DEMOCRAZY.ID – Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan mulai merenggang di tengah memanasnya eskalasi Perang Iran.
Perbedaan sikap ini muncul setelah Washington mulai mengintensifkan pesan diplomasi untuk segera mengakhiri konflik demi menormalkan kembali arus lalu lintas energi global di Selat Hormuz.
Alih-alih sejalan dengan sekutu utamanya, Rezim Zionis justru mengambil langkah provokatif yang sangat berisiko memicu pertempuran destruktif berskala penuh.
Laporan terbaru dari media Turki, Haberler menyebutkan bahwa pemimpin Israel tersebut malah menghitung pasukannya untuk melancarkan serangan besar-besaran dalam kurun waktu 48 jam ke depan.
Instruksi militer mendadak ini terfokus pada satu tujuan utama, yakni menghancurkan industri persenjataan Teheran secara total hingga tak bersisa.
Keputusan yang kontradiktif ini semakin mempertegas adanya intimidasi secara strategis antara pemerintah di Tel Aviv dan Washington.
Ketika pemerintah AS mendesak pembukaan kembali jalur pelayaran minyak, Israel tetap berjanji ingin mematikan infrastruktur nuklir serta lawan militer secara permanen.
Sebelum instruksi serangan ini turun, pihak Washington sempat secara sepihak mengeklaim bahwa mereka telah mencapai kesepakatan 15 poin dengan tokoh-tokoh kunci di Teheran.
Klaim dari AS yang menyebut lawan telah bersedia menghentikan kepemilikan senjata nuklir itu langsung dibantah secara mentah-mentah oleh Kementerian Luar Negeri maupun pihak militer Iran.
Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya dari Korps Garda Revolusi Iran, Ibrahim Zulfiqari, secara terbuka memberikan balasan menohok atas klaim sepihak tersebut.
“Jangan mencoba menampilkan kegagalanmu sebagai sebuah kesepakatan. Orang-orang seperti kami tidak akan pernah bisa berkompromi dengan orang-orang sepertimu. Baik sekarang maupun nanti,” kata Khatam al-Anbiya.
Di sisi lain, media lokal Israel juga sempat melaporkan bahwa skenario tercapainya kesepakatan cepat antara AS dan Iran telah membuat para pemimpin mereka terjaga di malam hari.
Mereka sangat khawatir bahwa penguatan perang secara terburu-buru sebelum syarat-syaratnya ditentukan secara jelas justru akan membuat pihak lawan berada di atas angin.
Rangkaian konflik mematikan ini sendiri mulai meledak ketika pasukan gabungan AS dan Israel melancarkan invasi udara pada tanggal 28 Februari lalu di tengah proses negosiasi.
Operasi yang memasang mantan pemimpin spiritual Ali Khamenei itu langsung memicu balasan rentetan rudal ke berbagai pangkalan militer AS di Israel, Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Bahrain.
Sumber: Suara