politik yang serba cepat setelah rentetan operasi militer mematikan yang mereka lancarkan di kawasan tersebut.
Menurut berbagai sumber berita yang mengetahui detail rapat tersebut, sang kepala intelijen menekankan bahwa kudeta militer atau serangan dari luar saja tidak akan cukup.
Ia menjelaskan bahwa pergantian rezim memerlukan sebuah proses panjang di mana elemen publik dan dinamika internal di dalam negara tersebut harus diorganisasikan dengan matang.
Penilaian strategi ini secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa operasi militer instan yang selama ini dibanggakan oleh pihak Barat belum mampu mencapai tujuan utama mereka.
Akibatnya, pihak Israel dan Amerika Serikat kini dituntut untuk segera mengubah strategi mereka di Timur Tengah menjadi pendekatan yang jauh lebih berjangka panjang dan ekstra hati-hati.
Sumber: Suara