Pengamat Nilai Prabowo Ngotot terhadap Programnya: Bikin Partai Diam hingga Singgung ‘Kepala Batu’

DEMOCRAZY.ID – Sikap partai-partai politik di sekitar Presiden Prabowo Subianto yang cenderung minim kritik terhadap sejumlah program pemerintah menuai sorotan.

Pengamat politik Yunarto Wijaya menilai, fenomena tersebut tidak bisa dilepaskan dari karakter kepemimpinan Prabowo yang dinilai sangat kuat dalam mempertahankan program-program utamanya.

Yunarto menyoroti, sejumlah isu strategis seperti kebijakan fiskal hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejauh ini jarang mendapatkan kritik terbuka dari partai koalisi.

“Kalau berbicara mengenai potensi APBN, belanjanya bisa dikatakan terlalu ugal-ugalan, pendapatan juga terus turun,” kata Yunarto dalam podcast Gercep (Gerak Cerita Politik) di Youtube @HarianKompasCetak, tayang perdana pada Selasa (24/3/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut semestinya menjadi ruang bagi partai politik untuk menyampaikan kritik atau masukan.

Namun yang terjadi justru sebaliknya, partai-partai terlihat memilih diam.

Ia pun mengangkat spekulasi yang berkembang di publik, apakah sikap diam itu didorong rasa takut atau justru strategi politik tertentu.

“Diam itu pilihannya apakah karena takut atau jangan-jangan menjerumuskan,” kata dia.

Direktur Eksekutif Charta Politika itu menilai faktor ketakutan lebih dominan dibandingkan dugaan adanya upaya menjatuhkan dari dalam.

Ia menjelaskan, saat ini terdapat kecenderungan situasi yang membuat kritik terhadap pemerintah terasa “membentur tembok”.

“Ada situasi yang menurut saya sekarang lebih terasa membentur tembok ketika kita ingin memberikan kritik,” ujarnya.

Yunarto bahkan membandingkan kondisi ini dengan era pemerintahan sebelumnya seperti Joko Widodo, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Megawati Soekarnoputri.

Menurutnya, pada periode-periode tersebut ruang kritik masih terasa lebih terbuka.

Ia menilai, Prabowo memiliki karakter yang sangat kukuh dalam mempertahankan kebijakan, bahkan ketika menuai kritik.

“Ini memang terlihat seorang kepala pemerintahan yang paling batu ketika ngotot tentang programnya,” kata Yunarto.

Sikap tersebut, lanjut dia, terlihat dari respons terhadap kritik, termasuk dalam program MBG.

Menurut Yunarto, respons yang cenderung keras terhadap kritik membuat pihak lain menjadi enggan untuk menyampaikan pandangan berbeda.

“Ketika nuansa keras kepala ini terasa, tentu saja nuansa ketakutan untuk menabrak itu juga lebih terasa,” ujarnya.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya