Operasi Senyap Berantakan: Cara AS Cegah Israel Bunuh Menlu Iran Berkat ‘Bisikan’ Pakistan

DEMOCRAZY.ID – Timur Tengah nyaris terjerumus ke dalam jurang perang total yang tak terkendali.

Rencana rahasia militer Israel untuk menghabisi dua tokoh sentral dalam pemerintahan Iran—Menteri Luar Negeri Abbas Aragchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf—berhasil digagalkan pada detik-detik terakhir.

Menariknya, penyelamat situasi ini bukanlah sistem pertahanan canggih, melainkan informasi intelijen akurat dari Pakistan.

​Berdasarkan keterangan seorang pejabat tinggi Pakistan kepada Reuters, militer dan intelijen Israel ternyata sudah mengantongi koordinat pasti dari pergerakan Aragchi dan Ghalibaf.

Rencana eksekusi serangan mematikan itu sudah sangat matang. Namun, operasi senyap tingkat tinggi tersebut bocor ke telinga intelijen Pakistan.

​​Peringatan Keras dari Islamabad

Menyadari bahaya geopolitik besar yang mengintai di depan mata, Islamabad tidak tinggal diam.

Mereka langsung memainkan kartu diplomasi tingkat tingginya dengan segera menghubungi sekutu utama Israel, yakni Amerika Serikat (AS).

​Pesan dari Pakistan ke Washington sangat lugas, logis, dan menohok: Jika Israel nekat membunuh Abbas Aragchi dan Ghalibaf, maka AS dan pihak Barat akan kehilangan satu-satunya jembatan diplomasi yang tersisa di Teheran.

​”Pakistan memberi tahu AS bahwa jika Israel membunuh Abbas Aragchi dan Ghalibaf, tidak akan ada lagi orang yang tersisa di Iran untuk diajak bicara,” ungkap pejabat Pakistan tersebut.

​Ancaman Dominasi Garis Keras IRGC

​Kekhawatiran utama Pakistan, yang kemudian diamini oleh Washington, adalah kekosongan kekuasaan di jalur politik Iran.

Jika tokoh-tokoh moderat dan birokrat seperti Aragchi tewas, Pakistan memperingatkan bahwa kendali pemerintahan akan jatuh sepenuhnya ke tangan faksi militer paling radikal.

Perhitungkan Besarnya Kerugian, Pakar: Kecil Kemungkinan Negara Lain Bantu AS Gempur Iran

​”Iran akan diambil alih sepenuhnya oleh para komandan garis keras IRGC (Korps Garda Revolusi Islam),” tambah sumber tersebut.

​Bagi dunia internasional, Abbas Aragchi dikenal sebagai wajah diplomasi Iran yang pragmatis, terutama berkat rekam jejaknya dalam berbagai negosiasi nuklir.

Sementara itu, Ghalibaf, meski berakar kuat di kelompok konservatif, tetap dipandang sebagai politisi rasional yang masih menghormati instrumen diplomasi negara.

​Intervensi Washington di Menit Terakhir

​Peringatan ini menjadi tamparan realitas bagi Gedung Putih. AS menyadari betul skenario mimpi buruk yang dibeberkan Pakistan.

Jika faksi sayap kanan militer IRGC memegang kendali penuh tanpa ada penyeimbang dari kubu diplomat, maka opsi negosiasi apa pun di masa depan akan hangus tak bersisa.

IRGC dikenal jauh lebih memilih bahasa senjata dan eskalasi ketimbang duduk di meja perundingan.

​Merespons ‘bisikan’ krusial intelijen Pakistan tersebut, pemerintahan AS langsung bergerak cepat.

Washington melakukan intervensi keras dan menekan Tel Aviv secara intensif agar segera membatalkan rencana serangan udara tersebut.

​Langkah tegas Washington ini akhirnya memaksa Israel menarik mundur telunjuknya dari pelatuk.

Nyawa Aragchi dan Ghalibaf terselamatkan, sekaligus mencegah kawasan Timur Tengah meledak menjadi arena perang proksi skala penuh yang jauh lebih destruktif.

Batalnya operasi ini kembali menegaskan betapa rapuhnya situasi keamanan global saat ini, di mana nasib jutaan nyawa kerap kali ditentukan oleh diplomasi rahasia di balik layar.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya