Inilah Yang Akan Terjadi Setelah 5 Hari Jika AS dan Iran ‘Tak Capai’ Kesepakatan

DEMOCRAZY.ID – Periode jeda lima hari yang diumumkan Presiden AS Donald Trump untuk menunda serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran akan berakhir pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Jeda ini disebut Trump sebagai hasil “percakapan produktif”, namun Teheran menolaknya dan menganggapnya sebagai taktik psikologis.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa tidak ada negosiasi dengan Washington.

Iran hanya akan menerima perdamaian berdasarkan syaratnya sendiri.

Jika tidak ada kesepakatan hingga batas waktu tersebut, sejumlah skenario besar berpotensi terjadi.

Pertama, serangan AS-Israel terhadap infrastruktur energi Iran kemungkinan akan kembali dilanjutkan.

Trump sebelumnya mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya.

Jika serangan terjadi, dampaknya bisa berupa pemadaman listrik massal, terganggunya aktivitas industri, dan lumpuhnya kehidupan jutaan warga.

Iran telah memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas sipil akan dibalas dengan serangan ke instalasi energi di Israel dan negara-negara Teluk.

Kedua, kondisi Selat Hormuz berpotensi semakin memburuk.

Jalur yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia ini bisa semakin tidak aman akibat ancaman ranjau laut dan serangan terhadap kapal-kapal yang dianggap musuh.

Jika hal ini terjadi, lalu lintas tanker global bisa terganggu serius.

Dampaknya sudah mulai terasa, dengan lonjakan harga minyak dan tekanan energi di berbagai negara, termasuk Filipina yang telah menetapkan darurat energi, serta India yang mengalami gangguan pasokan LPG.

Negara lain di Asia, termasuk Indonesia, juga berpotensi terdampak.

Ketiga, respons militer Iran diperkirakan akan semakin intens.

IRGC bersama angkatan bersenjata Iran telah menunjukkan kemampuan dalam penggunaan rudal balistik dan drone.

Mereka mengancam akan menargetkan basis militer AS serta infrastruktur penting di kawasan Teluk jika serangan berlanjut.

Kebijakan “perlawanan” atau muqawama yang ditekankan Araghchi menunjukkan bahwa Iran tidak akan menerima tuntutan maksimal dari AS, termasuk pembatasan program nuklir dan rudal.

Keempat, krisis kemanusiaan dan ekonomi regional berisiko semakin memburuk.

Serangan lanjutan dapat meningkatkan jumlah korban sipil, memicu pengungsian, serta memperparah gangguan rantai pasok global.

Upaya diplomasi melalui mediator seperti Pakistan, Oman, dan Mesir sejauh ini belum menunjukkan kemajuan signifikan.

Iran tetap bersikukuh menuntut penghentian agresi total, kompensasi perang, pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz, serta jaminan keamanan di masa depan.

Bagi Iran, jeda lima hari ini justru dipandang sebagai tanda tekanan terhadap AS, baik dari pasar global maupun ancaman balasan militer Teheran.

Araghchi kembali menegaskan bahwa Iran tidak berniat bernegosiasi dengan pihak yang dianggap sebagai musuh.

Jika AS tetap melanjutkan operasi militernya setelah batas waktu berakhir, kawasan Timur Tengah berpotensi memasuki fase eskalasi yang lebih luas dan berisiko tinggi.

Dunia kini menanti apakah jalur diplomasi akan kembali dibuka, atau konflik justru semakin meluas dengan dampak global yang lebih besar.

Artikel terkait lainnya